Sasakala Buaya Kajajaden di Citanduy & Ciseel

25/10/2012 0 Comments

Taliroma atau tambang terbuat dari beberapa lembar kanteh di dalamnya memakai kulit teureup. Foto : Madlani/HR.

Di wilayah Desa Paledah, Kec. Paledah Kab. Ciamis, panggendam (pawang buaya/pengantin buaya jadi-jadian) yang ada hubungannya dengan Taliroma (tambang terbuat dari beberapa lembar kanteh di dalamnya memakai kulit teureup), diantaranya Aki Sastra-jarumannya (orang yang mempunyai keberanian sebagai kepercayaan panggendam) Aki Arsantika. Aki Arsantika-jarumannya Aki Tobas Jayadisastra.

Aki Tobas Jayadisastra-jarumannya Aki Mad Sayad. Sedangkan Aki Mad Sayad tidak memiliki jaruman. Sedangkan, penggendam yang kesohor sampai ke Betawi hanya Aki Tobas Jayadisastra, atau biasa dipanggil Aki Kasem.

Air mata buaya (taliroma), banyak orang percaya mempunyai khasiat untuk pemikat, asihan dagang/usaha, dan mencari mencari jabatan sebagai pegawai. Desa Paledah dan sekitarnya dulu banyak orang dating ke tempat itu mencari taliroma (air mata buaya).

Informasi yang diperoleh HR dari cerita masyarakat di Paledah, tempo dulu ada dari keturunan panggendam (pawang buaya) yang bisa dipesan untuk mendapatkan taliroma. Konon sumbernya datang dari berbagai kota di Indonesia, mendapatkan taliroma.

Menurut cerita masyarakat Paledah, bila keluarga atau anak-cucu panggendam mengadakan hajatan, pasti hujan besar meskipun disarang oleh dukun hujan yang jempolan sekalipun. Dukun hujan pun tidak ada yang mau bila mendapat order ngarang dari keluarga panggendam.

Berdasarkan keterangan dari istri Aki Kasem, yaitu Nini Kasem (almarhumah), bahwa di jaman Kerajaan Galuh pernah diceritakan raja mimpi bertemu bidadari yang sangat cantik. Bidadari tersebut duduk di kabut awan sambil menggoda sang raja.

Saking senangnya digoda oleh bidadari, raja mondar-mandir ke sana ke mari tidak bisa diam, lalu naik ke pohon Tangkolo yang ada di pinggir sungai dengan maksud mendekati sang bidadari.

Tetapi bidadari tersebut tidak mau turun, kemudian raja mengeluarkan kama (bahasa Sansekerta) yang artinya hawa nafsu/keinginan/kesenangan, dan raja pun terjatuh ke sungai. Melihat itu, sang bidadari berucap, jaganing baring di walungan bakal hirup sato anu di sebut Buhaya. Begitulah cerita sang raja yang senang kepada bidadari, walaupun hanya dalam mimpi.

Kemudian, Nini Kasem juga menceritakan tentang seorang yang kesohor di Paledah pada waktu itu, yakni bernama Ajar Sukaresi. Orang tersebut membuat perahu dari batang pohon Harendong untuk bersantai-santai di sungai.

Setelah jadi, Ajar Sukaresi pun langsung mencobanya di sungai. Tanpa ada janji atau kesepakatan, sang bidadari yang jumlahnya 10 orang, semuanya ingin naik perahu Ajar Sukaresi. Namun, karena tidak kuat menahan beban yang cukup berat, maka perahu pun tenggelam.

Selang berapa lama bermunculan buaya kajajaden atau jadi-jadian, yang asalnya dari 10 bidadari. Nama-nama bidadari itu antara lain Sang Kumba Larang, Sang Kumba Herang, Donto, Bonggol, Tanggul, Warangas, Manyul, Baros, Tenggang, dan Nambong.

Lalu, para buaya tersebut memaksa minta dikawin oleh Ajar Sukaresi. Namun, Ajar Sukaresi menolak karena dirinya sudah mempunyai istri, yaitu Dewi Naga Ningrum. Tetapi buaya tetap memaksanya.

Dan akhirnya Ajar Sukaresi pun membuat janji kepada para buaya dengan berkata “Jaganing geto aranjeun kabeh pasti bakal aya anu ngawin, nyaeta anu disebut Ki Panggendam.² Sehingga, nanti kalau lahir Ki Panggendam, mau tidak mau para buaya harus nikah dengannya.

Konon cerita dahulu di Paledah, bila pawang buaya sudah meniup seruling seharian, pasti beberapa hari kemudian akan banyak datang tamu ke tempat pawang itu, tidak lain mereka membutuhkan taliroma.

Bagaimana cara untuk mendapatkan air mata buaya, pawang memanggil buaya betina untuk muncul ke permukaan sungai. Setelah itu sang pawang mengajaknya ke darat, sang pawang berjanji akan menikahinya.

Dan buaya betina itu diikat mulutnya, kaki depan dan belakang diikat. Setelah selesai diikat, buaya itu dibiarkan sampai mengeluarkan air mata. Air mata buaya itu yang dioleskan ke taliroma. Dapat duit lah sang pawang.

Buaya hidup di air ketika baleg (sapatemon). Tetapi, pada waktu bertelur buaya akan  ke darat mencari tempat yang sunyi. Biasanya buaya mengeluarkan telur sangat banyak, yaitu sekitar 150 butir sebesar telur angsa. Wilayah edar buaya sehari menempuh jarak sampai 80 km dari hilir ke hulu.

Mencari tempat panggendam buaya yaitu di Sungai Citanduy (dari Bantarloa sampai ke Bojongsalaksa), dan Sungai Ciseel (Kedung Kuda sampai Bojongsalaksa), dimana tempat bermuaranya Sungai Ciseel dengan Citanduy yang langsung ke Kalipucang. Menurut cerita, buaya yang berada di Sungai Citanduy dan Ciseel musnah, tetapi kadang kala muncul buaya jadi-jadian, yakni Aki Tobas Jaya Disastra. (Madlani)

About author

Related articles

0 Comments

No Comments Yet!

You can be first to comment this post!

Leave a Reply