Banjar Expo Hortikultura

29/11/2012 0 Comments

Oleh : H. Basir, SP, MP

 Semakin membanjirnya buah impor di pasaran, jelas menjadi ancaman serius bagi daya saing produk pertanian yang dihasilkan oleh para petani lokal. Oleh karena itu, pameran serta promosi produk hortikultura sangat perlu digelar secara terus menerus untuk memperkenalkan produk buah lokal, sehingga menciptakan image yang baik di masyarakat.

Hortikultura memiliki multifungsi dalam ekonomi masyarakat dalam pembangunan budaya bangsa. Kontribusi hortikultura tersebut adalah sebagai penyumbang PDB, penyedia lapangan kerja , peningkatan pendapatan dan kesejahteraan masyarakat, memperbaiki kesehatan, kebugaran, serta  estetika manusia.

Ada beberapa faktor yang menyebabkan buah lokal kalah bersaing dengan buah impor, diantaranya adalah yang paling mendasar image buah lokal terkesan buruk di kalangan masyarakat.

Sementara image kualitas produk hortikultura yang telah berkembang di masyarakat bahwa produk hartikultura berkualitas adalah produk yang warnanya bagus, ukurannya relative sama, penampilan bersih dan menarik, serta disajikan pada outlet-outlet yang menarik.

Adanya Banjar Expo sangat baik untuk menjadikan produk hortikultura kita sebagai tuan rumah di negeri sendiri. Petani kita bisa mengembangkan pasar di daerah sendiri dan kita berupaya menguasai pasar domestik yang selama ini digempur produk-produk impor.

Melalui pameran, talkshow dan berbagai demo, masyarakat diajak untuk mengenal berbagai produk agribisnis lokal, serta memahami dan mencintai produk agribisnis dan industri olahan.

Kita juga harus mampu menciptakan pencitraan yang positif, bahwa sektor pertanian harus mampu membangun dan berkembang untuk mendukung sektor ekonomi, sehingga dapat dirasakan manfaatanya dalam meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan masyarakat para pelaku agribisnis, terutama petani/produsen.

Sosialisasikan terus kepada masyarakat, karena dengan membeli produk lokal berarti membantu menciptakan lapangan kerja, meningkatkan SDM berkualitas, mendorong peningkatan kualitas produk, meningkatkan kesejahteraan petani, dan menaikan harga diri bangsa.

Budayakan konsumen cerdas untuk selalu cinta dan membeli produk Indonesia, termasuk produk hortikultura, seperti buah, sayur dan tanaman hias hasil budidaya petani kita sendiri. Budaya konsumen cerdas tersebut harus dimulai dari kalangan Pegawai Negeri Sipil (PNS), pegawai BUMN/BUMD, para pengusaha, cendekiawan, stakeholders serta para tokoh masyarakat.

Kita semua selaku konseumen cerdas memiliki tanggung jawab sosial untuk menjadikan  pasar hortikultura menjadi tempat memulai gemar mengkonsumsi buah dan sayuran produk dalam negeri.

Pemerintah wajib melindungi petani, salah satunya dengan memberikan bimbingan mulai dari penanaman hingga pasca panen, seperti packaging, agar nilai jualnya lebih tinggi. Kementerian Perdagangan (Kemendag) sudah  memberlakukan Permendag No.30 tahun 2012, tentang ketentuan impor produk hortikultura.

Itu artinya suatu bentuk proteksi pemerintah terhadap produk hortikultura lokal, bahwa buah impor berpenampilan cantik itu ternyata mengandung sedikitnya 19 penyakit dan unsur berbahaya.

Sedangkan  Badan Karantina menyatakan bahwa sebagian besar kandungan penyakit ini ditemukan pada buah jeruk dan apel. Bahkan bukan hanya penyakit saja, tapi ditemukan pula kandungan residu logam berat dan formalin pada sampel buah impor yang diperiksa selama 2 tahun.

Tetapi pada buah lokal sedikit kemungkinan mengandung berbagai penyakit. Begitu juga residu yang terdapat dalam buah tersebut, karena langsung didistribusikan dari kebun ke pengepul untuk  dimasukkan ke pasar domestik, sehingga tidak membutuhkan bahan pengawet seperti formalin atau zat kimia lainnya.

Kota Banjar memiliki beragam produk hortikultura, seperti  buah rambutan Si Batulawang yang telah mendapat pengakuan dari Menteri Pertanian No.322/Kpts/SR.120/5/2007, tentang pelepasan rambutan Si Batulawang sebagai varietas unggul dengan bentuk buah bulat telur, dan rasa manis, agak kering, serta tebal daging buah 0,6 cm-0,7 cm,  pepaya Langensari, dukuh Karangpucung, alpukat.

Berbagai produk pisang diantaranya pisang tanduk, pisang raja (Musa textilia), pisang muli, dan hasil olahan dari berbagai produksi tersebut. Untuk jenis sayuran meliputi terung bungur, mentimun, caosin, kangkung, dan tanaman hias yaitu berupa bunga melati yang diproduksi di Desa Mekarhaja.

Dalam upaya mewujudkan Banjar Agropolitan, kedepan sangat diperlukan dukungan yang nyata dari berbagai institusi pemerintah dan legislatif untuk membuat kebijakan, dan peraturan yang benar-benar efektif berikut penganggarannya guna meningkatkan daya saing produk hortikultura.

Dengan digelarnya promosi melalui Banjar Expo Hortikultura, hal itu akan terwujud apabila sinergitas program dari mulai Bappeda sampai instansi terkait lainnya saling bahu-membahu  mewujudkan pasar hortikultura menjadi tuan rumah di daerah sendiri yang mampu bersaing, baik harga maupun image konsumen.

Selain itu, peran investor/pengusaha sangat penting untuk terus mendorong dengan cara menanamkan modalnya dalam upaya membumingkan, mengoptimalkan produk hortikultura, baik itu dengan capital, teknilogi, maupun manajemen yang lebih berdaya saing. Tujuannya supaya program Banjar Agropilitan kedepan bisa berjalan sukses. ***

 

About author

Related articles

0 Comments

No Comments Yet!

You can be first to comment this post!

Leave a Reply