Tempo Doeloe Nasi Bungkus Goreng Bogo Sambel Tempe Makanan Khas Padaherang

29/03/2012 0 Comments

Stasiun kereta api Padaherang, tak sekedar tempat untuk mencari sesuap nasi berjualan nasi bungkus goreng bogo dan sambel tempe. Dari suatu masa, rangkaian kenangan mengendap dalam kenangan untuk bernostalgia ibu Mimi[60] kala itu berumur 15 tahun. Saat ditemui HR Mimi berceloteh ringan, tentang masa muda saat menjadi pedagang nasi bungkus bogo dan sambel tempe.

“Raoseun keneh zaman kapungkur (enak zaman doeloe), dulu mah serba murah makanan lokal, tidak memakai bumbu modern (kimia). Bahan jualan zaman dulu semuanya, dihasilkan dari daerah sendiri. Kualitas beras masih menggunakan pupuk organik, ikan bogo didapat dari rawa-rawa di wilayah Padaherang, malah sewaktu-waktu juga menjual goreng burung kuntul yang ditangkap di daerah pesawahan,” ujarnya.

Goreng bogo, goreng burung kuntul, dan sambel tempe dulu adalah makanan khas Padaherang. Berjualan dari rumah ke stasiun menggunakan obor, berjualan berjalan beriringan menuju tempat yang sama. Kala itu ayam belum berkokok, penjual nasi bungkus, goreng bogo, dan sambel tempe sudah ada di pinggir jalan raya dan stasiun Padaherang. Barang dagangan tak pernah bersisa setiap hari, karena pembelinya bukan hanya orang yang naik kereta api saja. Banyak orang dari luar yang ngadon makan ke Padaherang, kenangnya waktu itu. Ujar Mimi sambil menerawang mengingat soal makanan tempo doeloe. Suasana menjelang subuh stasiun Padaherang terang benderang oleh sinar pancaran sinar lampu patromak. Orang pun tak pernah sepi datang silih berganti, untuk membeli bogo goreng, bogo yang diunun (dendeng), atau yang mentahnya dijadikan oleh-oleh.

Mantan kepala stasiun Padaherang Haerudin (73), menceritakan nostalgianya sewaktu berdinas mengatur lalu lintas K.A. Uap Banjar-Cijulang kala itu. Dahulu stasiun Padaherang itu ramai, karena menjadi tempat tunggu kereta api yang berpapasan dari Banjar dan Cijulang. Saat itu para penumpang mencari makan nasi bungkus (timbel) goreng bogo dan sambel tempe. Makanan lokal di stasiun jurusan Banjar Cijulang. Di stasiun Banjarsari makanan lokal yang menjadi favoritnya buah nangka besar yang beraroma wangi dan manis. Juga rebus biji nangka (beton) yang pulen, Stasiun Ciganjeung rebus pisang tanduk (cau lampeneng) yang manis, pisang nangka yang manis-asam, stasiun Kalipucang gorengan rebon (udang kecil) dan terasi udang.

Pandangan Haerudin, tentang Padaherang sekarang yang semrawut dengan hilir mudik kendaraan roda empat dan roda dua. Apalagi bila musim libur tiba, dari Padaherang ke Pangandaran begitu ramainya. Dengan wisatawan yang melalui daerah itu. Bikin pusing bila berada di jalan raya, dari pagi sampai malam tak pernah sepi.

Hj. Acih (68) yang pernah menjadi pedagang nasi timbel goreng bogo dan sambel tempe, sekarang makan lokal itu sulit di dapat di Padaherang. Penjual makan khas Padaherang sekarang, yang berjualan hanya ibu Iis, yang menjual nasi timbel, goreng bogo, sambel tempe dan nasi puritan (jeroan ikan di pais di campur dengan nasi dengan bumbu rempah-rempah). Dulu ceritanya sekali menjala ikan bogo di rawa sudah cukup, untuk dijual bogo dijadikan bogo goreng bisa menghidupi keluarga dan hasilnya bisa ditabung untuk keperluan hidup lainnya. Sekarang ikan bogo tak sebanyak dulu di rawa-rawa Padaherang, tapi masih  ada bahkan yang menjaring atau memancing banyak berdatangan dari luar daerah seperti dari Tasikmalaya, Ciamis, Banjar, Banjarsari dan Lakbok bila liburan. (Madlani)

About author

Related articles

0 Comments

No Comments Yet!

You can be first to comment this post!