Bisa Jadi Wisata Belanja di Kota Banjar?

24/05/2012 0 Comments

(Pasar Tradisional Nuansa Modern)

Oleh : Asno Sutarno

Satu bulan sudah pasar Banjar yang menghabiskan biaya Rp. 20 miliar lebih itu berdiri. Dengan investasi biaya yang besar, tentu merupakan kebanggaan tersendiri baik itu Pemerintah Kota Banjar maupun masyarakat Kota Banjar. Pasar yang baru berdiri itu menampilkan konsep pasar tradisional bernuansa modern, berarti sudah menghilangkan kesan kumuh yang selama ini melekat di pasar Banjar.

Selama ini, di pasar tradisional yang terjadi hanya proses jual-beli barang dagangan melalui tawar menawar. Seharusnya dengan adanya perkembangan zaman yang semakin pesat, pemerintah melalui dinas terkait mampu berpikir untuk terus mengembangkan bagaimana caranya agar pasar tradisional tidak hanya sebagai tempat jual beli maupun sumber pertumbuhan dan pembangunan ekonomi kerakyatan, akan tetapi juga dapat didorong menjadi tempat rekreasi dan pariwisata.

Tentu langkah seperti itu tidak semudah membalikkan telapak tangan, diperlukan ‘gotong royong’ dari semua stakeholder (pemangku kepentingan) yang ada di Kota Banjar. Memang untuk menjawab apakah bisa pasar Banjar dijadikan wisata belanja di Kota Banjar, perlu telaah dan analisa yang baik, jangan gegabah.

Namun alangkah baiknya kita dreaming (bermimpi) terus kita implementasikan mimpi kita daripada kita tidak bermimpi sama sekali. Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan sebelum pasar Banjar diciptakan sebagai kawasan objek wisata belanja, salah satunya adalah masalah menjaga aset pasar Banjar. Hal tersebut diperlukan perhatian yang khusus dari semua elemen, baik pemerintah, pedagang pasar maupun pemangku kepentingan lainnya, terutama bagaimana menjaga aset tersebut dalam memfungsikan pasar sebagai tempat transaksi yang representatif, aman dan nyaman, serta memberikan kepuasan terhadap pelanggan maupun pedagang yang semakin bergairah sebagai pelaku usaha.

Beberapa waktu lalu terjadi kekurangnyamanan yaitu pencurian di lingkungan pasar Banjar yang baru saja diresmikan. Belum lagi ketertiban lalu lintas. Dinas yang terkait dengan lalu lintas sebagai otoritas pengelola kelancaran dan ketertiban lalu lintas harus mampu meminimalisir kemacetan yang terjadi di Pasar Banjar, jangan sampai kesan macet kembali terulang sehingga kenyamanan pelanggan kurang. Masyarakat menjadi enggan untuk datang ke pasar Banjar jika arus lalu lintas tidak tertata dengan baik yang dapat mengakibatkan kemacetan. Perhatikan parkir kendaraan baik roda dua maupun roda empat dan bongkar muat barang. Selain itu masalah kebersihan dipandang kurang jadi perhatian.

Kenapa arus lalu lintas belum bisa tertib, kenapa masalah kebersihan dipandang kurang jadi perhatian, kenapa keamanan belum terjamin, kenapa hak dan kewajiban tidak ada keseimbangan. Pertanyaan-pertanyaan tadi tidak pernah lepas dari pemikiran kita. Padahal koordinasi semua pemangku kepentingan sebelum pasar diresmikan sangat intens dan cukup alot, berulang-ulang dibahas tetapi setelah berjalan satu bulan sepertinya semua sangat nyaman-nyaman saja dengan berbagai pertanyaan masalah tadi, siapa yang bertanggung jawab ini semua?

Bila pasar yang baru ini ingin jadi ikon Kota Banjar perlu ketiga pilar pelaku menyatakan persepsi yang sama, yaitu antara pemerintah, warga pasar dan masyarakat, yaitu bagaimana menciptakan keamanan, kenyamanan, keindahan, ketertiban, kebersamaan, kompetitif, dan kenangan.

Jangan sampai pasar yang baru ini menjadi semrawut dan tidak beda jauh dengan yang sudah lalu. Untuk itu leading sector segera mengevaluasi pasca satu bulan berjalan ini dan tentunya mengkoordinasikan segala kepentingan untuk tetap bahwa Plaza Banjar Patroman jadi daya tarik wisata belanja di Kota Banjar. ***

About author

Related articles

0 Comments

No Comments Yet!

You can be first to comment this post!