Istilah Bata Dulag, tak Ada Lagi Bagi Pengrajin di Kota Banjar

16/08/2012 0 Comments

Dua orang pengrajin di sentra industri bata merah Kel. Pataruman tengah melakukan proses pencetakan bata. Menjelang Lebaran istilah bata dulag di Kota Banjar sudah lama hilang. Foto : Eva Latifah/HR.

Banjar, (harapanrakyat.com),- Para pengrajin bata merah di Kota Banjar mengaku bersyukur karena menjelang hari raya Lebaran tidak ada lagi istilah menjual bata dulag bagi mereka. Pasalnya, bata hasil produksinya selalu dibeli secara langsung oleh bandar.

Seperti diungkapkan Enok dan Usup, pengrajin di sentra industri bata merah, Kel/Kec. Pataruman, Kota Banjar, pada HR, Senin (6/8). Dia mengatakan, dengan banyaknya bandar bata merah membuat para pengrajin tidak perlu lagi menjual murah hasil produksi batanya ketika menghadapi Lebaran.

“Alhamdulillah di Banjar sudah lama juga tidak ada lagi istilah bata dulag karena sudah banyak bandar bata, sehingga kami tidak cemas lagi menghadapi Lebaran. Kalau dulu iya, setiap menghadapi Lebaran selalu cemas takut tidak ada yang beli. Makanya supaya cepet laku terpaksa bata dijual dengan harga murah,” tutur Enok.

Lanjut dia, bukan hanya itu, dengan banyaknya orang yang menjadi pengepul bata merah, para pengrajin tidak lagi kesulitan mendapatkan uang, baik untuk keperluan sehari-hari maupun sebagai tambahan modal usaha.

Meski harga jual ke pengepul lebih murah bila dibandingkan dengan harga penjualan ke konsumen secara langsung, namun hal itu tidak masalah bagi para pengrajin.

“Kalau dijual ke bandar harga satuannya 350 rupiah, sedangkan bila dijual langsung ke konsumen harganya 370 rupiah. Tapi, walaupun harganya lebih mahal kita harus sabar menunggu konsumen yang mau beli, sedangkan kebutuhan hidup sehari-hari tidak bisa ditunda-tunda. Dulu sebelum ada bandar sering kali bata yang sudah siap jual lama menumpuk di tobong,” ujarnya.

Berbeda dengan sekarang, begitu proses pembakaran selesai, pengepul akan datang untuk mengakut sekaligus membayar secara kontan, sehingga tidak lagi terjadi penumpukan bata di tobong.

Hal serupa diungkapkan Usup. Dia mengaku, dalam sehari Usup dibantu tiga orang pekerjanya mampu mencetak sebanyak 800 biji bata merah. Jumlah sebanyak itu dikerjakan dari jam 8 pagi hingga jam 12 siang.

“Bata yang sudah jadi tidak hanya dijual ke bandar saja. Kalau ada konsumen yang datang langsung ya saya jual saja, cuma harganya jangan di bawah harga bandar, sebab bandar juga menjual ke konsumennya 370 rupiah per biji, mereka hanya mengambil keuntungan 200 rupiah saja,” kata Usup.

Baik Enok maupun Usup mengaku, banyaknya bandar bata merah di Kota Banjar dirasakan sangat membatu bagi para pengrajin, terlebih pada saat menjelang Lebaran seperti sekarang ini. (Eva)

About author

Related articles

0 Comments

No Comments Yet!

You can be first to comment this post!