Serangan Tomcat Akibat Intervensi Manusia Pada Alam

29/03/2012 0 Comments

Wabah serangga tomcat membuat heboh masyarakat Indonesia saat ini. Serangga dengan nama latin Paederus littoralis (kumbang penjelajah) menyerang warga di sejumlah daerah.

Eva Latifah

 

Di Indonesia, Tomcat yang juga dikenal dengan nama Semut Semai ini adalah kelompok utama dari hewan beruas (Arthropoda) yang termasuk dalam keluarga besar kumbang (Staphylinidae).

Serangan serangga tomcat alias kumbang penjelajah merupakan indikator kuat kerusakan lingkungan. Alih fungsi lahan dan perubahan iklim diduga menjadi penyebab ledakan populasi serangga ini.

Akibat siklus biologi di alam terganggu, bisa jadi predator tomcat, seperti burung, tidak ada. Ketiadaan burung bisa disebabkan perburuan ataupun perubahan iklim sehingga burung pindah ke dataran lebih tinggi.

Kemudian selain itu, serangan tomcat juga bisa saja disebabkan intervensi manusia pada alam. Misalnya, pembukaan lahan dan pemakaian pestisida. Dengan demikian, sebetulnya serangga tersebut tidak berniat menyerang manusia. Tapi manusia sendiri yang menarik minat serangga ini untuk datang ke rumah mereka.

Serbuan serangga yang namanya serupa dengan pesawat tempur Tomcat F-14 ke sejumlah permukiman penduduk ditengarai bakal terjadi sepanjang musim pancaroba. Meski begitu, serangga tersebut biasanya akan hilang seiring berakhirnya musim pancaroba.

Tomcat sepanjang 1 cm yang menjadi predator wereng itu tertarik pada cahaya malam hari. Kumbang ini tidak menggigit, tetapi bila tergencet cairan tubuhnya yang mengandung racun paederin bisa menyebabkan iritasi kulit yang hebat.

Racun paederin ada di seluruh tubuh tomcat, kecuali di sayap. Iritasi kulit berupa dermatitis terjadi bila bersentuhan langsung dengan serangga atau secara tidak langsung, misalnya melalui handuk, baju, atau barang lain yang tercemar paederin.

Tomcat berkembang baik di lingkungan pesawahan. Namun, sejatinya kumbang penjelajah berwarna hitam dengan oranye itu sahabat petani karena bertindak sebagai predator hama wereng.

Jadi, upayanya bukan pemusnahan tomcat, melainkan pengendalian populasi. Pasalnya, kumbang ini memangsa hama wereng, larva, ulat bulu, kutu daun, lemut, apis dan mrutu.

Pengendalian populasi tomcat pun melalui penyemprotan pestisida organik dengan bahan daun mimbo, mahoni dan bawang putih. Atau dengan cara lain, yakni mengandalkan predator seperti cicak, kadal, biawak dan katak.

Tomcat Menyerang Warga di Sejumlah Daerah

Sebetulnya serangan serangga tomcat ke perumahan bukan baru kali ini saja terjadi. Tahun 2004 silam, serangga kecil ini menyerang ke perumahan warga di Gresik. Kemudian, tahun 2007, para pekerja di pengeboran minyak di lepas pantai utara Pulau Jawa, tepatnya dekat Karawang dan Indramayu, dilaporkan kulitnya melepuh setelah kena cairan dari serangga kecil berwarna hitam dan oranye.

Dan tahun 2012 ini, serangan tomcat menghebohkan warga di sejumlah daerah. Dari Surabaya dilaporkan, warga yang terkena racun tomcat tersebar di beberapa wilayah, mulai dari kawasan apartemen elite, perkampungan, hingga asrama mahasiswa.

Tomcat tidak hanya menyerang warga di wilayah pulau Jawa bagian Timur saja, namun juga di pulau Jawa bagian Barat, seperti Cilegon, Tangerang, Bogor, Bandung, Tasikmalaya, Pangandaran dan Kota Banjar.

Bahkan, di Kota Banjar serangan tomcat terjadi justru sebelum ramai pemberitaan di sejumlah televisi maupun media cetak. Seperti yang dialami keluarga Rita, warga Kel. Mekarsari, Kec. Banjar.

Sebelumnya, rasa panas dan gatal disertai dengan membengkaknya kulit hingga berwarna kemerahan dan berair seperti terbakar yang dialami salah satu dari tiga orang anaknya, diyakini Rita akibat terkena penyakit herpes. Kemudian anaknya pun diberi salep khusus untuk mengobati penyakit tersebut.

Namun, tidak lama berselang seluruh keluarganya juga mengalami hal serupa. Bahkan iritasi terjadi di beberapa bagian tubuh, seperti wajah, leher, kaki, dada maupun punggung.

Setelah adanya pemberitaan di televisi, barulah dia tahu bahwa ternyata apa yang dialami keluarganya bukan karena penyakit herpes, tapi akibat tomcat yang memang serangga tersebut kerap muncul di rumahnya, lantaran letak tempat tinggalnya berada di sekitar lahan pesawahan.

Dan baru-baru ini, serangga jenis tomcat juga mulai menyerang permukiman warga yang tinggal jauh dari areal pesawahan, seperti halnya di komplek perumahan Bumi Asri, Kel/Kec. Banjar. Menurut Ayat, warga setempat, pada hari Sabtu (224/3), dirinya menemukan tomcat di rumahnya. Binatang kecil itu ditemukan setelah istrinya merasakan panas dan gatal pada bagian perutnya.

Untuk mengetahui wilayah mana saja di Kota Banjar yang diserang tomcat, maka HR mencoba menghubungi pejabat terkait di Dinas Kesehatan. Namun, hingga berita ini diturunkan, pejabat yang berwenang memberikan keterangan sedang rapat di luar kota. ***

About author

Related articles

0 Comments

No Comments Yet!

You can be first to comment this post!