Kemarau, Petani Sawah Tadah Hujan Merana

06/09/2012 0 Comments

Uminah, petani di daerah Balokang tengah mencabuti rumput di lahan sawah yang telah mengering dan merekah. Awal musim kemarau, sawah tadah hujan di Kota Banjar telah mengalami kekeringan. Foto : Eva Latifah/HR.

Banjar, (harapanrakyat.com),- Petani sawah tadah hujan di daerah Balokang, Pamongkoran dan Sumanding, Kec. Banjar, Kota Banjar, berharap waduk Situ Leutik yang ada di wilayah Desa Cubeureum, Kec. Banjar segera berfungi, karena saat musim kemarau lahan pertanian mereka kekeringan akibat tidak adanya pasokan air.

Uminah, petani di Balokang, mengatakan, selama musim kemarau lahan pertanian di daerah Balokang dan sekitarnya kekeringan akibat kekurangan air, sehingga para petani mengalami gagal panen.

“Hingga sekarang musim kemarau sudah berlangsung sekitar empat bulanan. Kalau tidak salah waktu bulan Mei itu masih ada hujan, makanya kami sempat melakukan tanam padi,” tutur Uminah, saat dijumpai HR tengah menyabit rumput di lahan pesawahan yang kering, Senin (3/9).

Lanjut dia, namun ternyata kemarau malah terus berkepanjangan, akhirnya tanaman padi para petani pun mengalami kekeringan. Menurut Uminah, kalau saja persediaan air yang ada di Situ Leutik banyak, dipastikan lahan pesawahan di daerahnya bisa panen dua kali.

Dia sendiri mempunyai empat petak sawah yang kini kondisi tanahnya telah mengering dan merekah. Tanam padi yang mengering terpaksa dicabuti untuk digunakan sebagai pakan ternak.

“Tentu kami berharap lahan pesawahan tadah hujan di wilayah Balokang ini bisa mendapatkan pasokan air dari Situ Leutik saat musim kemarau. Karena kalau musim hujan air pasti banyak, jadi petani tidak khawatir kekurangan air. Sedangkan fungsi Situ Leutik itu seharunya mampu menyimpan cadangan air untuk kebutuhan irigasi pertanian saat musim kemarau,” harap Uminah.

Sementara itu, Jajang, petani di Pamongkoran, Kel/Kec. Banjar, nasibnya hampir serupa. Tanaman padi di lahan sawah tadah hujan miliknya mengering dan mati. Dia pun terpaksa mengganti dengan tanaman kacang hijau.

“Hujan sudah tidak ada lagi. Makanya saya beralih menanam palawija. Tanaman kacang hijau tidak memerlukan banyak air, jadi cocok ditanam pada lahan sawah tadah hujan,” ucapnya.

Sawah tadah hujan di Blok Pamongkoran dan Sumanding memang terlihat kering kerontang. Setiap pagi dan sore para petani membawa jeriken berisi air dari sumur resapan yang ada di sekitar lahan pesawahan lalu menyiramkannya ke tanaman kacang hijau jagung yang masih muda.

Kondisi itu berbeda dengan lahan pesawahan di daerah Panatasan, Kec. Pataruman, dan Rejasari, Kec. Langensari, Kota Banjar. Lahan persawahan di daerah tersebut terlihat hijau dan subur lantaran mendapatkan pengairan dari irigasi yang dialirkan dari Sungai Citanduy. (Eva)

About author

Related articles

0 Comments

No Comments Yet!

You can be first to comment this post!

Leave a Reply