KACAMATA KUDA & AGROPOLITAN

22/11/2012 0 Comments

Bila ada pertanyaan, apakah fungsi kacamata? Bisa iya atau bisa juga tidak, bahkan bisa juga sejuta jawaban hanya soal kacamata. Kalau kacamata melihat dekat, ya…untuk melihat yang dekat-dekat, kalau kacamata untuk melihat yang jauh, ya… untuk melihat yang jauh supaya terlihat jelas. Kalau kacamata gaya? Ya… untuk bergaya. Kalau kacamata gaya untuk melihat yang jauh? Ya… untuk keduanya, persis seperti adik saya. Saya tak tahu kalau kacamata kuda, mungkin supaya bisa melihat kuda dengan jelas.

Beberapa hari lalu saya mengikuti seminar, berjudul “Peluang Investasi Dan Potensi Daerah Dalam Menghadapi Persaingan Pasar Global”. Seminar temu bisnis yang diselenggarakan BAPPEDA KOTA BANJAR. Visi Kota Banjar tahun 2005-2025 yang akan dicapai berdasarkan Rencana Pembangunan Jangka Panjang (RPJP) yaitu Banjar Agropolitan. Untuk mencapai Kota Banjar sebagai pusat Agropolitan, maka misi yang akan diterapkan mengembangkan sumber daya manusia (SDM) yang agamis, sehat dan produktif.

Timbul pertanyaan di benak saya, apakah bisa atau benar Banjar Kota Agropolitan, saya sempat berpikir. Saya jadi bingung saat melancong ke arena Banjar Expo yang kini sedang berlangsung, kota Banjar memamerkan olahan produk UKM (Usaha Kecil Menengah) dan kerajinan tangan, serta hasil pertanian seperti pepaya California dan susu kambing PE. Tapi bila mencari produk UKM di luar kegiatan seperti EXPO sulit mencari produk UKM, maupun susu kambing PE, yaa…lah kalau pepaya California ada di pasaran. Lain dengan kota/kabupaten peserta lainnya, produk unggulan muncul, lah kan Banjar kota baru yang baru 9 tahun, pikiran saya sudah lain lagi iya juga.

Kesimpulan saya, lebih baik saya melihat kemajuan kota Banjar memakai kacamata kuda. Supaya bisa melihat kuda dengan jelas. Sekarang bukan saatnya lagi berwacana, soal bagaimana mewujudkan Banjar sebagai kota agropolitan. Juga bukan waktunya lagi untuk berdiskusi tentang apa potensi kota Banjar, tak soal ada orang yang tersinggung.

Di penghujung periode pemerintah 2009-2013 ini, seharusnya Kota Banjar dapat menunjukan bukti nyata kiprahnya kepada masyarakat sebagai kota agropolitan. Jangan pura-pura gitu lho…, visi kan cuma sebuah mimpi, bila tidak berhasil karena keburu bangun dari tidur. Jangan gampang ganti saja visi (mimpi) di periode yang akan datang pemimpinan pemerintahannya juga diganti ini. Waduuh celaka 13 doong.

Banjar sebenarnya punya komoditas lokal, yaitu rambutan si Batulawang, dalam konteks keunggulan lokal rambutan si Batulawang harus mendapatkan perhatian serius karena si Batulawang itu asli urang Banjar, selain itu pepaya di belakang jangannya California. Beri saja nama pepaya Langensari. Nah itu pentingnya pakai kacamata kuda, upaya jelas terlihat kudanya.

Saya bertanya ? Beranikah Kota Banjar di pertengahan tahun 2013, mengadakan “Agriculture Expo”. Berani tidak. Buktikan kalau punya nyali Agropolitan, biar publik dan dunia tahun Banjar kota agropolitan. Bangunkan Gapoktan (Gabungan Kelompok Tani) jangan cuma mau menerima bantuan dan sumbangan mulu…***

About author

Related articles

0 Comments

No Comments Yet!

You can be first to comment this post!