MENGUNGKAP TABIR BUAYA SILUMAN CITANDUY

13/09/2012 0 Comments

Adakah Hubungan Marga antara Buaya Bonar dengan Naga Bonar dari Medan ?

Laporan : Deni & Nanang

Kisah Buaya Siluman di Citanduy gegerkan warga di sekitar Rajagosi, muara Cijolang ke Citanduy yang dimuat HR edisi 290 pekan lalu. Fenomena kemunculan buaya berwarna kuning, hitam, putih abu-abu, membuat geger warga di sekitar bantaran Citanduy terus berkepanjangan. Karena buaya siluman acap kali muncul kepermukaan mengagetkan masyarakat di sekitar bantaran Citanduy. Dengan berita, kisah buaya siluman ini HR disinggahi yang mengaku paranormal dan membenarkan. Buaya-buaya yang muncul ke permukaan Citanduy adalah dari keluarga siluman buaya.

HR mencoba menginvestigasi cerita buaya siluman di Kecamatan Langensari Kota Banjar. Berhasil menemui salah seorang keturunan Mbah Bonar, buyutnya bernama Ading di Dusun Rejasari, Desa Rejasari. Deni Supendi Redaktur Pelaksana HR, Senin (10/9), menemui Ading yang sibuk bekerja di penambangan pasir di Citanduy di Desa Rejasari. Ading saat diwawancarai soal hubungannya dengan Mbah Bonar tanpa sungkan mengakui, bahwa dirinya adalah buyut dari Mbah Bonar yang menjadi siluman buaya di Citanduy.

Ading mengisahkan hubungan kekerabatan dengan Mbah Bonar, ternyata nama itu berimbas tersendiri bagi dirinya. Untuk memecah suasana serius HR dalam percakapan dengan Ading, bertanya “Apakah Buaya Bonar ada pertalian darah dengan Jendral Naga Bonar dari Medan?”. Sambil tersenyum Ading pun menjawab tidak ada, suasana seriuspun sedikit berubah.

Imbas dari Mbah Bonar, beberapa waktu belakangan ini. Banyak tamu dari berbagai daerah seperti Jakarta, Lampung, Bandung, Surabaya, Tasikmalaya dan beberapa daerah lainnya, mencarinya untuk kepentingan yang berhubungan dengan mistis. “Banyak diantaranya yang datang mendapat petunjuk dari yang mengaku orang spiritual, dan mengarahkannya untuk menghubungi keturunan Mbah Bonar. Kebetulan yang masih ada, yaa saya,” ucap Ading.

Para tamu pendatang itu, menemui Ading dengan berbagai jenis alasan. Diantaranya ingin dibantu dalam hal memperoleh jabatan, ada juga yang ingin kekayaan, dan alasan-alasan lain. Ading mengutarakan, seperti yang dia sampaikan kepada para tamu pendatang, bahwa dirinya tidak bisa memberikan apa-apa, kecuali bantuan doa. Karena bagi Ading, hal itu akan berkaitan dengan masalah kepercayaan.

Percaya atau tidak, itu diserahkan kembali kepada mereka yang mempunyai maksud dan keinginan, kata Ading. Ading mengaku, ada sebuah pernyataan dari leluhurnya yang menyebutkan, ada satu diantara keturunan Mbah Bonar yang akan memegang tanggung jawab menjaga Citanduy dari wilayah Rajagosi sampai Jamang. Dan selama ini dia sudah melakukannya, ucap Ading.

Dalam hal itu Ading mendapat kepercayaan dari masyarakat setempat, karena dia dianggap bisa membantu menjaga mereka dari kemungkinan peristiwa yang terjadi di sekitar sungai.

Dengan semakin ingin meyakinkan banyak warga, dan di tambah warga pendatang dari daerah luar Langensari yang ingin meyakinkan melihat fenomena kemunculan buaya di Citanduy yang menghebohkan itu di daerah Waringinsari. Terlebih ada sebagian warga yang sedang melihat malah usil mengganggu buaya-buaya siluman itu.

Nanang Supendi kontributor HR di Langensari melaporkan, sekarang kemunculan jarang terlihat atau tidak bisa dipastikan waktu dan tempat kemunculan buaya-buaya siluman itu. Padahal pada pekan lalu sekelompok buaya itu, menampakan diri pagi, siang dan sore hari. Sekarang kemunculannya berpindah-pindah masih di aliran Citanduy wilayah Waringinsari, ucap ketua RT setempat N. Karsim, Senin (10/9).

Lebih lanjut Karsim menjelaskan, buaya yang sedang berjemur di tepi sungai diganggu oleh warga dengan cara diurak-urak buntutnya dengan bambu, kayu, bahkan dijerat kepalanya dengan tambang. Bahkan ada yang membawa senapan mimis mau menembaknya, tapi dilarang warga lainnya. Anehnya buaya-buaya itu tidak membuat perlawanan. Malah ngeloyor mengalah.

Setelah kejadian itu, menurut pengakuan Supardi, Selasa (11/9) tokoh spiritual setempat dirinya mengaku telah didatangi lagi oleh perwakilan buaya siluman. Mengatakan kami datang kesini untuk niis (istirahat) ingin menetap dengan tenang, tapi malah orang-orang yang datang ingin melihat keluarga kita (buaya) malah mengusik dan mengganggu.

Untuk menjaga keselamatan warga yang melihat, Supardi sang spiritual meminta agar sekelompok buaya itu agar tak muncul bila tak ingin terusik manusia. Kalaupun mau muncul silahkan di tempat yang sepi. Pekan ini buaya-buaya tak banyak muncul menampakan jati dirinya, pindah lokasi kemunculan ke permukaan Citanduy, di belokan aliran Karang Gedang.

Dalam beberapa pekan lalu, Supardi mencoba kembali berkomunikasi dengan koordinator buaya siluman mengaku (Ky Singa Manggala). Tapi yang hadir buaya putih (Ky Maja Buntung). Buaya putih Mbah Bonar berkata, bahwa kedatangannya sekeluarga ini ingin bersilaturahmi, ucap Supardi. Selanjutnya oleh Sepritual dari Waringinsari ini, disuruh menetap dialiran Citanduy ini.

Pengakuan Supardi, disini ada sebuah bangunan gedung didekat aliran Citanduy di Sukanegara wilayah Rt 05 tempat menetap buaya putih (Ky Maja Buntung), sedang buaya putih Mbah Bonar, mondar-mandir disepanjang aliran Citanduy dari Racabulus (Rejasari) sampai Purwodadi (Waringinsari) untuk menjaga Citanduy. Kadang kemunculan buaya putih (Ky Maja bunting) memberitahu pertanda akan banjir. Supardi menyebutkan bangunan gedung di Sukanegar itu roboh, dan Supardi disuruh melihat untuk bisa membantu bersama-sama membangun kembali gedung itu oleh buaya-buaya siluman Citanduy. (Baca laporan investigasi HR tentang hubungan buaya siluman Citanduy ada kaitan dengan buaya siliman di Paledah Padaherang Kab Ciamis pada minggu depan edisi 292). ***

About author

Related articles

0 Comments

No Comments Yet!

You can be first to comment this post!

Leave a Reply