Nasib Buaya di Kokoplak Tunggu Keputusan BKSDA

Nasib Buaya di Kokoplak Tunggu Keputusan BKSDA

Nasib seekor buaya betina berwarna hitam yang berhasil ditangkap warga Kokoplak, di Dusun Pananjung, RT. 12/03, Desa Sinartanjung, Kec. Pataruman, Kota Banjar, hingga saat ini masih menghuni bak penampungan. Foto : Eva Latifah/HR.

Nasib seekor buaya betina berwarna hitam dengan berat sekitar 40 kilogram, serta memiliki panjang 190 centimeter yang berhasil ditangkap Arif (28) dan Agi (32), warga Kokoplak, Dusun Pananjung, RT. 12/03, Desa Sinartanjung, Kec. Pataruman, Kota Banjar, pada Kamis (11/10) lalu, sekitar pukul 00.30 WIB, hingga saat ini masih menghuni bak penampungan.

Buaya penghuni Leuwi Batok Sungai Citanduy itu disimpan pada bak penampungan ikan berukuran 2×2 meter milik Heri, warga setempat. Tentu saja, setiap harinya rumah Heri pun selalu didatangi warga yang ingin melihat langsung keberadaan buaya yang telah menghebohkan masyarakat Kota Banjar.

Menurut Arif, buaya berhasil ditangkap setelah sebelumnya diintai selama satu malam. Pada malam itu, sebetulnya ada tiga kelompok yang hendak menangkap buaya tersebut. Namun, reptil buas itu malah mendekat ke kelompok Arif yang terdiri dari empat orang.

Saat buaya menepi, kelompok Arif langsung menjeratnya dengan menggunakan kawat kopling motor. Begitu dijerat, buaya pun meronta-ronta, dan saat itu lah Arif langsung membuka baju lalu menutupkannya pada bagian mata buaya. Sedangkan teman-temannya yang lain meringkusnya.

“Pokona sapertos anu nuju galungan we. Anu kabantingkeun aya, malih sendal oge paregat. Aya oge anu ngan saukur cocorowokan, rame pokona mah,” tutur Arif.

Kepala Desa Sinartanjung, Suwarman, saat ditemui HR, mengatakan, penangkapan buaya tersebut tujuannya guna penyelamatan dari perburuan liar. Sebab, pihaknya maupun warga sekitar telah mengetahui ada beberapa kelompok pemburu biawak yang mendatangi pinggir sungai untuk menangkap buaya.

“Kami menjamin buaya ini akan kami lindungi. Tidak akan dijual apalagi disembelih. Nanti setelah debit air kembali normal, buaya ini akan kami lepas lagi ke habitatnya. Sebetulnya buaya di Leuwi Batok jumlahnya ada tiga ekor. Dua ekor diantaranya berwarna hitam dan satu ekor lagi kuning. Itu berarti masih ada dua ekor lagi,” kata Suwarman.

Sementara itu Heri, pemilik kolam yang juga turut serta saat melakukan penangkapan buaya, ketika ditemui HR, Senin (22/10), mengatakan, meski sekarang sudah musim penghujan dan debit air sungai mulai membesar, namun warga dan pihak desa masih menunggu keputusan dari Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kementerian Kehutanan RI.

“Kami masih menunggu keputusan, katanya minggu-minggu ini petugas dari BKSDA akan datang ke sini. Kami belum tahu, apakah buaya ini akan diamankan ke kebun binatang atau dilepas lagi ke Citanduy. Namun, jika harus dilepas, maka rencananya buaya ini akan kita lepas di daerah hilir sungai, atau dekat muara. Jadi jauh dari aktifitas penduduk,” kata Heri. (Eva)

KOMENTAR ANDA

Komentar

Related articles