Kadisdik & Kapolres Sepakat Bentuk BNK Secara Kelembagaan

13/09/2012 0 Comments

(Korban Over Dosis Merajah Usia Belasan Tahun)

Banjar, (harapanrakyat.com),- Kasus penyalahgunaan obat-obatan kesehatan berdosis tinggi kembali terjadi di Kota Banjar. Setelah lima orang anak berusia belasan tahun menenggak pil Dextro dan minuman keras (miras.red), di empat lokasi berbeda pada Sabtu Malam, (8/9). Dua orang dinyatakan tewas, dua masih menjalani perawatan intensif di RSUD kota Banjar, dan satu orang sudah diperbolehkan pulang.

Dua korban tewas tercatat atas nama Deni (18) warga Tanjungsukur, Kelurahan Hegarsari, Kec. Pataruman dan Idan (17) warga Dusun Caringin, Desa Pasirnagara, Kec. Pamarican. Sementara korban yang kritis masih dirawat  yaitu Diki (17) warga Pananjung, Kelurahan/Kecamatan Pataruman dan Dadan (15) warga Jelat Kelurahan/Kecamatan Pataruman.

Sedangkan Iki (18) warga Cipadung, Kec. Purwaharja, pada senin siang (10/9) sudah diperbolehkan pulang setelah menjalani perawatan intensif selama dua hari.

Meski obat jenis Dextro bukan termasuk obat-obatan jenis G atau narkoba, peredarannya sudah sangat marak, dan seringkali digunakan untuk mabuk dengan menenggak melebihi dosis.

Peristiwa over dosis di kota Banjar memang bukan untuk kali pertamanya, akan tetapi kali ini telah merenggut korban anak-anak berusia belia. Menanggapi hal itu, Kepala Disdikpora kota Banjar, Dahlan SH., Msi., saat dihubungi HR via telepon seluler (11/9), mengatakan, agar peristiwa tersebut menjadi yang terakhir kalinya.

“Untuk itu kami memanggil seluruh guru dan kepala sekolah se-kota Banjar agar lebih gencar lagi melakukan sosialisasi akan bahaya narkoba. Bahkan, kami akan melakukan sosialisasi tidak hanya kepada siswa didik saja. Peran orang tua di rumah sangat dominan, untuk itu kami pun akan melakukan sosialisasi kepada mereka melalui Komite Sekolah,” paparnya.

Sebab, lanjut Dahlan, bila para orang tua siswa selalu diingatkan akan bahaya narkoba, para siswa akan lebih diawasi dalam pergaulan sehari-hari. “Nah pergaulan inilah yang acapkali para orang tua dan pihak sekolah kecolongan. Di sekolah siswa hanya beberapa jam saja, kondisi lingkungan rumah dan pergaulan sangat dominan,” tandasnya.

Mengenai pembentukan badan pencegahan narkotika atau yang dikenal badan narkotika kota/kabupaten (BNK), menurut Dahlan, sebenarnya sudah ada, mesti memang belum dibentuk secara kelembagaan terpisah.

“Pembentukan BNK akan menjadi pertimbangan kami, mengingat kejadian maraknya narkoba dan penyalahgunaan obat-obatan sering terjadi dan berujung merenggut korban jiwa. Apalagi korban saat ini anak-anak usia belasan tahun,” ujarnya.

Selain itu, letak strategis kota Banjar sebagai kota perlintasan pariwisata dan jalur utama selatan pulau Jawa. Dikhawatirkan menjadi daerah peredaran narkotika dan obat-obatan terlarang lainnya. Untuk itu, Dahlan menyatakan sepakat jika dibentuk BNK secara kelembagaan. “Itu akan menjadi pertimbangan kami mendesak saat ini,” tegasnya.

Hal senada dikatakan, Kapolresta Banjar, AKBP. Sambodo Purnomo Yogo, saat dihubungi HR (11/9). Menurutnya, meski pil dextro dijual bebas dan dapat dibeli tanpa resep, akan tetapi tingkat penyalahgunaannya telah sering terjadi.

“Pembentukan BNK secara kelembagaan merupakan keseriusan pihak pemerintah dan kepolisian, untuk lebih fokus melakukan pemberantasan narkotika serta sosialisasi akan bahaya narkoba bisa lebih intensif kepada masyarakat. Akan tetapi, peran masyarakat sangat dominan dalam pemberantasan narkoba,” jelasnya.

Saat ini pihak Polresta Banjar telah membentuk satuan unit khusus narkoba, hal itu dilakukan untuk melakukan pemberantasan baik secara preventif maupun represif. “Setelah kesatuan itu dibentuk, banyak para pengedar yang kami tangkap dan sejumlah kasus peredaran narkoba di kota banjar, termasuk bandar pil dextro yang kami tangkap kemarin,” ujar Sambodo. (SBH)

About author

Related articles

0 Comments

No Comments Yet!

You can be first to comment this post!

Leave a Reply