Semangat “Kartini Masa Kini”

26/04/2012 0 Comments

R.A.Kartini lahir pada 21 April 1894, berbicara Kartini tak pernah jauh dari soal emansipasi perempuan. Tokoh wanita masa kini umumnya berpendapat tentang hal ini, emansipasi perempuan pada masa kini secara umum membaik. Sebagai indikator, tokoh perempuan menyebutkan tentang adanya Undang-Undang politik untuk perempuan.

Perempuan juga memiliki kesempatan yang sama dengan laki-laki untuk mendapat hak pendidikan. “Hanya saja, kesetaraan itu baru terjadi di kota besar. Di desa, masih terkendala faktor cultural. Masih banyak perempuan yang tidak berani berpendapat atau berpendidikan tinggi karena takut melanggar adat.” Itu ungkapan para tokoh perempuan masa kini.

Sejak kepergiannya 108 tahun lalu, Raden Ajeung Kartini mungkin tak menyangka api perjuangan yang dikobarkan terus menyala tanpa tergerus waktu. Dari masa kemasa, buah pemikirannya bertahan dan mampu menginspirasi perempuan Indonesia dalam menjalani tuntutan perannya.

Tujuan yang visioner, Kartini menginginkan para perempuan pribumi memiliki pemikiran maju setara dengan perempuan-perempuan Eropa kala itu. Maklum, semasa Kartini hidup, perempuan Indonesia mengalami banyak keterbatasan untuk memperoleh pendidikan yang tinggi. Mereka belum memiliki kebebasan untuk mengembangkan diri seperti saat ini.

Perjuangan putri Bupati Jepara Raden Mas Sosroningrat ini tak lepas dari pengalamannya sendiri. Dia hanya dapat mengenyam pendidikan formal hingga usia 12 tahun di Europe Lagere Shool (E.L.S). Pasalnya, pada usia belia itu Kartini sudah harus dipingit sembari menunggu untuk dinikahin.

Di bawah tekanan tradisi di kala itu, Kartini tak patah arang. Semasa menjalani masa pingitan di rumah, dia menghilangkan rasa sedih dengan menjalani hobi membaca, baik dari buku maupun majalah, juga menulis surat dan berkorespondensi dengan orang-orang baru. Dari kegiatan positif inilah wawasan Kartini muda makin berkembang dan menguasai banyak ilmu pengetahuan.

Dia juga rajin menulis surat dan berkorespondensi dengan banyak pihak untuk menambah wawasan  dari orang baru. Termasuk JH Abendanon, menyangkut permohon beasiswa untuk studi di Belanda. Meski beasiswanya tidak sempat dimanfaatkan, Kartini selalu menemukan cara lain untuk mengisi hidupnya. Dia mendirikan taman pendidikan untuk mengajarkan baca tulis kepada para perempuan, yang diawali dengan mengumpulkan teman-temannya sendiri untuk mendapatkan pengajaran.

Di satu sisi, curahan hati dalam surat-surat pribadinya mampu memberikan inspirasi tentang pentingnya pendidikan dan kemandirian bagi seorang perempuan. Isi surat dan pemikirannya ternyata mulai mampu membangkitkan gerakan emansipasi perempuan pada dasawarsa pertama abad ke-20, kendati dia tak sempat mengecapnya.

Waktu terus bergulir. Langkah perjuangan Kartini telah menjadi pondasi yang membuat kaum perempuan semakin kuat dan mandiri. Perempuan perlahan-lahan semakin berani untuk tampil dan mengembangkan diri. Tidak hanya dalam lingkup domestik, tetapi juga berperan di masyarakat internasional. ***

About author

Related articles

0 Comments

No Comments Yet!

You can be first to comment this post!