P3A Mitra Cai Cibeureum, Jajawar & Balokang Harus Difungsikan

24/05/2012 0 Comments

(Jaga Pasokan Air Lancar)

Banjar, (harapanrakyat.com),- Keberadaan Perkumpulan Petani Pemakai Air (P3A) Mitra Cai di wilayah Desa Cibeureum, Jajawar dan Desa Balokang, Kec. Banjar, harus benar-benar difungsikan. Untuk itu, pihak desa harus ada upaya untuk menggerakkan P3A Mitra Cai yang telah terbentuk.

Hal tersebut dikatakan Kabid. Pengelolaan Sumber Daya Air Dinas PU Kota Banjar, H. Endang Pandi, saat ditemui HR di ruang kerjanya, Senin (21/5). Menurutnya, jika P3A Mitra Cai di wilayah tersebut berfungsi, maka lahan pesawahan non teknis yang ada di ketiga desa itu bisa panen lebih dari satu kali setiap tahunnya.

“Kalau Mitra Cainya berjalan, maka air di Situ Leutik bisa digunakan untuk mengairi lahan pesawahan dan kolam di wilayah tiga desa tersebut. Karena di sana sudah dibangun beberapa saluran air,” kata Endang.

Namun, para pemakai air pun harus betul-betul merasa memiliki, yakni dengan cara merawat saluran air, supaya semua lahan dapat kebagian, khususnya sawah.

Menurut Endang, jangan sewaktu ada air kemudian seenaknya menggunakannya dengan jumlah berlebih. Seperti yang terjadi saat ini, dimana beberapa pemilik kolam di daerah Jajawar malah membuat lubang baru pada pipa saluran air yang telah ada.

“Padahal sudah dibuatkan lubang pipa tersebut ke masing-masing lahan, baik sawah maupun kolam, sehingga semuanya bisa kebagian air. Setelah kami mengecek langsung ke lapangan, ternyata ditemukan beberapa titik lubang baru yang ada di dekat kolam, sehingga air semuanya masuk ke kolam tersebut,” jelasnya.

Dengan ulah pemakai air seperti itu, maka lahan pesawahan di daerah Cibeureum, tepatnya Sogati, Karang Balingbing dan sekitarnya, tidak teraliri air.

Endang mengatakan, peran P3A Mitra Cai di wilayah Desa Cibeureum, Jajawar dan Balokang harus secepatnya difungsikan, sehingga kejadian seperti itu dapat segera diselesaikan.

Dia mencontohkan keberadaan Mitra Cai di Desa Waringinsari yang telah berjalan, sehingga lahan sawah non teknis di daerah itu sudah dapat dialiri dengan baik, dan tidak mengganggu pasokan ke titik awal.

Bahkan, saat ini pihaknya tengah menambah jaringan sesuai permintaan dari P3A Mitra Cai. Karena, setiap ada permintaan atau keluhan dari masyarakat, pihaknya selalu menanggapi dan langsung melakukan pengecekan ke lapangan.

“Kalau misal tidak bisa terpenuhi oleh APBD Kota, maka kita akan koordinasi dengan pihak BBWS Citanduy. Dan kebetulan tahun ini ada program untuk pembangunan lanjutan saluran irigasi di daerah Jajawar. Bahkan rencana kedepan akan dilanjutkan ke wilayah Balokang. Makanya tolong difungsikan peran Mitra Cainya,” tegas Endang.

Ditemui di tempat terpisah, Selasa (22/5), Kepala Desa Cibeureum, Tatang. S, membenarkan, bahwa memang P3A Mitra Cai yang telah terbentuk tidak berjalan sebagaimana mestinya.

Menurut Tatang, hal itu akibat usia para pengurus Mitra Cai masih relatif muda, dan kemungkinan mereka tidak menguasai apa yang menjadi tugas utama Mitra Cai. Selain itu, banyak diantara mereka yang kini sudah bekerja di luar kota.

“Anggota P3A Mitra Cai itu sebetulnya gabungan dari tiga desa, yaitu Cibeureum, Jajawar dan Balokang. Waktu pembentukannya dulu, yang menjadi persyaratannya itu antara lain batas usia maksimal 54 tahun, minimal 20 tahun, kemudian ijazahnya juga harus SMA. Tadinya memilih anak muda itu pertama karena aturan, dan anak muda kan masih kuat, semangat, tapi ternyata malah tukcing,” tuturnya.

Tatang berjanji, pihaknya akan segera berkoordinasi dengan Desa Jajawar dan Balokang untuk melakukan perombakan terhadap anggota P3A Mitra Cai. Namun, pada pembentukan nanti tidak akan terpaku pada aturan seperti sebelumnya.

Keberadaa P3A Mitra Cai harus dikelola oleh kelompok-kelompok yang peduli terhadap kebutuhan air. Dengan demikian, maka masalah usia tidak akan dibatasi, meski tua tapi kalau punya kepedulian akan ketersediaan air itu lebih baik, dari pada muda tapi tidak tidak berfungsi.

“Harapan kami bisa secepatnya terbentuk, jadi sebelum ada penambahan saluran air, Mitra Cai sudah terbentuk. Paling lambat sekitar bulan Juli,” harapnya.

Selain itu, Tatang juga sependapat dengan pihak PSDA, bahwa pengguna air jangan seenaknya memakai air tanpa aturan. Seperti diketahuinya ada 21 titik kebocoran pada saluran pipa.

Menurut Tatang, hal itu menjadi penyebab kurangnya pasokan air ke lahan pesawahan beberapa waktu lalu. Lantaran, di sisi lain petani sawah kekurangan air, sedangkan di lain pihak pemilik kolam justru malah kelebihan.

Lain halnya dengan Kepala Desa Balokang, H. Sukirman, yang mengatakan bahwa sebetulnya syarat untuk menjadi anggota Mitra Cai adalah orang yang benar-benar tahu masalah pertanian, dalam hal ini petani.

Sukirman juga mengatakan, debit air di Situ Leutik saat musim kemarau kemarin tidak mungkin bisa mengairi lahan sawah di wilayah Balokang sebab volumenya terlalu kecil.

Jika lahan sawah non teknis di Balokang ingin dijadikan sawah teknis, maka sebaiknya pemerintah memanfaatkan sumber air yang ada di Curug Balokang.

“Kami sudah membicarakan masalah ini kepada Ketua TP PKK Kota Banjar, mudah-mudahan saja apa yang kita harapkan bisa direalisasikan. Karena di Curug Balokang itu terdapat sumber mata airnya, jadi bukan hanya menampung air larian saja,” kata Sukirman. (Eva)

About author

Related articles

0 Comments

No Comments Yet!

You can be first to comment this post!