Petani Mengeluh, Harga Kopi Anjlok

31/05/2012 0 Comments

Petani Mengira, Spekulan Memainkan Harga Kopi di Pasaran

 

Meski harga kopi anjlok, Sodikin tetap menjalani pekerjaannya sebagai petani kopi. Karena sebagai andalan untuk menutupi kebutuhan hidupnya. Foto : Edji Darsono/HR.

Rajadesa, (harapanrakyat.com),- Pada musim panen kali ini, harga kopi lokal dan arabika di wilayah Kecamatan Rajadesa mengalami penurunan secara drastis. Bahkan, anjloknya harga kopi tersebut mencapai angka 23 persen.

Menurut keterangan petani kopi di Dusun Jagamulya, Desa Rajadesa, Kec. Rajadesa, pada musim panen tahun lalu, harga kopi lokal dan arabika di pasaran masih bisa membuat para petani bergembira.

Namun, pada panen kali ini, kebanyakan petani kopi di wilayah itu mengeluh, karena harga kopi anjlok dan tergolong sangat murah. Masih menurut petani, panen kali ini terbilang memasuki musim panen raya kopi.

Sodikin (67),  petani kopi Dusun Jagamulya, RT 07 RW 04, Desa Rajadesa, Sabtu (26/5), mengatakan, harga biji kopi kering siap giling pada tahun lalu berkisar Rp 22 ribu perkilogramnya.

Pada tahun ini, Kopi kering dengan kualitas yang sama, harganya hanya sampai di kisaran Rp 16 ribu 5 ratus. Harga itu, lanjt Sodikin, tergolong harga yang paling tinggi di tingkat tengkulak.

“Tapi, harga itu berlaku, jika kopi tersebut benar-benar kering dan bersih,” ungkapnya.

Iyah (56), petani kopi dari daerah yang sama, ketika diwawancara HR, mengatakan, selisih penurunan harga kopi pada tahun ini tergolong tinggi, yakni Rp. 5 ribu 5 ratus. Padahal, kata dia, selisih harga kopi di tahun-tahun sebelumnya masih bisa dibilang normal.

Kepada HR, Iyah mengaku, terpaksa harus tetap menjual kopi kering yang sudah siap giling miliknya itu, lantaran desakan kebutuhan hidup keluarga sehari-hari, meski harga kopi pada musim panen kali ini jauh lebih murah.

“Kalau saja ada sumber pendapatan yang lain, hasil panen kopi yang ada saat ini, bisa disimpan untuk kebutuhan tahun depan,” katanya.

Sementara itu, Usup, petani asal Dusun Garonggong Desa Tanjungsari, mengira, tidak stabilnya harga kopi di tingkat petani, terjadi akibat permainan para spekulan lokal. Faktanya, lanjut dia, banyak diantara petani tidak mengetahui secara pasti berapa harga jual kopi kering siap giling.

Kepala BP3K Kec. Rajadesa, Memed AG, Amd., ketika dihubungi HR via telepon genggamnya, membenarkan harga komoditi kopi lokal dan arabika masih mengalami fluktuatif (naik-turun).

Menurut Memed, kemungkinan tidak stabilnya harga kopi disebabkan oleh masa panen yang berbarengan atau serempak. Kejadian itu, lanjut dia, tidak hanya di Kec. Rajadesa, melainkan terjadi juga di sejumlah daerah penghasil kopi, seperti Lampung dan Sumatra.

Selain itu, permintaan kopi di pasaran, baik permintaan dari dalam negeri atau permintaan luar negeri sedang mengalami penurunan. Seperti halnya dalam hukum ekonomi disebutkan, kata dia, ketika persediaan sedang melimpah, harganya akan turun. Sebaliknya, ketika persediaan kopi terbatas, harganya pasti melambung tinggi.

Meski demikian, Memed mengaku akan membantu untuk mengupayakan pemasaran kopi hasil panen para petani di wilayahnya itu. Tujuannya, agar tetap bisa mendapat penghasilan, dan kesejahteraan/ kebutuhan hidup sehari-harinya tetap terjamin.

Upaya-upaya itu, tambah Memed, sudah mulai dilakukan sejak beberapa bulan lalu, oleh Gapoktan dan Koperasi Petani Kopi. Diantaranya, dengan mencari bandar-bandar, dan pengusaha besar di sejumlah daerah.

“Hanya saja, perusahaan yang sudah ditemui, masih memberikan patokan harga kopi di bawah standar,” ungkapnya.

Memed berharap, harga kopi jenis arabika dan lokal bisa kembali naik, mengingat komoditi kopi merupakan sumber ekonomi masyarakat di wilayahnya. (dji)

About author

Related articles

0 Comments

No Comments Yet!

You can be first to comment this post!

Leave a Reply