Hidup Terasa Hambar Tanpa Cemilan

07/06/2012 0 Comments

(Hadapi Tantangan Pasar Makanan Cemilan)

Seorang pegawai makaroni dan beberapa rekannya sedang mengepak makaroni di pabrik milik H. Didin , Cikoneng Ciamis, hari Senin( 04/05). Makaroni dengan label DN ini diklaim oleh pemiliknya telah merambah pasar Jawabarat dan Banten.Dengan jumlah produksi capai 2,5 Ton -3 Ton per hari. Foto : Dicky Haryanto Adjid/HR.

Oleh : Dicky Haryanto Adjid

Cemilan atau makanan ringan, yang jarang diperhitungkan, bisa mengintrupsi hidup orang-orang sibuk di kota. Tak Jarang sambil bekerja, dengan ringan tangan kita meraih cemilan lalu mengunyahnya, terus dan terus…..

Betapa lahapnya masyarakat kita mengemil, berbagai menu cemilan pasti laku dijual penggemarnya anak-anak sampai dewasa siap ngemil. Apalagi disaat suntuk oleh pekerjaan, atau lagi bengong cari inspirasi, banyak orang menghajar cemilan ke mulutnya. Untuk memanjakan kebiasaan “nyemil”. Maka industri cemilan pun dibangun di sejumlah daerah. Salah satu sentra cemilan di Kecamatan Cikoneng, Kabupaten Ciamis.

***

Siapa yang tak kenal makaroni? Makanan seperti mie, yang dipotong pendek-pendek, berlubang dan melengkung, yang terbuat dari tepung terigu ini ternyata berasal dari Italia. Entah bagaimana makaroni yang dulu hanya bisa disajikan dengan hidangan berkuah, kini bisa dinikmati layaknya makanan kering seperti cemilan.

Entah siapa yang memulainya, makaroni berkuah diubah menjadi cemilan kering? Yang jelas, berpuluh-puluh pengusaha makaroni khusus cemilan banyak tumbuh di Kecamatan Cikoneng, Kabupaten Ciamis. Puluhan pengusaha itu, tak pelak memberikan kontribusi nyata dengan ribuan orang sekitar Cikoneng mengais rezeki dari renyahnya makaroni.

Seperti makaroni Cap Ikan Tawes yang dimiliki oleh H. Didin (42), warga Dusun Gunung Asih, Desa Margaluyu, Kecamatan Cikoneng. Dia sudah memulai usahanya itu dari tahun 2000.

Awalnya, Didin memproduksi cemilan makaroni perhari hanya mencapai 10 kg. Dia tak patah semangat, mengingat cita-citanya ingin membuat makaroni yang berkualitas dan higienis yang digemari masyarakat luas.

Soal rasapun dari yang semula memiliki rasa balado, kini Didin, dengan label produknya “DN”, mempunyai kemasan modern dengan empat rasa, yakni balado, kebab, jagung manis dan rasa terbaru lombok ijo.

“Bermula pasarnya kami lempar di pasar lokal, tapi lama-kelamaan akhirnya seluruh wilayah Jawa Barat bisa kami masuki dengan jumlah produksi 2,5-3 ton perhari,” ungkap H. Didin, Senin (4/5), di kediamannya.

Didin mengutarakan, seiring perkembangan zaman, kemasan makaroni yang hanya berkemasan plastik biasa, kini dirubah dengan kemasan alumunium foil. Selain itu, dia sudah memiliki armada berupa 7 unit mobil box besar, yang kini bertengger di garasi pabriknya.

“Seiring perkembangan mesin pengepakan, makanya tenaga kerja di bagian produksi dan pengepakan yang tadinya 200-300 orang, kini hanya berjumlah 60 orang. Tapi kualitas dan higienitas tetap terjaga,” katanya.

Dengan kemapanan usaha makaroninya, Didin mulai berinvestasi di bidang lain, seperti bidang otomotif dan olahraga. Di bidang otomotif, dia membuka bengkel mobil, dan di bidang olahraga dia membuka gedung futsal dengan label Gasela.

“Sambil usaha, kami juga ingin memberi sumbangan positif buat masyarakat, menyediakan lapangan kerja dan menyehatkan masyarakat,” imbuhnya.

Makaroni Dua Saudara

Di wilayah yang sama, ada lagi makaroni dengan merk Dua Saudara yang dimiliki oleh H. Dahlan Riyadi dengan perusahaan bernama UD Harapan Dua Saudara Top. Perusahaan yang didirikan tahun 1998 ini memiliki ratusan karyawan dengan sistem pembukaan depo di beberapa Kota di Jawa Barat, Banten dan Jakarta.

Makaroni Dua Saudara, dengan produksi makaroni siap santap dan makaroni mentah, dengan kemasan alumunium foil banyak melakukan pembaruan di bidang pemasaran. Setelah beberapa waktu kebelakang banyak membenahi kualitas produksi, yakni memperhatikan kualitas bahan terigu dan penyedap.

“Pada kemasan produk, kami cantumkan juga informasi kandungan gizi, mulai dari tepung terigu, tepung tapioka, garam, cabe, bawang putih, penyedap rasa sambal dan balado. Rasa dari makaroni yang kami buat tidak terlalu pedas. Jadi, anak usia empat tahun dan dewasa dijamin bisa menyantapnya. Dan semua itu ada standarnya,” ungkap CEO Dua Saudara, Redi Chandra, Senin (4/5).

Redi mengungkapkan, pihaknya melakukan inovasi pasar, yakni dalam hal manajemen distribusi. Dia mengaku sudah mulai membenahi sistem pemasaran Makaroni Dua Saudara secara besar-besaran.

“Depo atau pull kami didirikan di beberapa kota. Pemasaranpun kami tak membebek kepada produsen lain, agar tidak ada perang harga yang tidak sehat. Alhamdulilah ratusan tenaga kerja pemasaran bisa terekrut,” paparnya.

Redi menjelaskan, pihaknya sangat memperhatikan soal kesejahteraan para pegawainya.  Para tenaga pemasaran yang bekerja di Makaroni Dua Saudara ditawari gaji diatas UMR, bonus pun kerap diberikan.

“Tapi tenaga marketing kami, umumnya ingin diberi fee, bukan gaji, tak heran untuk tenaga pemasaran yang mengenakan roda dua saja, dalam sebulan minimal mengantongi pendapatan bersih Rp. 1,5 juta,” terangnya.

Makaroni Dua Saudara sudah menembus wilayah Bogor, Depok, Bekasi hingga ke Cempaka Putih Jakarta Pusat. “Kota besar kami masuki. Kami berani, karena kami yakin dengan memasang informasi komposisi gizi dan izin, malah kedepan kami akan mengurus barcode di kemasan, akan menjadi nilai lebih produk Makaroni Dua Saudara,” pungkasnya. ***

About author

Related articles

0 Comments

No Comments Yet!

You can be first to comment this post!

Leave a Reply