Pertahankan Sistem Pendidikan “Klasik” dengan Sarana Modern

Pertahankan Sistem Pendidikan “Klasik” dengan Sarana Modern

(Ponpes Gegempalan)

Dian Sholeh Wardiana Putra

Bila kita telusuri jalan menuju ke arah utara dari Kab. Ciamis, yang terletak di tepi sungai Cimuntur, di tengah pesawahan antara bukit Arpin dan bukit Sukajaya, dengan jarak tempuh sekitar 6 kilometer dari Situ Panjalu, dapat kita jumpai pondok pesantren Gegempalan yang sudah berkembang, dan seolah tidak mau ketinggalan perkembangan modernisasi.

Menurut Pengasuh Ponpes Gegempalan, Drs KH. Saepul Ujun, Senin, (2/4), mengatakan, Ponpes Gegempalan berasal dari dua kata yaitu gegem yang artinya banyak, dan palan artinya hafal-hafalan. Dengan nama tersebut santri memiliki banyak hafalan dan keunggulan berbagai ilmu pengetahuan.

Ponpes Gegempalan, lanjut Saepul, didirikan pada tahun 1927, di dusun Sukajadi Desa Maparah Kec. Panjalu. Pendirinya K.H Zaenal Abidin (Alm), sekaligus sebagai pimpinan, kemudian pada tahun 1949, kepemimpinanya diteruskan oleh KH. Zaenal Arifian, KH Diding Z Badrudin, dan pengasuh ponpesnya K.H Saepul Ujun.

Sistem pendidikan yang diterapkan di ponpes ini adalah dengan sistem klasikal, bandongan dan sorogan. Hal tersebut didasarkan pada tingkat pendidikan formal yang berada di lingkungan pesantren. Namun, pihak pesantren juga tidak membatasi santri yang merasa mampu untuk pindah ke kelas yang lebih tinggi.

Kitab yang diajarkan di ponpes tersebut, diantaranya Fikih, yang meliputi Safinah, Fathul Qorib, Sulam Annajat Fathul Mu’in, Kifayatul akhyar, Bajuri, Riyad Badiah,  dan masih banyak lagi yang lainnya.

Selain Kitab Fikih, di para santir juga diajarkan kitab akhlak, Nahwu, Sharaf, Hadits, Balaghoh, Ushul Fikih, tafsir, dan bimbingan tilawatil Quran, serta belajar keterampilan berpidato demi mengasah ilmu yang telah dipelajari serta dalam pengujian mental.

Ujun menambahkan, karena kondisi yang semakin maju dan berkembang, akhirnya pada tahun 1952 ponpes gegmpalan melengkapi dengan mendirikan lembaga pendidikan formal yaitu Sekolah Masyarakat Desa (SMD).

Kemudian pada tahun 1961, pihak Ponpes juga mendirikan Madrasah Tsanawiyah (MTs). Pada tahun 1981, Madrasah Ibtidaiyah (MI), dan pada tahun 1988, mendirikan Madrasah Aliyah (MA). Bahkan sekarang ini, untuk MTs dan MA ststusnya sudah berubah menjadi Negeri.

Ponpes Gegempalan, pengakuan sebagai lembaga pendidikan yang berkualitas tidak hanya datang dari masyarakat saja, akan tetapi pemerintah pun mengakuinya. Bentuk pengakuan itu diperlihatkan dengan mengubah nama MTs dan MA menjadi sekolah Negeri di Kab. Ciamis.

“Walaupun sekarang pesantren ini kelihatannya sudah modern, akan tetapi saya tetap mengutamakan pengajaran Salafiyah. Artinya, pembelajaran kitab klasik tidak akan ditinggalkan,” ujarnya.

Saat ini, jumlah santri di Popnes Gegempalan mencapai 500 orang. 80 persen santri diantaranya berasal dari Kab. Ciamis, sementara 20 persen lainnya dari luar kabupaten. Para santri dibimbing langsung oleh pengasuh, dewan kiyai, enam orang ustadz dan tiga orang ustadzah.

Di samping itu, sarana dan prasarana yang terdapat di Ponpes ini diantaranya, dua asrama putera masing-masing dua lantai, dua asrama puteri, ruang pengajian, ruang kantor pengurus santri, kantin pesantren, lapangan olahraga, laboratorium bahasa (Audio Visual).

Kemudian untuk praktek, ada juga kandang domba dan sapi, kolam ikan, lahan pertanian berupa sawah dan sarana lain untuk menambah keterampilan para santri. Khusus di bidang pertanian, saat ini santri ponpes gegempalan tengah mengembangkan budi daya cabai, mentimun, dan tomat, yang lokasinya di daerah Cipanjalu. Sementara dalam bidang peternakannya lebih kepada ternak sapi, domba, dan ayam.

Dengan Visi “Mencetak kader-kader bangsa yang berkualitas dan berakhlakul karimah,” menjadi salah satu landasan untuk ponpes mengembangkan dan memajukan pendidikan kepada penerus agama dan bangsa.

“Kita akan berusaha untuk menyiapkan para santri agar mampu menguasai ilmu agama sebagai modal dasar melakukan amaliyah kemasyarakatan dan ilmu umum untuk mewujudkan cita-cita hidup sehari-hari (Ma’isyah yaumiyah),” pungkasnya. ***

KOMENTAR ANDA

Komentar

Related articles