Isu Bau Sampah & Banyak Lalat di TPA Cibeureum Tidak Terbukti

03/05/2012 Headline
Isu Bau Sampah & Banyak Lalat di TPA Cibeureum Tidak Terbukti

Alat berat berupa buldozer tengah meratakan tumpukan sampah di TPA Cibeureum. Proses penutupan sampah dengan tanah dilakukan setiap hari sehingga tidak akan terlihat adanya sampah yang terbuka. Poto diambil Selasa (1/5). Foto : Eva Latifah/HR.

Banjar, (harapanrakyat.com),- Untuk menjaga supaya tidak terjadi penumpukan sampah di TPA Cibeureum, proses pengurugan/penutupan sampah dengan tanah dilakukan setiap hari menggunakan alat berat berupa eskafator dan buldozer, sehingga tidak akan terlihat adanya sampah yang terbuka.

Hal itu dikatakan Kepala UPTD Pengelola Limbah Dinas Kebersihan, Pertamanan, Pemakaman dan Lingkungan Hidup (DKPPLH) Kota Banjar, Dyah Shita Asri Wahyuningrum, SP., saat ditemui HR di TPA Cibeureum, Selasa (1/5).

Menurut dia, adanya isu mengenai banyaknya lalat di perkampungan penduduk sekitar merupakan dampak pencemaran polusi yang berasal dari TPA, tidak terbukti.

Pasalnya, penimbunan sampah secara kontinyu tujuannya untuk menekan tingkat populasi lalat, serta menekan timbulnya gas metan dari tumpukan sampah organik. Dengan demikian, maka lalat yang ada jumlahnya tidak signifikan, bahkan di kawasan TPA sendiri tidak tercium bau sampah.

“Biasanya ada lalat itu saat musim hujan saja, itu pun jumlahnya tidak banyak dan hanya di tempat pembuangan sampahnya saja, tidak sampai menyebar kemana-mana. Jangankan di TPA, di tempat lain juga lalat pasti ada kalau musim hujan,” kata Dyah.

Lebih lanjut dia mengatakan, apabila jumlah lalat mengalami peningkatan, pihaknya sudah memiliki persediaan insektisida untuk membasmi populasinya. Persediaan insektisida bukan hanya untuk membasmi lalat di TPA saja, tapi juga untuk masyarakat yang ada di lingkungan sekitar TPA.

Namun hingga saat ini obat pembasmi lalat tersebut belum digunakan, karena memang tidak pernah terjadi adanya peningkatan jumlah populasi lalat, baik di TPA sendiri maupun di perkampungan penduduk.

“Bisa dibuktikan kalau di TPA ini tidak ada lalat maupun tercium aroma tak sedap yang ditimbulkan oleh sampah. Kami juga yang bekerja di sini tidak akan nyaman kalau memang banyak lalat dan bau sampah. Isu tersebut katanya dari ketua RT setempat, tapi itu tidak mungkin, sebab RT-nya juga ikut mengelola sampah di TPA, dan setelah saya tanya, ternyata ketua RT sendiri tidak mengetahui ada isu seperti itu,” tuturnya.

Dyah menambahkan, bahwa TPA Cibeureum merupakan salah satu titik pantau dalam penilaian Adipura. Selain itu, TPA Cibeureum selalu dijadikan tempat study banding oleh daerah lain, bahkan pada Jum’at (27/4) kemarin, ada sejumlah mahasiswa dari sebuah PTN di Bandung yang melakukan study banding ke tempat tersebut. (Eva)

KOMENTAR ANDA

Komentar

Related articles