Potensi SDA Minim, Banjar Fokus Pada Pembangunan SDM!

10/05/2012 Berita Terbaru
Potensi SDA Minim, Banjar Fokus Pada Pembangunan SDM!

Oleh: Dede Tito Ismanto

Kota Banjar tidak akan pernah bisa bersaing dengan Bali karena Kota Banjar tidak mempunyai pantai dan lautan. Kota Banjar tidak mungkin menciptakan daerah seperti Cipanas Garut atau daerah Sankanhurip Kuningan yang dijejali dengan hotel-hotel karena tidak ada potensi sumber mata air panasnya. Kota Banjar tidak bisa serta merta membangun candi atau bangunan tua karena itu adalah warisan budaya (heritage). Kota Banjar belum bisa menjadi kota perdagangan dan jasa karena investor dan Sumber Daya Manusia (SDM) nya belum ada (baca: masih sedikit).

Itulah gambaran singkat tentang kondisi sumber daya alam, sumber daya manusia dan warisan budaya di Kota Banjar yang boleh dikatakan minim. Bagi kota-kota atau daerah dengan potensi sumber daya alamnya yang melimpah tentunya mempunyai keunggulan tersendiri artinya bisa dengan mudah untuk menciptakan daya tarik atau mengembangkan daerahnya, investor datang dengan sendirinya karena melihat potensi/peluang bisnis tersebut. Tapi bagaimana dengan Kota Banjar yang boleh dikatakan minim sumber daya tersebut. Berbicara fase “interesting” atau fase dimana Kota Banjar harus bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan sederhana ini; ada apa ya di Kota Banjar? kalau mau liburan ke Kota Banjar, kemana aja ya? hotel yang bagus apa ya? tempat wisata kulinernya dimana aja ya? tempat nongkrong anak-anak mudanya dimana ya? di Kota Banjar suka ada festival/event tahunan ga ya? dan masih banyak pertanyaan-pertanyaan lainnya. Apakah sudah bisa dijawab? kalaupun bisa, harus bisa membuat masyarakat di luar Kota Banjar merasa penasaran untuk berkunjung ke Kota Banjar. Itulah daya tarik.

Membangun daya tarik memang sebuah keharusan bagi kemajuan kota itu sendiri. Bagi daerah yang minim akan sumber daya dalam hal ini Kota Banjar tidak perlu berkecil hati, justru inilah kesempatan di era otonomi daerah, pemerintah daerah bisa menganggarkan anggaran yang sebesar-besarnya untuk kesejahteraan rakyatnya. Kita bisa belajar kepada perkembangan daerah atau lebih luasnya bangsa lain. Sebab ternyata bangsa-bangsa yang kemajuannya besar di dunia bukanlah mereka yang memiliki sumber daya alam banyak. Justru yang hampir tidak mempunyai sumber daya alam yang sangat menonjol perkembangannya.

Contohnya adalah Jepang yang sangat miskin sumber daya alam; hanya 30 persen tanahnya dapat ditanami. Bagian terbesar sumber energi berupa minyak dan gas bumi harus diimpor. Demikian pula bahan yang perlu untuk produksi industrinya. Bahan makanan pun harus diimpor banyak. Namun terbukti bahwa Jepang justru menjadi bangsa yang sangat maju perkembangannya. Hal yang sama kita lihat pada Korea dan Taiwan yang sekarang berkembang menjadi negara maju mengikuti langkah Jepang.

Ternyata perkembangan dan kemajuan bangsa-bangsa itu digerakkan oleh kemampuan manusianya. Manusia Jepang dan Korea, didorong oleh kondisi kemiskinan alam negaranya untuk berusaha dengan kuat. Karena Jepang harus mengimpor begitu banyak keperluannya untuk hidup, termasuk bahan makanan dan energi, maka bangsanya dipaksa mengekspor sebanyak mungkin untuk dpat membiayai impor yang besar itu. Hal itu merangsang timbulnya industri yang luas untuk membuat barang-barang yang dapat diekspor. Ini semua membuat Jepang kaya, meskipun tanahnya hanya sekitar 30 persen yang dapat ditanami dan juga tidak mengandung bahan mineral yang mencolok.

Bagi Kota Banjar yang miskin kekayaan alam modal utama bagi perkembangannya adalah sumber daya manusia. Manusia yang cerdas dan sanggup bekerja keras akan menjadi motor penting bagi kemajuan. Kalau tidak ada uang sendiri untuk membuka usaha, maka investor dari luar akan tertarik untuk menanamkan modalnya di sana. Itu terbukti di Korea dan Taiwan serta dalam skala kecil juga Singapore. Terbukti bahwa investor lebih tertarik menanam modalnya di daerah dan negara yang rakyatnya cerdas, cakap, rajin bekerja serta kuat disiplinnya.

Sebab itu bagi Kota Banjar membangun sumber daya manusia harus tetap menjadi prioritas utama. Kalau perlu ada program beasiswa bagi para siswa-siswi berprestasi untuk melanjutkan studinya ke universitas-universitas ternama di dunia sampai meraih gelar Doktor. ***

KOMENTAR ANDA

Komentar

Related articles