RTRW Tentukan Arah Pembangunan Kabupaten Pangandaran

22/11/2012 Headline
RTRW Tentukan Arah Pembangunan Kabupaten Pangandaran

Tokoh Masyarakat Ciamis R. H. Ahmad Masmu

R. H. Ahmad Masmu

Sekitar waktu Ashar, Kamis (15/11), Redaktur Pelaksana HR, Deni Supendi bersama Wartawan Dicky Heryanto Adjid, berkunjung ke rumah salah satu tokoh masyarakat Ciamis, R. H. Ahmad Masmu, di Perum Kertasari Ciamis.

Keduanya mendatangi R. H Ahmad Masmu untuk melakukan kunjungan & silaturahmi, sekaligus meminta tanggapan perihal terbentuknya Daerah Otonomi Baru (DOB) Pangandaran dan Kondisi Ciamis Pasca Pemekaran.

Namun, setibanya di kediaman R. H. Ahmad Masmu, HR tidak langsung berhasil menemuinya. Menurut informasi dari tetangganya, yang bersangkutan masih istirahat (tidur-red), karena sedang menjalankan ibadah puasa sunat.

“Setiap hari Senin dan Kamis, Pa Masmu pasti menjalankan puasa sunat. Kemungkinan,  dia masih istirahat. Kalau mau bertemu, lebih baik nanti saja datang lagi setelah waktu Magrib atau Isya,” ungkap tetangga R. H. Ahmad Masmu. (HR pun akhirnya beranjak, dan merencanakan kembali untuk mendatangi rumahnya sesuai dengan informasi yang diperoleh).

Waktu menunjukkan pukul 18.15, HR pun bergegas menuju kediaman Masmu -panggilan akrab-, (karena takut tidak berhasil menemuinya). Benar saja, sesampainya disana, Masmu masih berada di mesjid sekitar rumahnya.

Selang beberapa waktu, HR yang sedang menunggu di halaman rumah, (menunggu sang empunya rumah pulang dari mesjid), dikejutkan bunyi pintu rumah terbuka. Sesosok laki-laki  tua dengan baju koko dan kain sarung serta berkopiah itu menyambut kedatangan HR dengan senyuman hangat.

“Silahkan masuk, udah lama ya menunggu. Maaf saya baru pulang dari mesjid,” kata Masmu, sambil mempersilahkan HR memasuki ruang tamu dan mempersilahkan HR duduk. (saat itu HR pun langsung diberi jamuan minuman dingin).

“Tapi, biar lebih santai dan waktunya panjang, gimana kalau wawancaranya nanti saja kita lanjutkan setelah Isya,” pinta Masmu, yang kebetulan saat itu Adzan Isya mulai berkumandang. (HR diminta menunggu sambil menikmati jamuan yang tersedia di atas meja tamu).

Setibanya dari mesjid, Masmu kemudian duduk santai sambil menyulut sebatang rokok Dji Samsoe Kretek. Dia akhirnya membuka perbincangan ringan dengan HR. Sebelum wawancara, Masmu juga mennyebutkan beberapa organisasi yang pernah membesarkannya, seperti Banser jabatan Ketua, KAPPI, Forum Eksponen 66, Wakil Ketua NU Ciamis, MKGR, dan berbagai ormas kepemudaan lainnya. Berikut hasil petikan wawancara HR dengan Masmu.

***

HR : Bagaimana pendapat Anda dengan telah terbentuknya DOB Pangandaran, dalam pandangan Posistif dan negatifnya, bila ada?

Masmu : Hmm, soal itu, berbeda dengan terbentuknya Kota Banjar yang dulu merupakan wilayah Kab. Ciamis. Kalau Banjar terlebih dahulu memiliki embrio, yaitu sebagai Kota Administratif. Jadi, Banjar sudah memiliki pejabat, mulai dari walikotanya, sekretaris, hingga kepala-kepala bagian. Sementara DOB Pangandaran, memang sangat baru.

Dulu, di Banjar juga ada presidium sebagai gerbangnya, tapi itu hanya melengkapi di aspirasi masyarakat untuk pembentukan Kota Banjar. Sedangkan di Pangandaran tidak ada embrionya, jadi peran presidium tidak bisa serta merta masuk dalam masalah penempatan birokrasi.

Justru dikhawatirkan, nanti akan muncul intervensi masalah tuntutan kepentingan. Misalnya, Presedium butuh si Anu jadi kepala dinas tertentu, sedangkan secara administratif kepegawaian, yang bersangkutan tidak memenuhi persyaratan, baik dari pengalaman atau latar belakang pendidikan.

HR : Dengan terbentuknya DOB Pangandaran, pasti ada perubahan peta politik di Kabupaten Ciamis maupun di DOB Pangandaran. Bagaimana pendapat anda?

Masmu : Justru tidak begitu signifikan perubahannya. Karena,,, inikan susah ya secara politik! soalnya perspektif jaman sekarang terlalu menonjol pragmatisnya ketimbang ideologinya. Atau bisa juga dikatakan, sekarang ini orang lebih berani mengatakan wani piro, ya nggak?

HR : Bagaimana menurut pendapat anda, apakah DOB Pangandaran juga akan berpengaruh pada perubahan Aspek Sosial, Ekonomi dan Budaya?

Masmu : Menyikapi masalah ini, yang terutama adalah justru apa yang akan menjadi akar budaya DOB Pangandaran? Karena secara umum masalah aspek ekonomi dan sosial tidak jauh berbeda dengan wilayah lainnya. Yang menjadi persoalan yaitu terletak pada sisi pemerataan penghasilan, misalnya penghasilan nelayan dan petani.

Di samping itu, yang perlu dicermati juga adalah soal masalah PKL di kawasan Pangandaran yang hampir 50 persen lebih merupakan warga pendatang. Apakah dengan adanya DOB Pangandaran, kesejahteraan warganya bisa meningkat atau tidak. Karena sesuai dengan rencana dan keinginan awal warga di wilayah tersebut, dibentuknya DOB Pangandaran yakni untuk meningkatkan kesejahteraan.

HR : Pasti anda paham, banyak lahan di DOB Pangandaran yang dimiliki pihak swasta. Apakah hal tersebut tidak akan menghambat pembangunan DOB Pangandaran?

Masmu : Iya benar sekali. Lahan Startrust misalnya saja, sekarang bagaimana penguasaan dan kepemilikannya? Jika tidak diperjelas, nantinya akan menimbulkan konflik perebutan lahan.

Untuk itu, nanti Bappeda dan Badan Pertanahan Kab Pangandaran segera betul-betul melakukan penataan dan inventarisasi aset-aset mana saja yang merupakan milik pemerintah. Salah satunya, dengan menentukan RTRW (Rencana Tata Ruang Wilayah) untuk memperjelas peruntukan lahan.

HR : Menurut Analisa anda, dalam berapa tahunkah Pangandaran bisa menunjukkan kemajuan yang diharapkan masyarakatnya?

Masmu : Hasilnya nanti bisa kita lihat dari sejauhmana willingness (kemauan-red) Bappeda dan Badan Petanahan Kab. Pangandaran. Karena, kuncinya ada di tangan perencanaan Bappeda dan Badan pertanahan. Kalau saja RTRW tidak segera ditentukan atau tidak segera diperjelas, maka pembangunan Kab. Pangandaran pasti akan terhambat.

Selain itu, Bappeda juga harus segera menentukan Visi dan Misi Kab. Pangandaran. Apa yang mau dikembangkan di Pangandaran, apakah dari sisi pariwisata lautnya, atau dari sisi apa. Kemudian, mau nggak pemerintahnya konsisten terhadap visi dan misi itu.

Perbincangan atau wawancara resmi HR dan Masmu berlangsung kurang lebih satu jam setengah. Sambutan Masmu terhadap HR sangat hangat, sehingga membuat HR sulit untuk beranjak dari kursi. Namun karena waktu dan tugas keredaksian masih menumpuk, HR terpaksa harus pamit kepada tuan rumah.

Masmu memahami apa yang menjadi tugas HR, bahkan dia mengantarkan HR hingga keluar halaman rumah. Tidak lupa, dia juga berpesan “salam” kepada jajaran redaksi HR, dan berterimakasih atas kunjungan tersebut.***

KOMENTAR ANDA

Komentar

Related articles