Petani, Pahlawan Ketahanan Pangan

16/03/2012 0 Comments

Oleh : H. Basir

Berdasarkan Undang-Undang Nomor 12 Tahun 1992 tentang Sistem Budidaya Tanaman, bahwa yang dimaksud petani adalah orang, baik yang mempunyai maupun tidak mempunyai lahan, yang mata pencaharian pokoknya mengusahakan lahan atau media tumbuh tanaman untuk budidaya.

Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS), bahwa jumlah petani di Indonesia sekitar 44,6 % dari total penduduk. Kondisi tersebut tidak serta merta membuat kelompok mayoritas ini menjadi sasaran prioritas dalam pembangunan manusia seutuhnya. Bahkan, keberadaanya sebagai pelaku utama pada sektor pertanian masih dipandang sebelah mata.

Mereka selalu dipermainkan oleh keadaan, seperti harga gabah yang rendah pada saat musim panen tiba, pupuk langka dengan harga yang membumbung tinggi ketika musim tanam, serta kondisi iklim yang tidak menentu. Semua itu otomatis akan sangat mempengaruhi produksi dan produktifitas usaha tani.

Akibatnya, tidak sedikit petani yang terlilit hutang untuk menutupi biaya produksi maupun biaya hidup lainnya, sementara hasil panen belum tentu mencukupi untuk melunasi hutangnya. Sangat ironis memang, nasib petani yang memberikan kontribusi sangat besar bagi pertumbuhan ekonomi.

Berdasarkan catatan Kementerian Pertanian, setiap tahun ada sekitar 25 juta rumah tangga petani memproduksi pangan, seperti padi, jagung, kedelai dan umbi-umbian dengan nilai sekitar 258 triliun rupiah.

Yang jadi pertanyaan, sudahkah kita menghargai jerih payah mereka? Ketika kita menikmati hidangan yang serba ada di atas meja makan, nasi, sayur mayur, lauk pauk dan sebagainya, hidangan yang membuat kita menjadi sehat dan cerdas, hidangan tersebut sering perut tidak bisa menampung makanan yang melimpah dan akhirnya mubazir.

Sementara di luar sana, di sawah yang baru dipanen, seorang petani terbungkuk-bungkuk memungut bulir-bulir sisa panen yang tercecer sekedar untuk mengganjal perut keluarganya. Seberapa pedulikah kita terhadap kesejahteraan mereka ketika kita lebih banyak mengkonsumsi produk-produk pangan import.

Petani di pundaknya hanya sebuah cangkul, di tubuhnya hanya cucuran peluh bercampur lumpur. Walaupun demikian, rasanya tidak berlebihan jika di dadanya kita sematkan predikat sebagai pahlawan karena berjuang dalam menghasilkan pangan untuk menghidupi seluruh masyarakat.

Sangatlah layak rasanya bila petani dianugerahi dengan sebutan sebagai pahlawan ketahanan pangan. Mungkin tidak banyak berpengaruh terhadap kesejahteraannya, tetapi paling tidak kita ataupun generasi kita selanjutnya akan bisa lebih menghargai jasa-jasa mereka.

Terima kasih petaniku karena kalianlah anak-anak kami dapat tumbuh menjadi sehat dan cerdas, yang akan menjadi pemimpin negeri ini di masa depan. Terima kasih pahlawan ketahanan pangan, teruslah berjuang, semoga hari esok menjadi lebih baik. ***

About author

Related articles

0 Comments

No Comments Yet!

You can be first to comment this post!

Leave a Reply