Tata Niaga Kedelai Jamin Pasokan dan Harga

16/08/2012 0 Comments

Tahun 1987, Ciamis mempunyai sentra kedelai lokal yakni di Kecamatan Banjarsari, dalam panen raya mampu produksi ratusan Ton, tapi kini hanya tinggal riwayat, selain karena banyak dijual dipasaran juga karena tahun 1996 subsidi kedelai dicabut seiring tata niaga Kedelai oleh Bulogpun dicabut. Kini di semua daerah Indonesia dibanjiri produk kedelai impor. Foto : Dicky Haryanto Adjid/HR.

Kopti sepakat peran Bulog stabilkan harga

HR, (News),–  Untuk meredam gejolak harga kedelai, pemerintah atau kalangan pemangku jabatan di bidang per-kedelai-an seharusnya menyiapkan tata niaga kedelai karena komoditas tersebut banyak dikonsumsi masyarakat Indonesia. Tata niaga kedelai menjadi salah satu upaya menjamin pasokan dan harga kedelai di pasaran.

“Tata niaga diperlukan untuk menjamin pasokan dan keterjangkauan harga oleh konsumen,” kata Bendahara Kopti Ciamis, Oyo Sunaryo, belum lama ini.

Oyo mengatakan, bahwa pihaknya memimpikan tataniaga kedelai untuk tingkat propinsi dan kabupaten/ kota bisa dipegang oleh Kopti.

“Jadi harganya bisa terkendali. Biasanya, kalau harga di pasar lebih murah, produsen tahu tempe beli ke pasar, tapi memang harganya selalu naik-turun. Beda seratus rupiah per kilo saja, produsen langsung lari ke bandar,” paparnya.

Pada kesempatan itu, Oyo menandaskan, pihaknya sudah berupaya meminta pemerintah untuk memberlakukan kembali sistem subsidi kedelai. Menurut dia, komoditas strategis harusnya disubsidi agar harganya bisa terkendali, petani untung, dan produsen untung.

Oyo mengakui, di tengah kelangkaan kedelai di pasar Nasional yang berdampak ke sejumlah daerah, hampir-hampir saja meluluhlantakan perajian tahu dan tempe. Akibat pergerakan harga kedelai, hanya dalam hitungan satu bulan, dari Rp. 5.800 hingga Rp. 8.000,- , perajin dan pengusaha tempe dan tahu bak tersambar petir di siang bolong.

Tidak terkecuali di Kab. Ciamis, lanjut Oyo, para pengrajin khawatir, jika harga jual dinaikkan kosumen akan lari, sementara jika tidak dinaikkan justru akan merugi. Drama dari buah simalakama kelangkaan kedelai ini menggores ratusan ribu wajah pengrajin tahu dan tempe.

“Baru kali ini pergerakan harga kedelai satu bulan penuh. Biasanya ada jarak setiap tiga bulan, ini hampir tiap hari, bagaimana kami tidak keder,” ungkap seorang perajin tahu, Cisadap, Kodir, Senin (30/7).

Kodir mengatakan, menyikapi kondisi naikknya harga kedelai saat ini, pihaknya mengaku telah berunding dengan Koperasi Produsen Tahu & Tempe Indonesia (Kopti) Wilayah Jawa Barat dan Dewan Kedelai Nasional, beberapa hari lalu di Bandung.

“Dalam pertemuan itu, kami sepakat dengan sikap Dewan Kedelai, bahwa harus ada Tata Niaga Kedelai, seperti dulu yang dipegang oleh Bulog. Dan ada program swasembada kedelai, jadi suplai kedelai lokal bisa memenuhi pasar,” tambahnya.

Menurut Kodir, jika swasembada kedelai bisa terwujud, maka kran impor kedelai degan otomatis akan terbatasi. Selain itu, keinginan petani untuk menanam kedelai bisa semakin bergairah.

“Produsen tahu tempe pun terjamin ketersediaan kedelai. Perlu diketahui, bahwa kedelai lokal juga memiliki kualitas yang cukup bagus, tidak ada pasirnya,” paparnya.

Wawan, produsen tempe di lingkungan Cibeureum Sindangrasa, juga mengatakan, bahwa gejolak harga kedelai sempat membuatnya panik. Akhirnya, dia menyiasati kenaikan tersebut, dengan mengurangi volume produksi.

“Kualitas tetap sama, hanya volume kami siasati supaya harga jual tetap sama. Tapi kalau produses yang lain menaikkan harga, kami juga ikut, yang penting konsumen tidak lari saja,” ucapnya.

Kopti sepakat peran Bulog stabilkan harga

Sejumlah produsen tahu dan tempe yang tergabung dalam Koperasi Produsen Tahu Tempe Indonesia (Kopti) Ciamis, menyepakati adanya tata niaga kedelai dengan melibatkan peran serta Badan Urusan Logistik (Bulog).

“Dalam pertemuan yang digelar di Bandung itu, kami sepakat dengan sikap Dewan Kedelai Nasional, bahwa harus ada Tata Niaga Kedelai, seperti dulu yang dipegang oleh Bulog, seta program swasembada kedelai. Jadi, suplai kedelai lokal bisa memenuhi pasar,” kata Kodir, Produsen tahu Cisadap Kab. Ciamis, juga anggota Kopti Ciamis.

Menurut Kodir, Dewan Koperasi Indonesia Wilayah (Dekopinwil) Jawa Barat juga mendukung rencana tata niaga kedelai di Indonesia dengan melibatkan Badan Urusan Logistik (Bulog) untuk menjamin keamanan pasokan dan kestabilan harga kedelai.

Sementara itu, produsen tahu dan tempe yang enggan dikorankan, mengatakan, peran Bulog dalam hal ini bukan sebagai pemain dalam perdagangan kedelai, namun sebagai penunjang ketersediaan bahan baku tempe dan tahu.

Di samping itu, Bulog juga diberikan keleluasaan untuk melakukan pembelian kedelai baik melalui impor maupun melalui penyerapan dari petani. Keterlibatan Bulog dalam tata niaga kedelai tidak keluar jalur, karena institusi itu bertanggung jawab untuk ikut menjamin ketersediaan bahan pokok.

Menurut sumber HR tersebut, dengan keterlibatan Bulog kembali dalam tata niaga kedelai, maka dipastikan ketersediaan dan harga kedelai bisa terjamin, meski pengaruh mahalnya harga kedelai dunia sangat terasa pengaruhnya.

“Wacana pemerintah untuk melibatkan Bulog dalam tata niaga kedelai adalah tepat. Di sisi lain, pemerintah juga harus melakukan langkah signifikan, salah satunya mengevaluasi kehadiran kartel yang bermain di pasaran, itu harus ditiadakan,” katanya.

Pada kesempatan itu, dia juga berharap, Bulog harus berperan aktif dalam menyerap kedelai petani, dengan harga yang beraing dan merangsang bagi petani. Sementara ini, harga kedelai memang lebih murah dari beras, sehingga petani masih memilih menanam padi.

Dia yakin, dengan kecangggihan teknologi, pengembangan kedelai bisa berhasil. Dengan syarat, ada peningkatan pendapatan petani dari hasil menanam kedelai, salah satunya dengan menaikan harga beli kedelai.

“Bila harga menggairahkan, petani akan kembali menanam kedelai. Dan melalui program swasembada, diharapkan ketergantungan kedelai impor bisa dikurangi,” pungkasnya. (dk/dji)

About author

Related articles

0 Comments

No Comments Yet!

You can be first to comment this post!