“BUHTCI & FEM”

18/10/2012 0 Comments

Beberapa pekan lalu, tersiar berita Lesbian, membawa lari anak gadis dari keluarganya warga kota Banjar. Pasangan lesbian itu bukan nama sebenarnya sebut saja Romeo dengan istilah di dunia Lesbi disebut “Buhtci” berperan sebagai laki-laki penduduk Garut dan “Fem” perempuannya atau Yuliet warga Banjar. Kini berurusan dengan Polresta Banjar atas aduan orang tua Yuliet yang kehilangan anak gadis hampir tiga bulan dan tertangkap di Bandung. Itu berita di media, yang menghebohkan dalam pekan-pekan terakhir ini. Romeo sekarang menjadi penghuni sel tahanan Polresta Banjar.

Di Indonesia, Lesbianisme sepertinya berkembang cukup pesat dalam wilayah sosial kemasyarakatan. Kalau dulu, perempuan lesbian sebisa mungkin menyembunyikan jati dirinya. Tapi saat ini grup lesbian yang bertebaran di Fecebook maupun situs-situs dewasa lainnya. Pertanyaan, apakah saat ini Lesbianisme menjadi gaya hidup ?. Bukankah lesbian merupakan abnormalitas atau penyimpangan seksualitas ?

Lesbianisme sendiri berasal dari kata Lesbos. Lesbos adalah sebutan sebuah pulau di tengah lautan Egeis, yang pada zaman kuno dihuni oleh para wanita (dalam Kartono,1985). Homeseksualitas di kalangan wanita disebut cinta yang lesbis atau lesbianism. Memang pada usia pubertas, dalam diri individu muncul predisposisi (pembawaan, kecenderungan) biseksual, yaitu mencintai seseorang teman putri, sekaligus mencintai teman seorang pria.

Banyak yang mengira dari fisik jika perempuan tomboy kebanyakan adalah seorang lesbian, tentu saja tidak ! Lebih dari 16% perempuan heteroseksual juga melaporkan tomboy menjadi anak perempuan. Hanya 3-4 persen dari laki-laki hetoroseksual melaporkan menjadi “banci” ketika muda. Jadi jika anda disebut banci (mengingatnya dan bersedia mengakuinya) adalah prediktor yang lebih kuat menjadi homoseksual dari pada yang disebut sebagai gadis tomboy.

Mendefinisikan baik aktivitas seksual maupun indentitas sosial seorang lesbian sampai saat ini memang terus diperdebatkan. Menurut penulis feminis, Naomi McCormick (1994), indikator orientasi seksual seorang lesbian adalah pengalaman seks dengan wanita lain. Namun, McCormick menyatakan menolak seks bebas antar wanita, dimana lebih mengedapankan  hubungan emosional, dukungan, sensitivitas, dan kedekatan idialis antar perempuan adalah sebagai bagian terpenting dari pada hubungan seksual.

Banyak dari kita yang penasaran tentang orientasi seksual seorang lesbian. Apa yang membuat orang lesbian ? Ada pula yang menganggap faktor lingkungan yang lebih dominan. Kita bisa menganalisa si Romeo (Buhtci) yang kini berurusan dengan Polresta Banjar karena melarikan gadis dibawah umur, latar belakang kehidupannya orang tua yang bercerai dan mendapatkan perlakuan kasar dari ayah dan ibu tirinya karena berpenampilan tomboy. Tapi latar belakang si Yuliet belum diungkap ?.

Ada pengalaman yang penulis lihat, dari kehidupan rakyat kecil yang menyentuh hati. Suatu malam pada saat Koran HR akan cetak. Malam itu sekitar pkl 22.00, dari kantor redaksi penulis, menuju ke tenda biru lesehan di kota Banjar. Ditempat itu kebetulan kosong hanya penulis yang memesan makanan pepes gurame dan sambel lalaban yang dipesan dengan satu nasi timbel. Udara malam itu terasa panas dan datang yang mau makan menggunakan becak tanpa atap, sekilas becak digunakan oleh pemulung masuk sepasang suami istri dengan seorang anak perempuan.

Pesanannya dua nasi timbel dan ayam goreng panas, sang ayah menyilahkan istri dan anaknya untuk menyantap pesanannya. Sedangkan sang Ayah hanya memesan teh tubruk manis dan sebatang rokok kretek, sambil melihat istri dan anaknya makan. Anak perempuan kecil tersenyum bahagia dan ayahnya mengelus-ngelus kepala anaknya, sambil melirik istrinya. Sang Ayah pun berucap makan yang kenyang hari ini kan ulang tahun kamu yang ke tiga tahun, ibunya menyuapi sang anak lauk pauk ayam goreng si anak lahap makannya ema…  dagingnya lagi.

Penulis pun tersentuh dengan rasa iba, tak terasa air mata keluar hanya terhalang kacamata. Pemulung pun ternyata mampu, membuat lingkungan keluarga dengan kasih sayang pada istri dan anaknya. Padahal kita sering makan di restoran mahal bagi yang berpunya, tapi apa yang terjadi pada keluarga pemulung ternyata lebih patas kebahagian singgah pada dirinya. Belum tentu dilakukan oleh yang berpunya makan di restoran mahal, tersilip rasa kasih sayang untuk keluarganya. Yang nampak kebanyakan di kalangan yang berpunya hanya gengsi yang menonjol. Penulis dengan diam-diam bicara pada pedagang lesehan itu, tambah nasi, goreng ayam, sambel lalab, goreng tahu-tempe, dua botol air mineral ukuran besar, dan minuman segar dalam botol plastik dan sebungkus rokok kretek diberikan kepada bapak itu dan istri/anaknya. Aku pesan pada pedagang itu biar makannya mereka saya bayar, dan aku pun segera pergi, tampak pamit kepada keluarga harmonis itu.

Menurut penulis tak begitu salah, faktor lingkungan kasih sayang yang lebih dominan dalam mendidik anak. Agar tak melakukan penyimpangan perilaku menjadi lesbian atau gay (homo seksualitas) kami menyerahkan sepenuhnya kepada pembaca. Faktanya kaum lesbian menjadi sebuah gaya hidup para wanita ketika isu-isu gender makin menguat. Menuduh mereka abnormalitas secara seksual juga terlalu naif, karena belum ada penelitian lesbian di Indonesia. Bisa jadi semakin banyaknya lesbian Indonesia karena “ketidak mampuan” kaum laki-laki menempatkan perempuan dalam tempat yang semestinya. ***

About author

Related articles

0 Comments

No Comments Yet!

You can be first to comment this post!

Leave a Reply