“NGECENG”

06/12/2012 0 Comments

Saya teringat peristiwa Agustus tahun ini, kepolisian Surabaya berhasil menangkap gembong prostitusi yang membawahi lebih dari 2.000 pelacur. Memenuhi pesanan hingga ke Papua, germo ini katanya sehari bisa mengantongi duit sebagai penghasilannya Rp. 25 juta sehari. Gila dan luar biasa, memang prostitusi sudah sejak lama hidup di dunia ini.

Nama si germo itu Yunita alias Keyko, dengan susah payah kepolisian Surabaya membekuknya 25 Agustus lalu di salah satu rumah persembunyiannya di Bali. Tuduhan terhadap perempuan cantik (34) tak main-main : pemimpin jaringan prostitusi di berbagai kota di Pulau Jawa sampai Papua, kliennya tersebar di berbagai kota besar di negeri ini.

Perempuan cantik ini mengaku pada polisi membuat publik terhenyak. Ia mengakui memiliki 2000 lebih pelacur dalam jaringannya. Yunita mengendalikan jaringannya lewat BlackBerry Massenger (BBM) dan grup di Facebook. Dari sini muncul nama Keyko, sebagai nama samaran sekaligus merek dagangnya. Keyko alias Yunita kerap memamerkan koleksi terbaru pelacurnya dengan memajang foto mereka di profil BBM.

Ia juga rajin mengirim foto “barang barunya” kepada para pelanggan. Keyko sangat rapih menyusun anak asuhnya, berikut tarif ada yang Rp.1,5 juta sampai Rp.15 juta sekali kencan. Penampilan perempuan-perempuan itu memang luar biasa, wajah mereka tak kalah cantik dengan bintang sinetron di tv. Rambut terawat segar dan baju yang dipakai terlihat mewah. Sebagian berpose seperti sengaja menampilkan dada mereka yang busung dan aduhai.

Sebelum menulis cerita di atas ini, saya sempat merenung sejenak setelah membaca berita koran harian lokal yang berjudul “Wali Kota Banjar Minta PSK Dikumpulkan”. Wali Kota DR. dr. H. Herman Sutrisno, MM, meminta Dinas Sosial dan Tenaga Kerja segera mengumpulkan PSK (Penjaja Seks Komersial) yang biasa praktek di wilayah Kota Banjar, baik yang tertutup maupun yang terbuka.

Mengumpulkan PSK ini bukan berarti saya mau “Ngeceng” PSK, tetapi dalam rangka penanganan kesehatan PSK Banjar kedepan. Saya paham soalnya profesi Wali Kota seorang dokter, bila Pemkot Banjar terlupakan menangani PSK khawatir berbagai penyakit kelamin bisa merajalela di kota ini. Katanya setahun ini Dinas Sosial dan Tenaga Kerja Kota Banjar absen menangani penyakit masyarakat ini.

Setelah Wali Kota mengeluarkan maklumat, Dinas Sosial dan Tenaga Kerja baru siap melakukan pendataan dan pembinaan PSK yang beroprasi di “kota yang tempo doeloe di juluki kota yang tak pernah tidur dan di sebut kota gersang (gairah dan merangsang)”. Dalam pengamatan media kita HR, PSK yang nongkrong di pinggir jalan tak begitu menonjol dibanding dulu seperti di viaduct, banci pun tak nampak. Mungkin mereka bermain cara tertutup, pasti petugas akan kesulitan dalam menjaringnya. Sekarang ini tak seperti dulu.

Setelah terungkap jaringan servis planitium “Ratu Prostitusi” Keyko alias Yunita di Surabaya yang cukup mengagetkan publik di negeri ini. Gaya operasional para germo PSK di berbagai daerah mengikuti cara Keyko alias Yunita bermain di dunia maya dengan BBM dan Facebook. Berarti tugas berat para petugas yang menangani PSK, harus ngeceng dulu agar bisa mengetahui jaringan-jaringan tertutup para penjaja seks ini. Selamat bekerja, yaa oom. Hidung belang juga tidak berkurang jumlahnya. Aaih jangan gitu dong, cuma pegang muluu asooy biar aman dealnya lewat Facebook atawa di Black Berry Messenger, kan Pa SATPOL PP engga semua punya BBM. Itu ucap PSK terselubung yang genit dengan jeans sempit dan dada membusung, sambil tersenyum ramah. Selamat malam.***

About author

Related articles

0 Comments

No Comments Yet!

You can be first to comment this post!

Leave a Reply