Arti Sebatang Pohon

24/05/2012 0 Comments

Pembalakan liar dan pembukaan lahan baru buat industri pertanian, pertambangan, hingga permukiman mengakibatkan jumlah pohon menyusut. Peringatan Hari Bumi, yang jatuh pada Ahad bulan lalu, seharusnya bisa menjadi momen buat memperbaiki “paru-paru bumi”. Tak perlu muluk-muluk, cukup dengan menanam satu batang pohon, banyak manfaat bisa dirasakan kelak buat kehidupan sehari-hari di planet ini.

Manfaat dari sebatang pohon bisa menghasilkan rata-rata 1 juta biji-bijian per tahun buat burung, menyerap 1 ton Co2 per tahun, mampu menggerek nilai properti 5-20% tergantung harga jual tanah, mampu menyerap lebih dari 1.000 galon atau setara dengan 3.785 liter air per tahun, 8 bangku taman bisa diproduksi dari satu batang pohon, mampu memproduksi 117.9 kg oksigen per tahun atau setara dengan jumlah oksigen yang dihirup 1 keluarga yang terdiri atas 4 orang, 10-50% memangkas bayangan satu pohon.

Sebatang pohon yang ditanam selama 50 tahun: Mampu memproduksi air yang nilainya setara dengan US$ 37 ribu (Rp 339 juta), mampu mengendalikan erosi tanah yang bisa menghemat biaya US$ 31 ribu (Rp 284 juta), mampu mengontrol polusi udara yang nilainya setara dengan US$ 62 ribu (Rp 569 juta), mampu memproduksi oksigen yang nilainya setara dengan US$ 37 ribu (Rp 339 juta).

Untuk menyerap Co2yang setara dengan gas buang yang dihasilkan dari berkendaraan sejauh 52 juta mil atau 83 juta kilometer dibutuhkan sebanyak 2 juta pohon.

Di bukit itu saya bertemu dengan Memet, kemudian Jenal, kemudian Burhan. Hari masih pagi; matahari baru saja terbit. Di sebelah timur hanya cahaya jingga yang terbelah karena gelap masih tersisa di bukit itu. Memet tinggi dengan muka keras dan tajam seperti orang Papua yang berkulit agak gelap, memakai kaos oblong yang tampak lusuh tanpa alas kaki membawa gergaji mesin.

Jenal mengenakan jaket lusuh seragam sebuah ormas mirip tentara yang kedodoran, tubuhnya agak pendek tapi dengan corak wajah yang tak berbeda, membawa golok dan kampak. Burhan, bertopi loreng membawa linggis dan parang. Bukit itu banyak ditumbuhi pohon kayu keras seperti mahoni, rasamala, kitales dan banyak lagi jenis pohon di tempat itu.

Hari mulai terang, ternyata bukit itu sudah bukan hutan perawan lagi, tonggak pohon yang telah ditebang teronggok disana-sini. Disebelah barat tak banyak lagi tegakan pohon, matahari sudah mulai menyengat kulit suasana gersang sangat tersa ditambah rimbunnya ilalang. Saya berjalan ke arah barat, berpapasan dengan dua orang laki-laki satu gemuk warna kulit tidak hitam jelasnya sawo matang mukanya sangar, pengawalnya tinggi agak kurus.

Dari mana Mas? sapa si sangar pada saya, saya setelah subuh niatnya olah raga jalan ke bukit ini. Tapi saya tak kuat naik ke atas bukit, cape ujar saya. Si pengawal yang agak kurus menatap saya penuh curiga, dia pun bertanya pada saya dari kota yaa..? Iyaa ucap saya, ngapain ke sini orang gemuk yang berkulit sawa matang menjawab sebelum saya menjawabnya lagi olah raga dia kan bilang begitu tadi. Apa kamu engga dengar hardiknya, membentak si pengawal.

Waktu menunjukan pkl 10 pagi, cuaca mulai terasa panas, saya membuka jaket trening, saya memakai kaos lorong ciri pasukan khusus TNI lengkap dan logonya asal tahu saja kaos loreng itu pemberian keponakan saya yang anggota TNI. Tiba-tiba ketiga orang tadi berteriak memanggil Bos, mereka pun turun menghampiri kami bertiga. Disitu saya tahu bahwa ketiga orang itu masing-masing bernama Memet, Jenal, Burhan, sedangkan si Bos dipanggil Haji, pengawalnya bernama Dirin.

Setelah kami berkumpul jadi berenam si Bos bertanya, bapak dari aparat yaah. Saya jawab aah bukan, sontak mereka berlima menjadi sangat sopan padahal wajah mereka pada sangar-sangar. Maaf yaa.., saya mau turun mau bawa air minum di mobil. Ini ada air minum dirangsel ada juga roti. Kenalin nama saya pak, Haji Bobon ucap si bos. Saya jawab ooh iyaa….

Pak mari kita duduk berteduh itu saung, tempat berteduh orang sini. Memang cuaca pagi ini panas sekali, ucap si bos. He.. Dirin bersihin tempat itu, siap bos. Kami berenam berteduh di saung itu, air mineral setengah liter keluar dan beberapa potong roti. Langsung saya ambil minuman itu pemberian H Bobon dan saya meminumnya, dahaga pun sirna dan sepotong roti bisa mengganjal perut yang mulai keroncongan.

Memet bertanya, bos yang mana saja pohon yang ditebang sekarang. Tuuh yang diatas yang minggu lalu ditandai cat merah, pokoknya tebang untuk dua Fuso perintahnya. Memet, Jenal, dan Burhan pun bergegas naik ke bukit untuk melaksanakan tugas dai si Bos. Kami tinggal bertiga di saung itu.

Saya pun bertanya, berapa hektar bapak punya tanah di kawasan ini?. H Bobon pun menjawab, ini bukan punya saya lahan ini dulu sengketa dua puluh tahun lalu. Bukit ini pohon-pohon lebat ukuran lingkarannya paling kecil 50 cm, yang ditanam pada zaman Belanda siapa yang memanamnya tidak tahu siapa, ucap H Bobon.

Kenapa Bapak bisa bebas menebang disini, Tanya saya pada H Bobon. Begini Pak cerita panjang juga, waktu itu saya di tugasin bos besar untuk mengawasi penebangan disini. Sampai saya dihajikan sama bos besar, saya pun ditugaskan untuk menyampaikan bingkisan sama aparat disini. Tugas saya sekarang kalau ada apa-apa lapor sama bos besar di kota, ooh begitu ucap saya. Pekerjaan saya sekarang iseng-iseng saja bila ada dari tukang material perlu kayu hutan, sama saya diladeni dijual lumayan buat uang saku. Kasihan orang sini engga ada pekerjaan, bila tidak berladang atau mereka jadi buruh kasar. Jadi kalau saya nebang mereka itu punya duit lumayan laah, upahnya kata H. Bobon.

Saya hanya menolong mereka rakyat kecil perlu uang untuk makan, areal ini bapak tanami lagi tanya saya. Laah ini kan lahan sengketa, masa saya tanami lagi. Saya mah cuma ikut hidup dari bos besar saja. Urusannya mah saya engga tahu. Udalah kalau begitu saya pamit, terimakasih yaa. H.Bobon dan Dirin sang pengawal ikut mengantarkan saya ke jalan dan saya berpapasan dengan ibu-ibu, gadis desa dan anak kecil yang membawa air dari bawah, habis mandi dan mencuci.

Saya pun bertanya pada ibu-ibu itu, dari bawah ngambil air dari sungai kecil itu. Memang ada airnya, menampung disana bikin susumuran untuk menampung air. Airnya sebagian dibawa pulang untuk keperluan di rumah, jauh sekali cape yaa bu setiap hari ngambil ke sungai. Iyaa Pak, tapi dulu masih hutan ini banyak pepohonan. Air engga pernah susah, ooh begitu ucap saya membalas. Kenapa pohon-pohonnya ditebangi. Tau tuh, tanya saja sama si haji itu bandar kayunya.

H Bobon dan Dirin wajahnya gelagapan, waktu saya menolehnya. Awas pak hati-hati jalan terjal nanti jatuh, ucap Dirin so..akarab pada saya. Tak lama sampai ke jalan, saya pun langsung menuju ke mobil. H.Bobon dan Dirin takdim sekali sama saya, Pak ini airnya bila nanti haus dijalan dan memberi sekantong kresek yang berisi air beberapa bungkus rokok mail dan makanan ringan. Tentu saja saya menolaknya, tapi H Bobon memaksa begitu saya membuka pintu mobil dia bergegas menyimpan bungkusan itu. Sambil memberi segepok amplot, ini pak tamba lumayan. Amplop itu saya tolak tapi H Bobon memaksa, terima ini pak ikhlas kok. Kalau mau kasihkan sama ibu-ibu tadi, kasihan mereka atau bikin sumur di kampungnya dan tanam lagi pohon disana sampaikan itu sama bos besar anda. Saya pun pergi, tersirat dalam hati dan pikiran. Mereka itu tidak tahu arti sebuah pohon, dan air itu sumber kehidupan.***

About author

Related articles

0 Comments

No Comments Yet!

You can be first to comment this post!

Leave a Reply