Pedagang Bendera Berharap Raup Untung di Bulan Ramadhan

16/08/2012 0 Comments

Iwa Kustiwa (54), salah satu pedagang bendera yang mulai memajang dagangannya di Jl. Batulawang, tepatnya sekitar jembatan Viaduct, sejak bulan Juli lalu. Foto : Pepep Riswanto Akbar/HR.

 Menjelang 17 Agustus, pedagang bendera mulai terlihat dadasar di setiap sudut Kota Banjar

Pepep Riswanto Akbar

Memasuki bulan Agustus, sejumlah pedagang bendera di Kota Banjar semakin marak terlihat di beberapa sudut perkotaan. Para pedagang mengaku, biasanya puncak penjualan paling banyak terjadi pada tanggal 16 Agustus, satu satu hari menjelang tanggal 17 Agustus sebagai hari kemerdekaan RI.

Seperti halnya dialami Iwa Kustiwa (54), salah satu pedagang bendera yang mulai memajang dagangannya di Jl. Batulawang, tepatnya sekitar jembatan Viaduct, sejak tanggal 25 Juli lalu. Saat ditemui HR, Senin (30/7), Iwa menuturkan bahwa dirinya menjadi pendagang bendera musiman sudah dijalaninya sejak peringatan Hari Ulang Tahun Kemerdekaan Republik Indonesia yang ke-45.

“Kalau sekarang kan peringatan HUT RI ke-66, jadi saya sudah cukup lama menjadi pedagang bendera musiman. Biasanya memang sok marema, apalagi pas tanggal 16 Agustusnya nanti. Tapi sekarang-sekarang mah masih sepi pembeli,” tutur warga pendatang dari Tasikmalaya yang telah menetap di Kota Banjar selama 5 tahun.

Namun menurut Iwa, sepinya pembeli bukan karena peringatan HUT RI tahun ini bertepan dengan bulan Ramadhan, lantaran pada perayaan HUT RI tahun kemarin pun sama.

Setiap hari Iwa mulai dadasar barang dagangannya dari pukul 7 pagi hingga pukul 5 sore. Meski demikian, pendapatan dari hasil penjualan bendera hanya cukup untuk kebutuhan makan keluarganya sehari-hari saja.

Padahal, harga bendera yang ditawarkan Iwa relatif murah bila dibandingkan dengan harga bendera di pedagang lainnya. Untuk bendera ukuran paling kecil dijual seharga Rp.1.500. Sedangkan, bendera ukuran paling besar harganya mencapai Rp.30 ribu.

Walau hanya mengambil keuntungan sedikit, kata Iwa, yang penting dagangannya bisa laku banyak setiap harinya. Dia berharap pendapatannya dari hasil penjualan kain bendera di tahun ini bisa meningkat.

Kain bendera yang terbungkus plastik masih terlihat menumpuk. Untuk mendapatkan tambahan penghasilan, dirinya sengaja tidak hanya menjual bendera saja, namun juga menjual beberapa stiker/gambar tempel.

“Mun teu bari ngajual nu lain mah mungkin untuk makan sehari-hari juga akan sangat kurang. Walaupun persediaan stikernya tidak banyak, tapi ya lumayan ada buat tambahan,” ujar Iwa. ***

About author

Related articles

0 Comments

No Comments Yet!

You can be first to comment this post!

Leave a Reply