Agropolitan (Banjar) Dengan Menggairahkan Pertanian Pedesaan

31/01/2013 0 Comments

Oleh  : Nanang Supendi

Menarik apa yang menjadi Diskusi Secangkir Kopi Panas dalam tulisan Koran HR edisi 308 minggu lalu mengenai Nasib Petani di Kota Agropolitan (Banjar). Dalam kesempatan ini pula penulis ingin menambah menuangkan komentar hal tersebut. Dengan alasan keberadaan mayoritas penduduk Kota Banjar bermata pencaharian pertanian, pemangku kebijakan menentukan pilihan bervisi menjadi Kota Agropolitan termaju di Priangan Timur 2025.

Semenjak visi tersebut dicanangkan, baik pemegang kebijakan dan seluruh komponen masyarakat, program ini sedang dijalankan dari 2009 dan terus berlangsung hingga sekarang. Pembangunan dengan model agropolitan diharapkan mengangkat dan mensejahterakan warga pedesaan, hal itu juga wujud meningkatkan laju pertumbuhan ekonomi.

Tanpa dipungkiri bersama, Kota Banjar menunjukan pertumbuhan yang pesat semenjak kelahirannya, memperlihatkan kota yang “cantik” dengan segala ornament kota dan hasil pembangunan infrastrukturnya, memberikan pelayanan yang baik bagi masyarakat, serta dengan berbagai prestasi yang mengiringinya.

Bolehlah kita berbangga dengan pencapaian tersebut, sekarang masalahnya, apakah visi Agropolitan Kota Banjar yang merupakan impian kolektif kita bersama turut terwujud? Atau hanya sekedar menjadi visi Kota Banjar dengan realisasi juga masih belum tahu secara jelas?. Pertanyaan ini hendaknya dijawab oleh semua komponen masyarakat Kota Banjar, khususnya para petani. Dimana menunjukan perjalanan waktu tahun ketahun yang bekerja di sektor pertanian semakin berkurang.

Tentu jangan pula sampai terjadi visi Agropolitan Kota Banjar dan implementasinya menjadi tidak ramah bagi masyarakat tani di Kota Banjar dan membuat mereka tersisih dari pembangunan di kotanya sendiri, atau juga justru membuat masyarakat tani terisolasi dari desanya sendiri, hanya karena desa itu telah berubah menjadi sebuah kota. Belum lagi pada tersedotnya potensi pedesaan, salah satunya pemuda di pedesaan menganggap bahwa usaha tani kurang bergengsi dan kurang menjanjikan untuk masa depannya, yang berakibat semakin berkurangnya pemuda tani di pedesaan.

Melihat fenomena tersebut, analisis yang perlu dilakukan dalam menjadikan Banjar Kota Agropolitan yaitu dengan menggairahkan pertanian pedesaan dan melaksanakan pengembangan pedesaan melalui pendekatan pembangunan yang berbasis pertanian yaitu pertama; Menjalankan semua rantaian proses agrobisnis mulai proses budidaya tanaman (agroteknologi), pengelolaan pasca panen (agroindustri) hingga pemasarannya bisa tertangani didesa, maka desa/daerah akan mampu menyerap tenaga kerja dalam jumlah besar dan mampu mengurangi arus urbanisasi sehingga tenaga kerja produktif terutama potensi pemuda menumpukan harapan ekonominya di desa.

Kawasan pedesaan yang mempunyai produk unggulan ditumbuh kembangkan menjadi kawasan agrobisnis. Kita tidak menginginkan kehilangan pamor produk-produk pertanian unggulan kita yang mempunyai nilai jual atau sudah menjadi ciri khas Kota Banjar, seperti rambutan si Batulawang yang nyaris tak terdengar lagi atau hanya bisa didapat pada musimnya saja. Produk unggulan lainnya seperti sayuran dataran rendah (beberapa palawija), pepaya calipornia, kelapa dan gula kelapa berada di Kecamatan Langensari serta berbagai potensi unggulan lainnya yang berada di kecamatan wilayah Kota Banjar yang harus terus dikembangkan.

Pembangunan pertanian kita lebih banyak terfokus pada upaya peningkatan hasil (on-farm) saja melalui perbaikan cara bercocok tanam (agroteknologi), penyedian sarana pupuk, obat-obatan, dan benih unggul, namun pasca penanganan panen (of-farm) belum sepenuhnya tertangani secara serius misalnya pengolahan hasil pertanian (agroindustri) dan pemasarannya (agromarketing) belum tersentuh secara maksimal. Sehingga segala rantai proses agrobisnis belum bisa tertangani secara penuh.

Sebenarnya jika semua rangkaian proses agrobisnis bisa kita kelola di wilayah setempat maka manisnya keuntungan pada proses produksi (on-farm) dan pengolahan hasil serta pemasaran (of-farm) dapat dirasakan oleh masyarakat pedesaan, sehingga benar-benar dapat menggairahkan usaha pertanian pedesaan dan meningkatkan taraf hidup petani desa.

Desa yang memiliki penghasil produk bahan mentah tentunya harus didorong untuk menghasilkan bahan olahan sehingga mempunyai nilai tambah yang dapat dirasakan oleh petani. Oleh karena itu agar rangkaian proses agrobisnis tidak keluar dari daerah kita, maka perlu pengembangan agropolitan dan desa-desa pengembangan disekitarnya yang merupakan pemasok produk unggulan mentah.

Selanjutnya yang kedua dalam menggairahkan pertanian pedesaan yaitu berupaya mengembangkan produk unggulan pertanian yang dimiliki Kota Banjar dengan suatu konsep atau pendekatan Satu Desa Satu Produk, artinya semua desa sewilayah Kota Banjar mengembangkan produk unggulan desanya masing-masing. Konsep ini sangat potensial untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat setempat, disamping itu pemberian prioritas pengembangan produk unggulan di perdesaan menjadi sangat penting karena disanalah sebagian besar masyarakat tinggal.

Dengan Kota Banjar mendorong “Satu Desa Satu Produk”, ini dilakukan agar pengembangan produk unggulan desa menjadi lebih berkualitas, bernilai tambah tinggi dan akhirnya mampu meningkatkan kesejahteraan rakyatnya tak terkecuali nasib petani akan semakin baik. Untuk mencapai target semua desa kembangkan produk unggulan daerah, maka upaya ini harus menjadi program Kota Banjar.

Terkait hal itu, pemerintah daerah Kota Banjar dapat mengeluarkan dasar hukum bagi pengembangan produk unggulan pertanian didaerahnya untuk menunjang pencapaian visi agropolitan, sebagai dasar bagi seluruh OPD untuk terciptanya dan keterpaduan dalam mengembangkan produk unggulan daerah.

Pada prinsipnya pengembangan kawasan Agropolitan merupakan pembangunan ekonomi berbasis pertanian di kawasan agrobisnis, yang dirancang dan dilaksanakan dengan jalan mensinergikan berbagai potensi yang ada untuk mendorong berkembangnya sistem dan usaha agrobisnis yang berdaya saing, berbasis kerakyatan, berkelanjutan dan terdesentralisasi, yang digerakan oleh masyarakat dan difasilitasi oleh pemerintah.

Oleh karenanya diperlukan tekad dan komitmen kuat dari stakeholder bersama masyarakat untuk mewujudkan Agropolitan. Mengingat untuk mewujudkan kota Agropolitan merupakan kegiatan terpadu dari berbagai sektor yang mendukungnya, seperti Dinas Pertanian melaksanakan pembinaan dan pembangunan kawasan produksi (agroteknologi) melalui intensifikasi untuk peningkatan kualitas dan kuantitas produk, sedangkan tanggung jawab PU yaitu pelaksanaan pembangunan sarana fisik seperti pengairan, jalan dan terminal atau juga pasar, selanjutnya terkait dengan pemasaran dan pengolahan hasil (agroindustri) atau penanganan pasca panen merupakan tugas dari Dinas Perdagangan dan Perindustrian. Satu lagi yaitu dukungan permodalan, perbankan dan lembaga ekonomi desa memegang peranan sangat penting untuk mendukungnya.

Tentunya dengan analisis berupaya menggairahkan pertanian pedesaan akan membawa dampak bagi percepatan pencapaian Banjar Kota Agropolitan, sehingga dimungkinkan pula membawa perubahan menjadi Kota Perdagangan, Jasa, dan Transit. Kerena dengan keberhasilan menjadi Kota Agropolitan dengan sendirinya akan terjadi pertukaran arus perdagangan atas hasil-hasil pertanian. ***

About author

Related articles

0 Comments

No Comments Yet!

You can be first to comment this post!