“Beras Lokal & Buah Lokal”

29/11/2012 0 Comments

Pekan lalu saya bertemu dengan kawan-kawan sesama wartawan redaktur media nasional tahun 89 di Kota Cimahi Jawa Barat, sekedar temu kangen sekalian bernostalgia waktu dulu bertugas sebagai wartawan di Jakarta. Di rumah makan masakan khas Sunda di Cibiru, kami makan lesehan dengan lauk pauk, sambel kampung, lalaban dedaunan, pete, jengkol muda, dengan nasi beras lokal jenis Beurem Seungit dari sebuah desa di kaki Gunung Gede, Kabupaten Cianjur. Dari daerah itu banyak jenis padi lokal yang lainnya, seperti jenis Gebang Omyok, peutey dan ada jenis padi lokal lainnya.

Salah satu kawan saya bercerita, tentang kemandirian pangan dari petani adat di lereng gunung Halimun dan di lereng gunung Gede. Kisah petani di lereng Gunung Halimun bisa memukau dunia, salah seorang tokoh adat Cipta Gelar Ua Ugis Suganda Amas Putra (61). Satu-satunya petani yang tidak mengeluh tentang kegagalan panen ketika menjadi pembicara di Pameran Produk Dunia Terra Mandre & Selona Del Gusto di Italia, 22-28 Oktober lalu.

Pada saat petani dari negara lain berkeluh kesah, Ua Ugis memaparkan keunggulan petani di lereng Gunung Halimun yang mampu mempunyai cadangan padi hingga 20 tahun ke depan. “Ua Ugis membawa solusi. Intinya adalah memperlakukan bumi sebagai ibu dan langit sebagai bapak,” papar Ua Ugis di hadapan para petani dari berbagai negara di dunia.

Tak hanya masyarakat adat, sebagian petani seperti di Cianjur, Jawa Barat, kembali tertarik menanam padi lokal setelah jalur khusus menuju pasar mulai terbuka. Areal pertanian di Desa Gasol di kaki Gunung Gede mulai kembali menanam padi lokal. Pertalian petani Desa Gasol dengan padi lokal sempat terputus pada saat pemerintah memperkenalkan padi unggul IR 64 yang bisa dipanen hingga tiga kali dalam setahun sejak masa revolusi hijau tahun 1980 an. “Ganti IR 64 karena benihnya diberi pemerintah,” kata petani di Desa Gasol.

“Kini, petani Desa Gasol memilih menanam padi lokal jenis Hawara Batu yang rasanya manis dan tetap enak meski hanya disantap dengan lauk garam dan jabe rawit,”. Jika menyantap nasi hawara batu dari pukul tujuh pagi, rasa kenyang bertahan hingga pukul tujuh malam. Kalau maka beras IR 64, jam 12 siang perut sudah lapar lagi. ucap petani di Desa Gasol.

Setelah diteliti di laboraturium, padi lokal seperti hawara batu. Ternyata mengandung  indeks glikemik yang rendah. Semakin rendah indeks glikemik, makanan menjadi lamban dicerna sehingga menimbulkan efek kenyang. Produk padi lokal organik sudah masuk dipasarkan di Supermarket bahkan di eksport. Dengan harga jual dua kali lipat dari beras IR 64.

Buah Lokal :

Dalam lesehan seharian di Cibiru, saya bercerita soal pepaya Callina buah lokal asli Indonesia. Tingginya belum sampai satu meter, usianya baru delapan bulan. Tapi pepaya Callina yang merupakan varitas temuan Prof. Dr. Ir. Sriani Sujuprihati, MS dari Institut Pertanian Bogor (IPB), sudah bisa menghasilkan puluhan buah lezat setiap panen dan siap dipasarkan. Kini banyak ditanam para petani di berbagai daerah, karena barbagai keunggulan dan tingginya permintaan pasar.

Pepaya berukuran kecil dengan bobot rata-rata 1,3 kg perbuah banyak di jual di supermarket-supermarket besar di kota-kota dilabel dengan nama “Pepaya California”. Yang menamakan itu bukan kami, tetapi para pedagang pasca panen (pengepul). Padahal itu pepaya Cillina hasil pemulian IPB bukan dari Amerika. Demikian juga dengan Pepaya Carisya temuan Prof. Sriani dkk, setelah di supermarket namanya berganti jadi pepaya Havana itu semua ulah pedagang yang demam menggunakan nama luar negeri.

Dua jenis  varitas pepaya Callina dan Carisya, dua jenis pepaya ini dapat beradaptasi dengan berbagai jenis tanah. Termasuk ditanah berpasir di tepi pantai seperti yang dikembang di Jawa Timur. Bila saja Pemkab Ciamis, Kota Banjar, dan DOB Pangandaran petaninya menanam pepaya dua jenis tersebut, bisa menambah kesejahteraan petani tidak hanya mengolah sawah dengan padi jenis IR 64. Tapi kembali mengolah padi dengan varitas lokal yang harganya lebih tinggi dibanding IR 64.

Kita berharap perlunya perlindungan terhadap padi dan buah lokal. Bila hal itu diabaikan pemerintah, berarti kita tidak hanya kehilangan benih lokal dan buah lokal, tetapi budaya, petani yang terpisah dengan padi dan buah lokal menjadi tidak berbudaya karena hanya berperan sebagai pekerja, bukan lagi produsen.

Pandan wangi beras lokal dari Cianjur itu memang enak, saking enaknya lupa berhenti meskipun perut sudah kenyang tapi mulut ingin terus melahap. Beras Pandan Wangi salah satu beras varitas lokal yang kini ramai dikonsumsi kelas menengah. Kenapa petani di Kabupaten Ciamis, Kota Banjar, DOB Pangandaran, tidak menanam padi dan buah lokal ?***

About author

Related articles

0 Comments

No Comments Yet!

You can be first to comment this post!