Lahan Sawah Menyusut, Ketahanan Pangan Bisa Terancam

17/05/2012 0 Comments

Luas lahan pesawahan di Kota Banjar diprediksikan terus menyusut akibat terjadinya alih fungsi lahan. Tampak dua unit kendaraan berat tengah melakukan pengurugan tanah pesawahan untuk gudang milik perusahaan swasta. Foto : Eva Latifah/HR.

Banjar, (harapanrakyat.com),- Luas lahan pesawahan di Kota Banjar diprediksikan sudah berkurang akibat terjadinya alih fungsi lahan, sehingga perlu adanya pencetakan lahan sawah baru. Lantaran, berkurangnya luasan lahan pesawahan bisa mempengaruhi terhadap ketahanan pangan, serta Laju Pertumbuhan Ekonomi (LPE) masyarakat.

Namun, Kepala Bidang Ketahanan Pangan Dinas Pertanian Kota Banjar, H. Basir, SP, MP., mengatakan, pihaknya belum mengetahui secara pasti mengenai berapa jumlah luasan lahan pesawahan di Kota Banjar yang telah berkurang tersebut.

“Kita memprediksi luas lahan pesawahan di Banjar sudah berkurang melihat dari kenyataan di lapangan, dimana yang semula lahan sawah kini telah berdiri bangunan. Baik itu digunakan sebagai permukiman, perkantoran swasta maupun pemerintah, dan SPBU. Seharusnya memberikan laporan jika ada lahan sawah akan digunakan untuk kepentingan non pertanian,” katanya, Kamis (10/5).

Basir mengatakan, pertanian merupakan salah satu sektor yang diandalkan oleh suatu daerah, termasuk Kota Banjar. Sebab, bila dilihat secara luas, sektor pertanian mampu memberikan pemulihan dalam mengatasi krisis yang terjadi di negara ini.

Keadaan tersebut membuktikan, bahwa sektor pertanian sebagai salah satu sektor yang andal, dan mempunyai potensi besar sebagai pemicu pemulihan ekonomi nasional melalui salah satunya adalah ketahanan pangan nasional.

Dengan demikian, diharapkan kebijakan untuk sektor pertanian lebih diutamakan. Namun setiap tahun untuk luas lahan pertanaian selalu mengalami alih fungsi lahan dari lahan sawah ke lahan non sawah.

Alih fungsi lahan pertanian produktif di Kota Banjar, terutama lahan sawah menjadi lahan non pertanian, memang sulit dihindari akibat pesatnya laju pembangunan.

Tidak hanya mencetak lahan sawah baru, lanjut Basir, pembuatan saluran irigasi di lahan pesawahan non teknis juga merupakan solusi untuk mempertahankan hasil produksi padi supaya jangan sampai berkurang.

Dengan dibangunnya saluran irigasi baru di lahan sawah tadah hujan/non teknis, maka hasil produksi padi dari lahan tersebut bisa meningkat. Yang semula dalam satu tahun hanya mampu produksi/panen satu kali, setelah difasilitasi saluran irigasi bisa panen menjadi dua atau tiga kali.

Kemudian selain itu, pemanfaatan lahan pekarangan juga menjadi salah satu upaya pemerintah untuk menjaga ketahanan pangan. Karena, apabila kebutuhan pangan tercukupi, itu berarti pertumbuhan perekonomian masyarakat pun akan meningkat.

Program ini tujuannya untuk memanfaatkan lahan pekarangan yang ada di sekitar lingkungan rumah supaya bisa lebih bermanfaat lagi.

Secara keselurahan, luas lahan pekarangan di Kota Banjar yang belum dimanfaatkan dengan baik mencapai 400 hektare. Seandainya semua masyarakat mau memanfaatkannya dengan baik, tentu hasil yang bisa didapat juga akan baik.

“Kita menilai program tersebut sangat bermanfaat bagi masyarakat. Misalnya dengan cara ditanami apotik hidup dan warung hidup. Selain bisa menghasilkan uang, lingkungan di sekitar kita juga menjadi terawat dan tampak asri. Dalam program ini kami tidak bekerja sendiri, tapi melibatkan beberapa OPD terkait lainnya,” jelas Basir.

Di lain pihak, program pemanfaatan lahan pekarangan yang kini tengah gencar disosialisasikan oleh pihak pemerintah mendapat respon positif dari masyarakat. Dayat, salah seorang warga Kel/Kec. Banjar, mengatakan, selama ini lahan pekarangan identik dengan taman.

“Saya beranggapan seperti itu karena rata-rata pekarangan rumah biasa dijadikan taman, yakni dengan ditanami tanaman hias. Karena kalau ditanami apotik hidup atau warung hidup memerlukan lahan yang luas. Tapi ternyata anggapan itu keliru, sebab kedua jenis tanaman tersebut bisa juga disiasatinya menggunakan polybag yang disimpan pada palang bertingkat dari bambu,” tuturnya.

Dayat mengaku, dia mengetahui cara-cara seperti itu setelah mengikuti sosialisasi program pemanfaatan lahan pekarangan beberapa waktu lalu di lingkungannya. Dengan demikian, rencananya Dayat pun akan membuat palang bertingkat dari bambu, sebab rumahnya tidak memiliki lahan pekarangan yang luas. (Eva)

About author

Related articles

0 Comments

No Comments Yet!

You can be first to comment this post!

Leave a Reply