Tiga Desa di Kawali Kembangkan Cabe dari India

03/05/2012 0 Comments

Tanaman cabe jenis TW (fantastic) yang mulai dibudidayakan di wilayah Kec. Kawali. Pengembanga ini sebagai upaya peningkatan pendapatan para petani, sekaligus memanfaatkan lahan tadah hujan. Foto : Edji Darsono/HR.

Kawali, (harapanrakyat.com),- Tiga desa di Kecamatan Kawali, meliputi Desa Linggapura, Kawali dan Kawalimukti mengembangkan tanaman cabe jenis TW (Fantastic), berasal dari India. Pengembangan ini dilakukan di Blok sawah kaler, Kawalimukti. Bahkan, populasi tanaman mencapai 18 ribu pohon.

Endang, petani cabe asal Dusun Sindangwaru, Senin (30/4), mengatakan, pengembangan cabe jenis TW Fantastic ini merupakan dalam rangka memanfaatkan lahan kering. Selain itu, diharapakan juga bisa menjadi pendapatan tambahan bagi para petani.

Menurut Endang, tanaman cabe jenis TW (Fantastic) yang ditanam Petani Kawali  tersebut dapat tumbuh dengan baik pada dataran rendah sampai ketinggian 2 ribu dpl. Karenannya, tanaman cabe dapat beradaptasi pada temperatur 24-270C, dengan kelembaban yang tidak terlalu tinggi. Tanaman ini juga dapat ditanam di sawah maupun tegalan yang gembur, subur, tidak terlalu liat dan cukup air.

Sementara itu, Kades Linggapura, Dedi Junaedi, SE.,Par., mengatakan, pengukuran PH tanah perlu dilakukan dengan alat PH meter, atau dengan kertas lakmus. Untuk menaikkan PH tanah, perlu juga dilakukan pengapuran lahan, menggunkana dolmint atau kapur gamping, sekira 2-4 ton perhektar atau 200-400 gram permeter persegi.

Menurut Dedi, soal pemasaran cabe jenis ini tidaklah terlalu sulit. Pasalnya, cabe sudah merupakan kebutuhan rumah tangga, bahkan bisa juga digunakan untuk keperluan industri, seperti industri makanan, jamu, dan obat-obatan.

Lebih lanjut, kata Dedi, kebutuhan cabe juga sejalan dengan pertumbuhan penduduk dan pengembangan industri olahan. Termasuk, tiga desa di Kec. Kawali, membuka peluang pengembangan usaha agribisnis cabe, sekaligus meningkatkan pendapatan petani.

Kepada HR, Dedi menuturkan, pada bulan depan, tanaman cabe yang sedang dikembangkan di wilayahnya itu bisa dipanen. Dia juga memperkirakan, jika dari satu pohon cabe bisa menghasilkan 1 kg cabe, bila dikali 18 ribu pohon bisa mencapai 1,8 ton.

“Harga cabe saat ini berkisar Rp. 15 ribu perkg. Berarti, jika 1,8 ton bisa memperoleh sekitar Rp 27 juta. Sementara jika areal sekitar 8 ratus bata ditanami padi, paling banter pada musim panen, petani hanya mendapatkan 4 ton gabah kering. Perkwintal gabah, dipatok harga Rp 500 ribu. Dan jika dikali 4 ton, hanya mencapai Rp 20 juta,” ungkapnya.

Di tempat berbeda, H. Wawan, petani Cabe, mengatakan, dalam membudidayakan cabe, perlu keterampilan dan pengalaman lapangan yang memadai. Pemilihan varietas sangat penting untuk menyesuaikan dengan kondisi lahan dan kebutuhan pasar.

Pada tahap awal budidaya cabe, petani harus membuat persemaian guna menyiapkan bibit tanaman yang sehat, kuat dan seragam. Tahap ini, sebagai bahan tanam di lapangan termasuk penggunaan campuran kompos tanah dan pasir.

“Perbandingannya, yang jelas yaitu 1:1:1. Untuk menambahkan nutrisi, diberi pupuk NPK grand S-15 sebanyak 80 gr yang telah dihaluskan, untuk tiga ember campuran bahan pupuk tersebut,” katanya. (dji)

About author

Related articles

0 Comments

No Comments Yet!

You can be first to comment this post!

Leave a Reply