Domba Bantuan Gubernur Tebarkan Penyakit

21/06/2012 0 Comments

Sebelas dari 20 ekor Domba yang diterima kelompok mati mendadak, akibat penyakit yang menggerogoti mulut domba.

Seekor domba bantuan dari Gubernur mati mendadak. Para peternak khawatir, domba yang sakit itu menyebarkan penyakit terhadap hewan ternak yang lainnya. Foto : Eli Suherli/HR.

Ciamis, (harapanrakyat.com),- Sedikitnya dua ribu ekor domba yang digulirkan melalui bantuan Gubernur/ Pemprov Jawa Barat (Jabar), bagi 180 kelompok ternak yang tersebar di Kab. Ciamis, sebagian besar berpenyakit. Akibat hal itu, kebanyakan kelompok mengaku merasa tertipu dengan bantuan tersebut.  

Rustaman, anggota kelompok Sugih Makmur, Dusun Cipaku Desa Cigugur Kec. Cigugur, Sabtu (16/6), mengatakan, sebelas dari 20 ekor domba yang diterima kelompoknya mati, akibat penyakit yang menggerogoti mulut domba.

“Bahkan, penyakit yang dibawa domba bantuan tersebut, menular terhadap domba peliharaan warga setempat,” ungkapnya.

Dia menyebutkan, penerima domba bantuan Pemrpov di wilayah Cigugur sebanyak 5 kelompok. Terhitung dari lima kelompok penerima bantuan tersebut, domba yang mati mencapai 26 ekor.

Selain domba, kelompok di Cigugur juga mendapat bantuan ikan gurame dari Pemrov. Lagi-lagi, sekitar 4 ribu ekor gurame bantuan tersebut juga mati. Menurut dia, domba bantuan Pemprov yang masih hidup, kini terancam mati, lantaran mulut domba masih mengeluarkan darah dan berbau tidak sedap.

Rustaman menandaskan, apabila Pemerintah Kab. Ciamis, sebagai penyalur bantuan tidak bertindak, maka bantuan domba tersebut akan menjadi sia-sia. Pasalnya, bantuan domba yang diberikan kepada kelompok, merupakan domba berpenyakit.

Dia juga menilai, domba tersebut tidak sesuai dengan spek yang sudah ditentukan pihak Pemprov. Padahal, dalam spek-nya, disebutkan, bobot domba bantuan seharusnya mencapai 25-30 kilogram, sementara realisasinya hanya memiliki bobot sekitar 15 kg.

“Kami merasa tertipu dengan bantuan yang diberikan tersebut. Padahal awalnya, sepengetahuan kami, bantuan bagi kelompok rencananya berbentuk uang. Namun faktanya tidak sesuai harapan. Kalau saja bantuan keuangan, dan langsung dikelola oleh kelompok, pasti kualitas domba bisa sesuai spek,“ katanya.

Menurut Rustaman, meski bantuan domba yang mati itu akan diganti, pihaknya tidak akan menandatangani surat penerimaan penggantian, sebelum benar-benar bantuan domba tersebut sesuai dengan spek.

Di tempat lain, Kepala Badan Pelaksana Penyuluhan Pertanian Perikanan dan Kehutanan (BP4K) Kab. Ciamis, Wasdi, saat dikonfirmasi HR, Senin (18/6), menjelaskan, bantuan domba dari Pemprov Jabar, semuanya tanggung jawab pihak ketiga. Sementara BP4K hanya memfasilitasi kelompok saja.

“Setelah mendengar kabar dari kelompok, terkait bantuan domba yang mati itu, kami langsung mengambil tindakan. Salah satunya dengan meminta penggantian melalui pihak ketiga/ pemenang tender pengadaan domba, ikan dan tanaman, supaya segera memberikan ganti kepada kelompok,” jelasnya.

Tidak hanya itu, BP4K juga menghimbau kepada kelompok agar tidak langsung menandatangani penerimaan penggantian domba dan ikan, sebelum pengantian yang diberikan pihak ketiga sesuai dengan spek. Dengan demikian, kejadian matinya domba dan ikan tidak terulang kembali.

Wasdi juga berharap, kelompok penerima bantuan tidak membesar-besarkan masalah. Soalnya, pihak BP4K sebagai penyalur dan fasilitator, juga bertanggungjawab agar bantuan bagi kelompok membawa keberhasilan dalam program Peternakan di Kab. Ciamis.

Sementara itu, Drh. Reti Nugra, (Dokter Hewan), ketika dihubungi via telepon selulernya, Selasa (19/6), mengatakan, untuk antisipasi penyebaran penyakit yang dibawa domba bantuan Pemprov, terlebih dahulu dilakukan pemisahan antara domba berpenyakit dan yang tidak berpenyakit.

Reti mengaku, pihaknya bersama BP4K, langsung ke lapangan, setelah mendengar kabar matinya sejumlah domba bantuan Pemprov Jabar. Kemudian, dia langsung melakukan pemeriksaan terhadap domba tersebut.

Menurut Reti, seharusnya sebelum menerima dan menyalurkan bantuan, BP4K membentuk tim penyeleksi, yang di dalamnya melibatkan dokter hewan, agar bantuan yang disalurkan tersebut terjamin kesehatannya.

Kepada HR, Reti menyebutkan, kematian pada domba bantuan Pemprov terjadi akibat penyakit Genosis, yang menyerang pada bagian mulut domba. Karenanya, domba tidak bisa mengunyah makanan, secara tidak langsung asupan makanan menjadi berkurang.

Sebenarnya, kata Reti, penyakit Genosis tersebut bisa diantisipasi dengan membersihkan mulut domba, sehingga belatung yang ada di mulut domba hilang. Kemudian, domba tersebut diberi obat antibiotik, dengan begitu kematian bisa dihindari. (es)

About author

Related articles

0 Comments

No Comments Yet!

You can be first to comment this post!