Siapa Saja yang Bisa Disebut Pahlawan ?

16/11/2012 0 Comments

10 November 2012 adalah hari Pahlawan ke-67 tahun. 9 tahun lalu di Kota Banjar lahir pula Koran HR (Harapan Rakyat) tepatnya 10 November 2003. Koran HR bervisi Perjuangan Demokrasi & Ekologi, motonya; Berbeda untuk Bersatu.

Sejarah bangsa Indonesia mencatat 10 November adalah hari Pahlawan. Demi mempertahankan kemerdekaan, banyak pahlawan gugur di peperangan. Apa sih yang kita lakukan untuk mengenang jasa para pahlawan kita ? Siapa saja yang bisa disebut pahlawan ?.

Pahlawan adalah orang yang berkorban demi orang lain tanpa pamrih, dan melakukan perubahan kepada yang lebih baik. Pahlawan biasanya identik dengan orang yang berjuang demi mempertahankan kemerdekaan bangsa. Dahalu, perjuangan untuk merebut dan mempertahankan kemerdekaan dilakukan lewat perang dan pemberontakan.

Peristiwa 10 November 1945, adalah contoh perlawanan rakyat untuk mempertahankan kemerdekaan. Disini tak sedikit warga sipil menjadi korban. Lewat orasinya, Bung Tomo mampu membangkitkan semangat rakyat untuk ikut berjuang mempertahankan jiwa raga demi mempertahankan hak hidup merdeka di tanah air. Menghadapi penjajah dan sekutunya, Arek-Arek Suroboyo bangkit melawan.

Sadar atau tidak, kita menikmati hasil pengorbanan para pahlawan tempo doeloe. Seperti kebebasan berpendapat, kesempatan mengenyam pendidikan, dan kebebasan dari tekanan bangsa asing. Apa masih perlukah jiwa kepahlawanan sekarang ini? Masih adakah orang yang  berkorban, bersusah payah melakukan sesuatu tanpa pamrih alias tak ada udang dibalik batu (tak ada maksud tertentu)?.

Padahal hampir setiap hari telinga kita membaca sajian berita perilaku para petinggi negeri ini yang sakit perut bila tidak korupsi, perkelahian antar suku, antar kampung/desa, dan tawuran pelajar. Peringatan hari Pahlawan tahun 2012 berlangsung di tengah situasi bangsa yang kedodoran oleh berbagai konflik di sejumlah wilayah negeri ini.

Konflik horizontal yang merebak di sejumlah tempat di Indonesia saat ini seakan tidak mengenal kawan dan lawan. Kekerasan diantara sesama warga bangsa ini, ibarat perang oleh semua melawan semua. Kekonyolan bertambah karena upaya penghentian konflik tampak kedodoran. Juga menjadi pertanyaan, mengapa masyarakat Indonesia begitu sensitif, mudah dihasut, dan gampang melakukan kekerasan.

Tidak jarang pencuri dibakar hidup-hidup, sebagai bentuk main hakim sendiri. Kecenderungan main hakim sendiri yang bermunculan itu jangan-jangan karena masyarakat sudah tidak percaya lagi pada sistem hukum sebagai benteng keadilan. Mafia hukum dan peradilan telah meruntuhkan kepercayaan rakyat.

Tuntutan kepahlawanan saat ini sudah pasti jauh lebih komplek, ketimbang kepahlawanan  pada era memperjuangkan dan mempertahankan kemerdekaan. Makna pengorbanan pahlawan yang gugur di era pergerakan dan perjuangan nasional akan semakin besar jika terus dilanggengkan oleh para pelopor sebagai pahlawan hidup, saat ini yang terus memperjuangkan  nilai-nilai kemanusian dan ke-Indonesiaan.

Semangat kepahlawanan dan kepeloporan terasa sangat diperlukan dalam perang melawan kemiskinan, ketidakadilan, kebodohan dan keterbelakangan, serta kehancuran ekologi yang mengancam bangsa negara Indonesia. ***

About author

Related articles

0 Comments

No Comments Yet!

You can be first to comment this post!

Leave a Reply