Pasar Langensari Jadi Pasar Harian, Kenapa tidak?

13/09/2012 0 Comments

Pasar Langensari bisa ditingkatkan menjadi pasar harian berskala regional. Peningkatan tersebut diikuti pula dari segi fisiknya, sehingga perekonomian di Langensari akan semakin bergeliat. Foto : Deni Supendi/HR.

Langensari, (harapanrakyat.com),- Wilayah Kec. Langensari, Kota Banjar, merupakan salah satu kawasan yang berada di wilayah perbatasan antara Prov. Jawa Barat dan Prov. Jawa Tengah di bagian Selatan Jawa Barat.

Pertumbuhan ekonomi di Kec. Langensari dari tahun 2006-2010 terjadi fluktuatif. Kemudian, dari tahun 2004-2010 banyak terdapat perusahaan kecil formal. Dengan demikian, maka Langensari dinilai sebagai kawasan strategis perspektif ekonomi.

Camat Langensari, Wawan Gunawan, SP, M.Si., mengatakan, berdasarkan indikator perputaran uang di sejumlah koperasi, Bumdes maupun perbankan yang ada di Langensari memang terlihat tinggi. Hal itu bisa dijadikan satu tolak ukur bahwa uang banyak beredar di masyarakat.

“Kita menghitung Langensari kedepan yang dipersiapkan sebagai kota kedua Banjar. Dan sekarang bukan dipersiapkan lagi, tapi sudah berjalan, ini terlihat dari segi keramaian. Kemudian, dari hasil pemetaan wilayah juga dimungkinkan sebagai kota penyangga yang diperkuat segi perekonomiannya,” kata Wawan, Senin (10/9).

Misalkan, aktifitas di Pasar Langensari yang saat ini beroperasi satu minggu tiga kali, itu bisa ditingkatkan menjadi pasar harian berskala regional. Peningkatan tersebut diikuti pula dari segi fisiknya, sehingga perkembangan perekonomian di Langensari akan semakin bergeliat.

Rencana pengembangan Pasar Langensari, kata Wawan, menjadi usulan prioritas dalam Musrenbangkot tahun 2012. Pasalnya, aktifitas perekonomian tidak hanya melibatkan masyarakat setempat, banyak pula dari luar, seperti Kab. Ciamis dan Kab. Cilacap, Jawa Tengah.

“Langensari memiliki banyak pasar tradisional, diantaranya Pasar Bojongkantong, Pasar Rejasari, dan Pasar Waringinsari yang terkenal dengan sebutan Pasar Caplek atau bambu. Meski pedagang di Pasar Langen sebagian merupakan pedagang di pasar-pasar tersebut, tapi bila dikembangkan akan membuka peluang baru bagi masyarakat lainnya,” ujarnya.

Di pasar tradisional tersebut banyak dijual hasil pertanian lokal maupun dari luar daerah. Namun, Wawan mengaku, untuk hasil pertanian seperti jeruk, pepaya california, serta berbagai jenis sayuran dan umbi-umbian paling banyak berasal dari wilayah Desa Waringisari. Dan semua komoditi tersebut menjadi aset Waringinsari.

Bahkan, petani desa Waringinsari tidak hanya memasarkan hasil pertaniannya di pasar tradisional Langensari saja, atau ke Pasar Banjar, Pasar Cintaratu, Pasar Lakbok, Kab.Ciamis, tetapi pemasarannya sudah lintas provinsi, yakni beberapa pasar tradisional yang ada di Jawa Tengah.

Sehingga, bila dikembangkan menjadi pasar harian maka Pasar Langensari bisa disebut sebagai pasar regional, dimana terjadinya keluar masuk barang dagangan berupa hasil pertanian dari petani lokal dan luar. Ditingkatkannya status pasar tersebut juga bisa bersinergis dengan pasar-pasar tradisional lain.

Dikatakan Wawan, dalam menyikapi perkembangan keramaian yang terjadi di Langensari saat ini, diharapkan dapat dimanfaatkan oleh masyarakat. Jangan sampai peluang tersebut hanya dinikmati warga pendatang, sedangkan masyarakat setempat hanya sebagai penonton saja.

Seperti yang terjadi ketika mendekati pergantian tahun, dimana sudah dua tahun berturut-turut situasi keramaian pada malam tahun baru di Langensari terlihat sangat ramai.

“Kami berharap, masyarakat harus membaca peluang melihat Langensari mulai ramai. Apalagi Sport Center akan dibangun di wilayah kami,” kata Wawan. (Eva)

About author

Related articles

0 Comments

No Comments Yet!

You can be first to comment this post!