Gong Perdamaian Dunia Jangan Hanya Formalitas

13/09/2012 0 Comments

Wakapolri Komjen, Nanan Soekarna, dan sejumlah pejabat penting di wilayah Priatim, saat memperingati Gong Perdamaian, di Situs Budaya Ciung Wanara Karangkamulyan Cijeunjing Kab. Ciamis. Foto : Dian Sholeh Wardiana Putra/HR.

Ciamis, (harapanrakyat.com),- Wakapolri Komjen, Nanan Soekarna, berharap, monumen Gong Perdamaian Dunia tidak hanya sekedar sebagai simbol yang bersifat formalitas semata, tetapi harus dijadikan sebagai alat perekat untuk mewujudkan perdamaian di seluruh Indonesia, khusus di wilayah Priangan Timur.

“ Sesuai dengan doktrin kepolisian tentang tata tentrem, polisi harus menjadi garda terdepan dalam menciptakan perdamaian di Indonesia ini. Makanya, melalui peringatan gong perdamaian ini, kita ingin menciptakan ketentraman dan kedamaian, mulai dari wilayah kecamatan, kabupaten/kota, provinsi dan seluruh Indonesia. Kita berharap moment ini menjadi perekat untuk menciptakan perdamaian, “ ujarnya, usai menghadiri acara peringatan gong perdamaian, di Situs Cagar Budaya Karangkamulyan, Kab. Ciamis, Minggu (9/9).

Nanan menambahkan, tugas kepolisian tidak hanya sebagai penindak pelaku kejahatan semata, tetapi juga harus mampu melakukan upaya pencegahan. “ Nah, melalui moment gong perdamaian ini sebagai upaya polisi dalam melakukan pencegahan. Makanya kita mengajak seluruh element untuk membubuhkan tandatangan sebagai bentuk komitmen untuk menciptakan perdamaian, “ ujarnya.

Nanan juga meminta peranan media dalam turut serta menciptakan perdamaian. Menurutnya, media harus bisa menyajikan informasi sebaik mungkin, agar tidak memicu sebuah konflik, tetapi tanpa harus mengurangi subtansi dari sebuah pemberitaan. “ Kita pun mengajak kepada teman-teman media, mari kita ciptakan perdamaian di Indonesia ini,” imbuhnya.

Menurut Nanan, monumen gong perdamaian dunia ini sudah disebar ke sejumlah negara. Karenanya, Indonesia sebagai penggagas gong perdamaian ini, harus menjadi contoh kepada negara lain bahwa bisa menciptakan perdamaian. “ Jangan sampai kita yang membuat ide ini, tetapi di Indonesia justru tidak bisa menciptakan perdamaian, “ katanya.

Pada acara tersebut, Wakaporlri Komjen Nanan Soekarna didampaingi Direktur Binmas Polri, Pangdam 3 Siliwangi yang diwakili Danrem Tarumanegara, Kapolda Jabar yang diwakili Wakapolda, sejumlah Kepala Daerah di wilayah Priangan Timur, Presiden Komite Gong Perdamaian Dunia, sejumlah tokoh masyarakat, serta sesepuh adat di wilayah Priangan Timur.

Pendiri Gong Perdamaian yang juga mantan Kapolwil Priangan, Brigjen Pol, Anton Charliyan, menyebutkan, dipilihnya situs budaya Karangkamulyan sebagai tempat untuk mendirikan gong perdamaian, karena melihat sejarah dulu Karangkamulyan merupakan kota pertama yang mengedepankan perdamaian.

Diambilnya momen Serba Sembilan, menurut Anton, karena angka Sembilan-sembilan melambangkan Asmaul Husna, berdirinya Kerajaan Galuh juga tanggal Sembilan “makanya kita ambil momen tanggal sembilan,”  ujarnya menjelaskan.

Dengan adanya Gong perdamaian di Karangkamulyan, karena melambangkan perang saudara tidak boleh, dan negara-negara lain juga dulu apabila bersengketa ddamaikannya di Kerajaan Galuh. Dulu Kediri dengan Sriwijaya berkelahi didamaikan oleh Prabu Dharmasiksa di Kerajaan Galuh.

“Kalau kita membicarakan perdamaian tidak memandang suku, bangsa, dan agama. Dan di tempat ini ada ikan tumpai yang bentuknya panjang, itu melambangkan perdamaian. Ikan tumpai hanya ada di Indonesia,” pungkasnya. (DSW)

About author

Related articles

0 Comments

No Comments Yet!

You can be first to comment this post!