The Dream City of Banjar

06/09/2012 0 Comments

Sedangkan Banjar sendiri sebagai daerah penyangga kawasan wisata Pantai Pangandaran yang saat ini memiliki mimpi menjadi kota termaju di wilayah Jawa Barat, khususnya, atau lebih luas lagi sebagai kota termaju di Indonesia, maka tidak ada salahnya kota ini menjuluki dirinya The Dream City of Banjar (kota impian).

Untuk menciptakan riverside di pinggir sungai, kawasan kuliner Doboku yang berada di tepi Sungai Citanduy bukan tak mustahil bisa seperti Clarke Quay di Singapura. Foto : Eva Latifah/HR.

Untuk menciptakan riverside di pinggir sungai, bukan tak mustahil Banjar bisa menyusul Singapore River (Sungai Singapura), sedangkan Kota Banjar dengan Citanduy River.

Eva Latifah

Pemerintah Kota Banjar secara usia telah mencapai 9 tahun. Tentu usianya masih sangat muda untuk suatu pemerintahan. Tetapi dalam mengintegrasikan berbagai kepentingan telah dilaksanakan, terutama pada pembangunan dasar yang diperlukan warga kota, yaitu mengacu pada pembangunan pendidikan, kesehatan dan daya beli masyarakat sebagai pemacu IPM.

Keberadaan Kota Banjar secara geografis terletak di jalur lalu-lintas nasional bagian Selatan sebagai pintu gerbang Provinsi Jabar, dan jalur lalu-lintas obyek wisata Pangandaran.

Dalam hal ini, Kota Banjar terletak pada daerah segitiga emas, sehingga pada beberapa daerah Phery-phery kotanya (daerah penyangga/Hinterland) harus di push sedemikian rupa agar dapat dijadikan sebagai magnet center yang mampu menjadi daya tarik orang untuk bisa beraktifitas pada daerah tersebut, karena akan membangkitkan perekonomian masyarakatnya.

Seperti dikatakan Eri Kristiyanto, salah seorang pedagang kuliner di kawasan kuliner Doboku, bahwa keterlibatan sektor swasta sebagai dukungan terhadap roda-roda usaha, serta kemandirian masyarakat lebih utama. Untuk itu, penataan ruang di wilayah perbatasan menjadi sesuatu hal yang mutlak perlu dilaksanakan di Kota Banjar.

Apabila wilayah tersebut memiliki daya tarik, maka Banjar tidak hanya jadi kota perlintasan saja. Dengan dibangunnya taman di tugu batas kota serta fasilitas rest area yang representatif dilengkapi sarana kulinernya, maka siapapun yang melintas akan terkesan. Sehingga timbul keinginan mereka untuk singgah melepas lelah, dan menikmati makanan/minuman yang tersedia di kawasan tersebut.

Namun sayangnya, keberadaan taman dan lahan rest area di kawasan tugu batas kota hingga saat ini belum dimanfaatkan oleh pemerintah kota. “Contoh kecilnya, pada musim arus mudik dan balik Lebaran kemarin, dimana untuk membeli makanan dan minuman ringan saja pemudik kesulitan mencari waralaba, karena di sepanjang jalur mudik yang ada di wilayah Kota Banjar tidak ada, yang ada itu di Cisaga, Kab. Ciamis dan di Mergo, Kab. Cilacap, kedua daerah tersebut berbatasan langsung dengan Kota Banjar,” tutur Eri, pada HR, Sabtu (1/9).

Selain itu, Kota Banjar sebagai daerah penyangga juga jangan kalah oleh kabupaten/kota lain yang memiliki julukan nama untuk daerahnya. Seperti Solo The Spirit of  Java. Kota ini terkenal dengan sentral budaya, sosial dan politiknya.

Kemudian Yogyakarta yang tidak mau kalah oleh Solo. Kota ini memiliki julukan Jogja Never Ending Asia. Meski letak bangunan Candi Borobudur yang menjadi salah satu keajaiban dunia itu ada di wilayah Magelang, namun candi tersebut justru lebih terkenalnya berada di Yogyakarta sebagai daerah penyangga kawasan wisata budaya. Begitu pula dengan Bandung yang terkenal julukannya sebagai Paris van Java.

Meski hanya sebuah kota kecil, namun Banjar yang bersih dan sehat akan lebih terlihat menarik jika setiap sudut kota difasilitasi oleh penerangan yang maksimal, sehingga pemandangan saat malam akan lebih terlihat indah.

Keberadaan Sungai Citanduy yang membelah wilayah Kota Banjar, akan lebih menarik bila di sepanjang sungai, khususnya di kawasan Doboku, dilengkapi dengan penerangan yang menyorot ke sungai, sehingga kawasan tersebut memiliki view yang lebih indah saat malam hari.

Seperti halnya di kota Macau. Pada malam hari, ratusan lampu yang berwarna warni menghiasi setiap sudut kota. Memandangai kota Macau yang gemerlap dengan warna-warni lampu bagaikan melihat bintang-bintang kecil yang berada di bawah kaki kita. Kota ini pun menjadi salah satu tujuan wisatawan domestik maupun mancanegara.

Untuk menciptakan riverside di pinggir sungai, bisa juga Banjar meniru Clarke Quay di Singapura, dimana Singapura bukan hanya dikenal sebagai pusat bisnis keuangan saja, tapi juga soal kulinernya.

Clarke Quay merupakan dermaga sungai yang memiliki nilai sejarah di Singapura. Dermaga ini membentang dari hulu muara Sungai Singapura dan Boat Quay. Disana pengunjung bisa melihat pemandangan Singapore River di malam hari, ada sungai yang super bersih dan banyak tempat makan.

Bukan tak mustahil Banjar bisa menyusul Singapore River (Sungai Singapura). Karena, Singapore River yang sangat eksotik indah dengan latar belakang gedung-gedung pencakar langit itu awalnya hanya sebuah kampung nelayan kecil dan permukiman yang berlokasi di tengah rute perdagangan China-India. Namun setelah dilakukan penataan, kawasan itu menjadi impian dan menjadi potensi wisata. Keajaiban modern dimulai dari sungai ini.

Kemudian, Kota Banjar sebagai daerah penyangga kawasan wisata Pantai Pangandaran, dan jalur lalu-lintas nasional bagian Selatan, memiliki potensi sangat besar untuk dijadikan pusat kerajinan seluruh Jawa Barat.

Sehingga, para wisatawan yang akan ke Pangandaran maupun ke wilayah Jateng bisa dengan mudah mendapatkan berbagai macam kerajinan Jawa Barat saat melintas di Kota Banjar. Keberadaan taman dan lahan rest area di kawasan tugu batas kota menjadi lokasi yang tepat untuk sentra kerajinan tersebut.

Upaya untuk membangkitkan perekonomian masyarakatnya sebagai pemacu IPM, pemerintah kota juga harus memudahkan investor untuk membuka usahanya di Kota Banjar.

Disisi lain, tidak hanya peran pemerintah saja, akan tetapi peran serta masyarakat dalam upaya-upaya mencapai tujuan sama mesti bisa ikut mendukung. Dan tuntutan kreatifitas dalam menggerakan roda-roda pembangunan tidak hanya pada fisikly, akan tetapi marketly yang konsisten terhadap pembangunan di Kota Banjar.

Sudah waktunya peran serta masyarakat lebih aktif memainkan peran yang selaras dengan tujuan peningkatan pembangunan IPM.

Dalam hal ini, tidak ada salahnya Banjar meniru Kota Louisiana, Georgeia, Virginia dan New Hampshire di Amerika Serikat. Keempat kota tersebut dinilai sebagai kota paling ramah untuk menjalankan bisnis dari skala besar hingga kecil, terutama bagi para pemula yang terjun ke dunia wiraswasta.

Hal itu tidak terlepas dari birokrasi regulator yang memudahkan menjalankan bisnis, rendahnya tarif pajak hingga mencari tenaga kerja, dan peran serta masyarakat yang selaras dengan program yang disepakati. ***

About author

Related articles

0 Comments

No Comments Yet!

You can be first to comment this post!