Dewan Pers: Wartawan Jangan Salahgunakan Profesi!

12/04/2012 0 Comments

Dalam Penulisan Berita, Penggunaan Bahasa Indonesia Harus Lebih Ditekankan

Wali Kota Tasikmlaya, H. Syarif, berpoto bersama jajaran pengurus PWI, saat Diklat PWI yang berlangsung di Kota Tasikmalaya. Foto : Edji Darsono/HR.

News, (harapanrakyat.com),- Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Jawa Barat (Jabar) bersama PWI Perwakilan Kota Tasikmalaya menggelar pendidikan dan latihan (diklat) wartawan tingkat dasar, di Pendopo Kota Tasikmalaya, Sabtu, (7/4).

Dalam kesempatan itu, Ketua PWI Jabar, Drs. H. Mirja Jauhari, menegaskan, pendidikan dan pelatihan wartawan tingkat dasar merupakan pendidikan internal, serta uji kompetensi wartawan, juga syarat untuk menjadi anggota PWI.

Pada momen yang sama, Wali Kota Tasikmalaya, Drs. H. Syarif Hidayat, M.Si., mengatakan, wartawan adalah profesi yang mempunyai ciri dan diakui oleh pemerintah, wartawan juga memiliki asosiasi dan dapat menghasilkan uang.

Sementara itu, Wakil Kepala Pusat Data Redaksi Pikiran Rakyat (PR), Drs. Imam Jahrudin Priyanto, mengungkapkan, dalam penulisan berita, wartawan harus menggunakan bahasa yang lugas.

Menurut dia, untuk mencapai bahasa lugas, penulisan berita harus memakai kalaimat pendek, menghindari prase yang tidak praktis, menghindari pengulangan, menghindari kalimat paksa, memilih diksi secara tepat, terakhir menggunakan bahasa Indonesia.

Imam menambahkan, pengutamaan penggunaan bahasa Indonesia hendaknya didukung oleh semua kalangan. Terlebih hal itu diatur dalam Undang-undang (UU) RI nomor 24 Tahun 2009. Isinya, bahasa Indonesia adalah Bahasa Nasional (Sumpah Pemuda 1928) dan bahasa negara Undang-Undang Dasar (UUD) 1945.

Dia juga mengaku prihatin, dalam penulisan berita, banyak kalangan wartawan yang menggunakan bahasa inggris. Padahal, lebih baik jika bahasa Indonesia lebih ditekankan dalam penulisan berita.

“Karena itu, sebagai bukti kecintaan terhadap negara. Selain itu, dihimbau juga agar wartawan bisa mentransfer ilmu pengetahuan yang sudah diterjemahkan, sehingga enak dibaca,” katanya.

Senada dengan itu, Anggota Dewan Pers, Muhammad Ridlo`eisy, mengatakan, untuk memperkecil resiko, setiap wartawan perlu memahami dan mengetahui Undang-undang (UU).

Di samping itu, dia juga menekankan agar wartawan melakukan verifikasi dan konfirmasi kepada narasumber, agar berita yang ditulis menjadi berita yang berimbang, akurat, dan tidak beritikad buruk.

“Profesional dalam melaksanakan tugas jurnalistik. Dan diharapkan agar wartawan tidak menyalahgunakan profesinya,” pungkasnya. (dji)

About author

Related articles

0 Comments

No Comments Yet!

You can be first to comment this post!

Leave a Reply