Pengrajin Tahu Tempe Ciamis & Banjar Menjerit

16/08/2012 Headline
Pengrajin Tahu Tempe Ciamis & Banjar Menjerit

(Harga Kedelai Melonjak)

Seorang pengrajin tengah memproses pembuatan tahu. Meski harga kedelai naik, produksi tahu di Ciamis tetap berjalan. Foto : Dicky Haryanto Adjid/HR.

HR, (News),- Sejumlah pengrajin tahu dan tempe di Kota Banjar mengeluh lantaran harga kacang kedelai melonjak drastis. Kenaikan harga kedelai yang selama ini menjadi bahan utama pembuatan tahu dan tempe membuat pengrajin menjerit.

Harga kedelai yang biasanya berkisar Rp 5.500-Rp 6.500 per kilogram, sejak dua pekan terakhir naik menjadi Rp 7.800 per kilogram. Jika kenaikan itu terus berlanjut, diperkirakan banyak pengrajin yang gulung tikar.

Untuk itu, para pengrajin berharap pihak Pemerintah Kota Banjar bisa memberikan subsidi atas kenaikkan harga kedelai yang terus melambung tinggi.

Ecah (50), salah satu pengrajin di sentra industry tempe, Ling. Parunglesang, Kel/Kec. Banjar, Kota Banjar, mengatakan, kenaikan harga kedelai ini cukup menyulitkan pengrajin.

Pasalnya, jika harga tempe nanti dinaikkan tentu pembeli tidak mau lagi membeli tempe. Namun jika tidak dinaikkan, keuntungannya tidak bisa menutup biaya operasional yang berarti kerugian di depan mata.

“Sementara ini kami tidak menaikkan harga tempe. Tetapi kami menyiasati dengan mengecilkan ukuran dari biasanya. Tapi  kalau begini terus pembeli akan protes dan tentunya lama-kelamaan tidak mau lagi membeli tempe. Jika ini dibiarkan, kami akan rugi,” katanya, Jum’at (27/7).

Ecah juga mengaku, meski sampai saat ini tidak mengalami kesulitan dalam pemasaran, namun dia berharap pemerintah dapat membantu memberikan jalan keluarnya guna menekan kenaikan harga agar tidak melonjak tinggi.

Keluhan dan harapan serupa diungkapkan Anah (56), pengrajin di sentra industry tahu Dusun Parung, Desa Balokang, Kec/Kota Banjar. Menurutnya, kenaikkan harga kacang kedelai dari sekitar Rp.5.500 per kilogram menjadi Rp.7.800 per kilogram membuat para pengrajin merasa sangat kesulitan.

Pasalnya, kenaikkan harga komoditas tersebut mengakibatkan keuntungan yang didapat para pengrajin sangat tipis sekali. Sedangkan, jika harus menaikkan harga jual tahu ke konsumen, Anah mengatakan bahwa hal itu bukan suatu solusi yang tepat bagi pengrajin.

“Kondisi ini sangat dilematis bagi para pengrajin, sebab kalau harga jualnya dinaikkan ataupun mengurangi kuantitas, itu resikonya nanti kami malah kehilangan pelanggan. Tapi saya juga mengurangi sedikit ukuran tahunya. Jadi sekarang pengrajin tetap memproduksi tahu meski keuntungannya sangat tipis. Sebaiknya pemerintah segera mencarikan solusi supaya pengrajin tahu maupun tempe tidak lagi mengalami kesulitan seperti yang dialami sekarang ini,” harap Anah.

Amir Kusmaya, S.Pd, Produsen tahu Tiga Mutiara, Desa Muktisari Kec. Cipaku, beberapa waktu lalu, mengatakan, bahan baku pembuaatn tahu memang tidak sulit didapat. Hanya saja, kata dia, akhir-akhir belakangan ini harganya sangat mahal.

Karena alasan itu, lanjut Amir, biaya produksi yang harus dikeluarkan perusahaan menjadi semakin membengkak. Dia menegaskan, dalam memproduksi tahu, biaya tidak hanya dikeluarkan untuk bahan baku saja, melainkan meliputi biaya kerja.

“Di samping itu juga meliputi biaya kerja tidak langsung serta biaya over head perusahaan. Dan itu merupakan biaya-biaya yang harus dikeluarkan dalam kegiatan pengolahan bahan baku hingga produk siap jual,” ungkapnya.

Menurut Amir, biaya produksi tersebut akan membentuk harga pokok produk, sehingga bila ditambah dengan biaya non-produksi akan membentuk harga produksi. Dengan perhitungan harga kedelai yang sangat mahal yakni mencapai Rp 8.500 perkilogram, jelas tidak akan mampu memenuhi biaya produksi apalagi mendapatkan untung.

Herdis Prianto, SP., Produsen tahu bulat asal Dusun Cijoho, Jum’at (27/7), mengatakan, bahan baku kedelai yang dia gunakan untuk pembuatan tahu bulat, yaitu kedelai impor sebab kualitasnya lebih baik.

Menurut Herdis, menghadapi lonjakan harga kedelai yang terus melambung naik, pihaknya mengambil solusi dengan mengubah ukuran tahu, menjadi lebih kecil. Hal itu sengaja dia lakukan agar perusahaan miliknua bisa terus bertahan, mencari untung, serta menutupi ongkos produksi.

Sementara itu, keluhan yang serupa juga datang dari pengusaha/ produsen tahu dan tempe di wilayah Kecamatan Banjarsari. Salah satunya Tamrin (52), produsen tempe dari Cikohkol Desa Sukasari Kec. Banjarsari.

Ketika ditemui HR, Jum`at (27/7), Tamrin mengaku sangat kewalahan dengan kenaikan harga kedelai. Menurut dia, harga tersebut sangat mahal, dan membuatnya bingung saat akan memproduksi tempe.

Pengusaha Tempe lainnya, Wardan, dari Dusun Sukahurip Sukasari, juga mengaku kebingungan ketika akan menaikkan harga jual tempe yang biasa dia produksi. Dia khawatir, konsumen/ pelanggan yang biasa membeli tempe buatannya jadi kabur.

Lagi-lagi, untuk menyiasati kenaikan harga bahan baku kedelai, Wardan terpaksa memproduksi tempe dengan ukuran yang baru, yakni lebih kecil dari tempe yang dia buat sebelum-sebelumnya.

Tidak hanya itu, Iin (35), Produsen tahu Cikohkol, mengungkapkan, banyak pengusaha serupa seperti dirinya terancam gulung tikar lantaran kenaikan bahan baku kacang kedelai yang terjadi minggu-minggu belakangan ini.

Iin dan produsen tahu dan tempe yang lainnya berharap, harga kedelai di pasaran kembali normal. Dengan begitu, produski tahu dan tempe bisa lebih meningkat, dan konsumen tidak lagi mengeluhkan ukuran juga harga jual tahu serta tempe.  (eva/Andri/ dji)

KOMENTAR ANDA

Komentar

Related articles