Buaya Siluman di Citanduy Gegerkan Warga

06/09/2012 1 Comment

Laporan : Deni & Nanang

Fenomena kemunculan buaya berwarna kuning, putih abu-abu membuat geger warga Desa Waringinsari. Pasalnya, beberapa hari belakangan ini, buaya tersebut seringkali muncul di permukaan air Sungai Citanduy yang ada di wilayah Desa Waringinsari Kec. Langensari, Kota Banjar.

Kemunculan buaya berwarna kuning, putih dan abu-abu di Sungai Citanduy wilayah Waringisari, Kec. Langensari, membuat geger warga Desa Waringinsari. Foto : Nanang/HR.

Buaya siluman itu pertama muncul Rabu (23/8), tiga hari setelah Hari Raya Idul Fitri 1433 H pada pagi hari pukul 9.30. Peristiwa itu terjadi mungkin karena musim kemarau, air Citanduy mulai berkurang. Ada cerita bila buaya siluman Citanduy agar muncul dan memangsa korbannya binatang atau manusia, buang daun kemangi (daun surawung) ke Citanduy tak selang berapa lama akan muncul, buaya siluman yang menjadi buah bibir masyarakat Banjar tempo dulu. Dikenal dengan nama buaya putih panjang 6 menter diperkirakan beratnya 5 kuintal berwarna hitam dan tempat mukimnya di blok Siluman Desa/Kec Purwaharja bagian selatan atau di Blok Parunglesang Desa/Kec Banjar di sebrangnya, dua wilayah itu Citanduy menjadi pembantas. Sekarang di tempat itu sudah dibangun jembatan baru yang menghubungkan ke terminal bus Kota Banjar. Satu lagi buaya siluman bernama buaya buntung. Konon ceritanya buaya buntung itu peliharaan Embah Wadana Jembrong, mukimnya di sasak besi belakang Pendopo Kota Banjar sekarang.

Menurut cerita pada tahun 60-an, bila ada sekelompok buaya yang beriringan melawan arus Citanduy, merupakan pertanda akan datang musim kemarau dan sebaliknya akan terjadi banjir di Citanduy. Markas tempat berkumpul buaya-buaya siluman Citanduy tempatnya di Rajagosi muara sungai Cijolang ke Citanduy. Di Rajagosi, tempat pemujaan orang-orang yang ingin kaya, punya jabatan yang berpengaruh, atau memperdalam ilmu santet aliran buaya. Di Kota Banjar ada tempat bertapa untuk meminta kesugihan, yang berada di tengah Rawa Onom disebut Pulau Majeti dengan Ratu  Ganda Wati yang berkiblat ke Ratu Laut Selatan Nyi Roro Kidul.

Sejumlah warga meyakini buaya yang muncul di wilayah mereka itu sebagai “Penjaga” Sungai Citanduy. Bahkan sejak kemunculannya, warga dari berbagai penjuru datang ke tempat itu untuk menyaksikan buaya tersebut.

Menurut Supardi, Tokoh Spiritual di daerah setempat, Jum`at (31/9), mengatakan, buaya yang beberapa hari ini sering muncul di Sungai Citanduy, merupakan bukan buaya biasa. Buaya tersebut tidak akan mengganggu, selama dirinya merasa tidak diganggu.

Lebih lanjut, Supardi mengaku sudah melakukan kontak atau komunikasi secara “ghaib” dengan sosok buaya yang ada di sungai Citanduy. Sejak saat itu, dia mengaku didatangi dua anak perempuan, yang satu usia tanggung, dan yang satunya usia perawan.

Kedua anak perempuan itu, kata Supardi, memiliki kepala berbentuk kepala buaya. Keduanya mengaku diutus dan mewakili 20 buaya lainnya, untuk melakukan kontak dengan Supardi.

“Saya dipersilahkan untuk berkomunikasi dengan pemimpin mereka (buaya-red), yang bernama Kyai. Singa Menggala. Sayangnya, saya tidak sempat bertanya soal asal-usul, dan tujuan mereka datang ke daerah sini,” ungkapnya.

Di samping itu, Supardi juga menceritakan, sejak dulu, aliran sungai Citanduy mulai dari Dusun Rancabulus Desa Rejasari sampai Dusun Purwodadi Desa Waringinsari dihuni oleh seekor buaya putih jadi-jadian, yang bernama Kyai. Majabuntung (penunggu).

Sementara menurut cerita masyarakat, di wilayah Desa Rejasari, terdapat seorang pawang buaya bernama Mbah Bonar. Kisahnya, Mbah Bonar dapat berbicara dengan buaya yang ada di sepanjang Sungai Citanduy.

Aktifitas sehari-hari Mbah Bonar adalah menjaga warga di wilayah Sungai agar tidak diterkam buaya. Hingga suatu ketika, seorang warga meminta tolong pada Mbah Bonar, karena salah satu anggota keluarganya hilang di sungai.

Warga itu khawatir, kalau anggota keluarganya tersebut telah dimakan oleh buaya. Mbah Bonar pun pergi ke hulu sungai, dia mengambil selembar daun sirih dan mengucapkan mantera kemudian menjatuhkannya ke sungai. Perlahan daun sirih tersebut mengalir mengikuti arus sungai diikuti oleh Mbah Bonar.

Tak beberapa lama kemudian, tiba-tiba daun sirih tersebut berhenti pada suatu tempat, padahal arus sungai tetap mengalir. Mbah Bonar langsung mengganti pakaiannya dan masuk ke dalam sungai tersebut.

Ketika sampai di dasar sungai, Mbah Bonar bertemu dengan sekumpulan buaya, Mbah Bonar kemudian bertanya, “Siapa diantara kalian yang telah memakan manusia? Namun tak seekorpun dari buaya tersebut menjawabnya. Tidak jauh dari tempat kumpulan buaya tersebut Mbah Bonar medapati seekor buaya yang sedang menyendiri.

Mbah Bonar menghampiri buaya itu, dan bertanya hal yang sama kepada buaya tersebut. Ketika ditanya, buaya tersebut kelihatan ketakutan dan tak mau bergerak. Namun, Mbah Bonar melihat ada sesuatu yang disembunyikan oleh buaya tersebut di bagian bawah tubuhnya.

Akhirnya, Mbah Bonar memerintahkan buaya tersebut agar beranjak dari tempatnya. Betul saja, Mbah Bonar menemukan gundukan pasir yang di dalamnya ada mayat manusia. Mbah Bonar membujuk sang buaya agar mau ikut ke permukaan. Dia berjanji akan memberi cincin dan gelang emas, jika buaya itu mau menurutinya.

Singkatnya, setelah Mbah Bonar memberikan mayat manusia tersebut pada keluarganya, dia kemudian mengambil tali rotan dan mengikat keempat kaki buaya tersebut. Setelah mengikatnya, Mbah Bonar menarik rotan itu dan mengikatkannya pada empat pohon sesuai dengan letak kaki buaya.

Mbah Bonar berkata kepada sang Buaya, “Jika kamu kuat, cobalah dengan sekuat tenagamu untuk melepaskan diri!” Buaya tersebut meronta-ronta, tapi ia tak dapat melepaskan diri. Mbah Bonar mengambil rotan yang lainnya dan memukul buaya tersebut. Buaya itu hanya diam, dan meneteskan  air mata (yang disebut air mata buaya) bisa dipakai jimat untuk orang yang percaya katanya akan mendapat keberuntungan dalam hidup di dunia, dan kemudian buaya yang memangsa manusia itu mati.

Beberapa tahun dari kejadian itu, Mbah Bonar meninggal dunia. Mbah Bonar terkena kutukan karena pekerjaannya sebagai pawang buaya. Setelah kematiannya, Mbah Bonar berganti wujud menjadi seekor buaya.

Tiga tahun berselang, anak-anak Mbah Bonar mengadakan selamatan, memperingati kematian ayahnya. Hingga suatu malam, salah satu dari anak tersebut, bermimpi didatangi Mbah Bonar. Dalam mimpi itu, Mbah Bonar berpesan agar anaknya tetap tinggal di tepian sungai dan mencari penghasilan dari sungai.

Si anak pun mematuhi permintaan ayahnya. Setiap pagi, dia dia menjala ikan, dan ikan yang dia dapatkan jumlahnya selalu melimpah. Ikan-ikan yang dia dapatkan akhirnya bisa memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.

Dan pada suatu waktu, ketika si anak akan pergi mencari ikan, dia bertemu dengan seekor buaya aneh, tidak berekor alias buntung. Sekian lama saling bertatapan, si anak kemudian ingat tentang kutukan yang didapat oleh ayahnya.

Anak tersebut berbicara kepada sang buaya, “Jika kamu adalah ayahku, maka kamu jangan bergerak, karena aku akan membuatkan kamu sebuah rumah!” Dan benar saja, buaya tersebut terdiam. Akhirnya si anak merasa yakin, bahwa buaya tersebut merupakan jelmaan dari ayahnya.

Sebagian masyarakat percaya kebenaran cerita tersebut. Buktinya, hingga sekarang tidak pernah ada warga Desa Rejasari yang dimakan buaya. Mereka percaya, bahwa Mbah Bonar selalu menjaga di sekitar sungai.

Setelah Orde Baru Daerah Aliran Sungai (DAS) dibangun, juga DAS Citanduy, waktu mulai jarang cerita soal buaya siluman menampak diri. Tapi setelah reformasi buaya siluman yang dihebohkan warga muncul kembali menjadi buah bibir seperti cerita kisah atas. Ternyata cerita yang abadi terus diingat masyarakat, yaitu cerita kehidupan buaya darat. ***

About author

Related articles

1 Comment

  1. Nickname May 18, at 00:13

    hahaha cerita dr siapa tuh bos??langsung dr keluarga bonar gak??tau nama aslinya bonar gak??sy buyutnya

    Reply

Leave a Reply