Sekelumit Kisah Penambang Pasir di Sungai Cijolang

31/05/2012 Berita Banjar
Sekelumit Kisah Penambang Pasir di Sungai Cijolang

Puluhan perahu pengangkut pasir terlihat berjejer di tepi sungai. Bagian bawah jembatan Cijolang dijadikan terminal perahu oleh para penambang. Foto : Pepep Riswanto Akbar/HR.

Kegiatan penambangan pasir di Sungai Cijolang (perbatasan Prov. Jabar-Jateng), rawan kerusakan sebab mengancam jembatan penghubung dua provinsi tersebut.

Eva Latifah & Pepep Riswanto Akbar

Sedikitnya 15 orang kuli penambang pasir di Sungai Cijolang yang berhulu di Desa Cingambul Kec. Cijeungjing Kab. Majalengka dan bermuara di Rajagosi sungai Citanduy Banjar, terdiri dari pria dan wanita berusia sekitar 40 tahunan, bahu membahu menyekop menaikkan tumpukan pasir ke atas sebuah mobil truk. Sebagian lagi ada pula yang menurunkan pasir dari atas perahu. Kulit hitam dan keringat bercucuran karena sengatan matahari membasahi lengan dan badan mereka.

Di sekitar lokasi penambangan, tepatnya di bawah pohon bambu, beberapa bocah berusia sekitar 6 tahunan bermain. Ada yang minum es lilin sambil sekali-kali menghirup kembali lendir di hidungnya yang mau keluar.

Sedangkan anak lainnya mendatangi orang tua mereka yang sedang bekerja menaikkan pasir ke mobil truk tadi. Anak-anak tersebut meminta sejumlah uang receh, lalu pergi ke warung kecil yang tak jauh dari lokasi.

Sementara itu, Ipah, seorang bandar pasir yang datang sejak tadi masih mengamati para kuli tambang pasir yang sedang bekerja. Dia mempunyai sedikitnya 10 unit perahu yang beroperasi untuk menambang pasir.

Ipah mengaku, setiap harinya satu perahu bisa mengangkut pasir 4 sampai 6 kali. Dia memberikan upah kepada kuli yang mengoperasikan perahunya sebesar Rp.12.500/perahu untuk satu kali jalan/angkut. Dan, bagi kuli yang menaikkan pasir ke truk dibayar sebesar Rp.5.000 perkubik.

“Dari 10 unit perahu, dalam sehari saya bisa mendapatkan untung sekitar 300.000 rupiah sampai 500.000 rupiah,” kata Ipah, saat ditemui HR, Sabtu (26/5).

Selesai sudah para kuli itu bekerja. Begitu mobil pengangkut pasir pergi, kemudian mereka mendekati Ipah, sang bandar pasir di Sungai Cijolang, untuk menerima pembayaran hasil kerjanya.

Imam, salah seorang kuli yang bertugas menaikkan pasir ke atas gerobak truk, mengaku, dengan upah Rp.5.000 perkubik, satu hari dirinya mampu mengantongi uang sekitar Rp.30.000-Rp.50.000.

Kemudian Yayah, salah seorang kuli wanita, mengaku, dirinya menggeluti pekerjaan tersebut sudah berlangsung cukup lama, yakni sekitar 10 tahunan. Yayah terpaksa berkutat dengan pekerjaan kasar yang selayaknya dikerjakan oleh kaum pria itu karena terdesak kebutuhan ekonomi.

Meski demikian, dengan penghasilan antara Rp.30.000-Rp.50.000 perhari, Yayah mengaku cukup untuk menambah-nambah penghasilan sang suami yang sama-sama bekerja sebagai kuli tambang pasir.

Sementara itu, dikejauhan terlihat dua orang laki-laki dengan terengah-engah muncul dari balik jurang yang landai. Sebatang bambu menempel dibahunya, dengan muatan dua keranjang berisi penuh pasir di kedua ujung.

Mereka adalah yang bertugas mengangkut pasir dari terminal pasir tersebut ke lokasi penampungan pasir. Kelompok ini bolak balik memikul pasir dari sungai ke bantaran.

Persis di bawah jembatan Cijolang, puluhan perahu pengangkut pasir terlihat berjejer di tepi sungai, pasalnya bagian bawah jembatan dijadikan terminal perahu oleh mereka.

Itulah sebagian rutinitas penambang pasir Sungai Cijolang yang terletak di perbatasan antara Kota Banjar, Prov. Jabar dengan Kab. Cilacap, Prov. Jateng. Mereka adalah para keluarga yang menggantungkan hidupnya dari Sungai Cijolang. Jumlahnya mencapai lebih dari 100 orang.

Ratusan kubik pasir setiap hari mereka gali dari sungai yang merupakan DAS Sungai Citanduy itu. Dari bagian hulu maupun hilir, mereka mengaku menambang pasir.

Samsudin, salah seorang penambang pasir yang nekat menambang pasir di sekitar jembatan. Dia mengaku, sebetulnya mereka dilarang melakukan penambangan di sekitar jembatan. Minimalnya sejauh satu kilometer dari jembatan tersebut.

Namun apalah arti larangan bagi mereka. Jika perut lapar dan selalu minta diisi, maka larangan pun tak digubris. ***

KOMENTAR ANDA

Komentar

Related articles