HUT RI di Bulan Ramadhan, Jualan Bendera Tak Laku ….

16/08/2012 0 Comments

Peringatan 67 tahun Kemerdekaan RI pada tahun ini tergolong istimewa. Pasalnya, jatuh di hari Jum’at dan bulan Ramadhan. Kondisi ini sama dengan ketika Soekarno-Hatta memproklamasikan Kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945, yang juga jatuh di hari Jum’at dan bulan Ramadhan.

Sejumlah pemuda yang membawa Soekarno dan Hatta ke Rangasdengklok, Jawa Barat, pada 16 Agustus 1945, sempat meminta agar proklamasi dibacakan hari itu juga. Namun, seperti ditulis wanita pejuang Lasmidjah Hardi, saat itu Soekarno menjawab “…tanggal 17 lebih memberi harapan kepadaku. Angka 17 adalah angka suci. Pertama-tama kita sedang berada dalam bulan suci Ramadhan, waktu kita semua berpuasa, ini berarti saat yang paling suci bagi kita. Tanggal 17 besok hari Jum’at legi. Jum’at yang berbahagia Jum’at Suci”.

Sedangkan tahun ini 17 Agustus jatuh pada hari Jum’at pon. Tak seperti beberapa tahun sebelumnya, mendekati perayaan Kemerdekaan RI tahun ini tak banyak terlihat bendera Merah Putih melambai-lambai di tepi jalan. Popularitas bendera seperti tertelan oleh segala macam kebutuhan menyambut Idul Fitri yang hanya dua hari dengan perayaan Kemerdekaan RI.

Sepinya pembeli membuat para pedagang bendera, gigit jari tak bisa menikmati keuntungan seperti tahun-tahu lalu. “Sepi, Pak. Hari ini baru dua orang yang beli bendera,” ujar pria asal Cirebon, Senin (13/8).

Sejak 1 Agustus, Dayat mulai berjualan bendera dengan membuka lapak di Ciamis dan Banjar. Dia ingin mengulang peruntungan tahun-tahun lalu dari berjualan bendera. Tahun lalu Dayat bisa mendapat Rp. 300 ribu hingga Rp. 400 ribu per hari. Sekarang ini sehari paling-paling Rp.50 ribu atau Rp.100 ribu tuturnya.

Dayat menjual bendera beragam ukuran, mulai dari yang panjangnya 60 cm hingga 1,8 meter dengan harga Rp.20 ribu sampai Rp.40 ribu. Model umbul-umbul dijual dengan harga Rp.25 ribu sementara yang memanjang Rp.300 ribu-Rp.350 ribu.

“Teman-teman saya yang jual bendera juga sudah ada yang pulang kampung. Nanti tujuhbelasan di kampung saja,” tambah Dayat. Dia mengaku, menjajakan bendera di Ciamis dan Banjar merupakan andalannya setiap tahun. Biasanya Dayat andalannya berdagang pakaian di Cirebon. “Dalam sepekan berjualan bendera, dia bisa memperoleh lebih dari Rp.1 juta. Itu sebabnya saya ke Ciamis dan Banjar dagang bendera,” dengang senyum yang kecut. Oh nasib. Dari kejadian ini akan diambil hikmahnya, mungkin Tuhan akan memberi rezeki yang lain di bulan suci Ramadhan yang penuh barokah. Hari Rabu (15/8) Dayat akan pulang kembali ke Cirebon, ucapnya. (bh)

About author

Related articles

0 Comments

No Comments Yet!

You can be first to comment this post!