Kemarau Panjang Melanda Berbagai Wilayah di Ciamis

Kemarau Panjang Melanda Berbagai Wilayah di Ciamis

Rodi, warga balemoyan, terpaksa mengambil air di sumur buatan, yang lokasinya berjarak hampir 1 kilometer. Hal itu dia lakukan untuk memenuhi kebutuhan air bersih keluarganya. Foto : Eli Suherli/HR.

Banjarsari, (harapanrakyat.com),- Sedikitnya 300 Kepala Keluarga (KK) di wilayah RT 2/1 Dusun Pangsor Desa Ciulu Kec. Banjarsari dilanda kekeringan tiga bulan terakhir ini. Saat ini, mereka sangat kesulitan untuk memenuhi kebutuhan air bersih, karena sumur-sumur mereka tidak menyisakan air sedikitpun.

Oing (39), warga Ciulu, Selasa (28/8), mengatakan, kebutuhan air bersih di wilayah tersebut sangat mendesak. Dia mengaku, kondisi yang melanda seluruh warga di Dusun Pangsor mengkhawatirkan.

Senada dengan itu, Maryo (41), warga lainya, mengungkapkan, dirinya dan warga lain sangat kebingungan memenuhi kebutuhan air bersih. Pasalnya, mata air pondok Sereh yang sejak dulu menjadi sumber air warga setempat saat kemarau, kali ini pun ikut kekeringan.

Apud (38), menceritakan, mayoritas warga Dusun Pangsor terpaksa harus berjalan kaki dengan menempuh jarak sekitar 5 sampai 7 kilometer untuk mendapatkan air bersih. Sekali pergi, Apud dan warga lain paling banyak membawa antara 3 sampai 5 jerigen air bersih.

Kepala Desa Ciulu, H. Ramli, saat dimintai keterangan, di kantornya, membenarkan kondisi yang dialami warganya itu. Menurut dia, kekeringan sudah melanda wilayahnya sekitar 3 bulan terakhir.

Ramli menyebutkan, untuk mengatasi hal itu, pihaknya membutuhkan biaya sekitar Rp 155 juta, untuk program fasilitasi dan pipanisasi air bersih yang menempuh jarak 7 kilometer, menuju sumber mata air yang ada di wilayah Desa Panyutran Kec. Padaherang.

Pada kesempatan itu, Ramli sangat berharap, Pemerintah Kab. Ciamis, dan pihak PDAM bisa mengulurkan bantuan kebutuhan air bersih untuk warganya.

Sementara itu, di wilayah Kec. Baregbeg Ciamis, kekeringan juga melanda warga yang ada di Dusun Balemoyan Blok Sudimampir Desa Mekarjaya. Namun begitu, untuk memenuhi kebutuhan air bersih, warga setempat terpaksa membuat sumur di sekitar Sungai Cihaniwung, yang berada di wilayah tersebut.

Darsim, warga Balemoyan, Minggu (26/8), mengatakan, penggalian sumur tersebut sudah menjadi tradisi setiap datang kemarau panjang. Alasannya, air bersih yang mereka butuhkan berkurang, sebab sumur milik warga sudah mulai mengering.

Menurut Darsim, adanya sumur buatan tersebut, digunakan untuk memenuhi kebutuhan air bersih untuk tiga RT di Dusun Balemoyan. Bahkan, siang harinya, banyak warga dari luar Balemoyan mengambil air dari sumur tersebut.

“Meski harus menempuh jarak jauh sekitar 1 kilometer, dan kondisi jalan terjal, warga terpaksa harus mengambil air untuk mencukupi kebutuhan air bersih selama musim kemarau panjang ini,” ungkapnya.

Tidak hanya itu, kekeringan juga melanda di wilayah Desa Ciakar Kec. Cipaku. Kondisi tersebut membuat sejumlah pemudik yang kebetulan sedang pulang kampung menjadi tidak nyaman.

“Rencananya kami sekeluarga mau berlama-lama di sini. Tapi, berhubung sulit air, rencana itu jadi kami batalkan,” kata Omo Kismanto, pemudik asal Serang, di Ciakar Kec. Cipaku.

Kesulitan mendapatkan air juga dirasakan pemudik lain, seperti Sahman dari Depok, dan Rahmat dari Tasik. Kekeringan yang melanda wilayah Ciakar tersebut membuat mereka tersiksa, apalagi saat sedang kebelet BAB (buang air besar), dan mandi.

Menanggapi kondisi tersebut, Lili, petugas PAM (Perusahaan Air Minum) Desa Ciakar, mengatakan, pihaknya terpaksa membuat jadwal kebutuhan aliran air untuk mandi dan minum secara bergilir.

“Berhubung sangat terbatas, tetap saja air ada yang kebagian ada yang tidak, terlebih di hari-hari lebaran kebutuhan air untuk rumah tangga sangat meningkat,” pungkasnya. (ntang/es/dji)

KOMENTAR ANDA

Komentar

Related articles