(DISKUSI SECANGKIR KOPI PANAS) Bisakah : Kota Banjar Kembali Menjadi Kota Tak Pernah Tidur ?

31/01/2013 Berita Banjar , Headline
(DISKUSI SECANGKIR KOPI PANAS) Bisakah : Kota Banjar Kembali Menjadi Kota Tak Pernah Tidur ?

Catatan Redaksi :

Dalam menyongsong 10 tahun Kota Banjar, Koran Mingguan Umum (HR), terus berlangsung menuangan hasil diskusi Secangkir Kopi Panas, dalam tiga pekan terakhir adu kuat pemikiran kritis dan cerdas saling berbeda pandangan dalam memberikan suport untuk mendukung pembangunan di Kota Banjar. Bagian pertama kilas balik 2012 Kota Banjar Akan Kemana ? Agropolitan atau Kota Jasa, Perdagangan dan Transit dalam edisi HR 306, [Telah Kritis Orientasi Pestisida Kimia (Kota Banjar) “Sudahkah Menerapkan Konsep Pertanian Berkelanjutan” dalam edisi 307. Nasib Petani di Kota Agropolitan (Banjar) edisi 308.

Pada edisi 309 pekan ini “Bisakah, Kota Banjar Kembali Menjadi Kota Tak Pernah Tidur”, dalam diskusi ini pandangan pikiran Skuad Secangkir Kopi Panas (H. Agus Nugraha, M.Si., Asno Suratno, MP., H. Basir, M.P, Dede Tito Iswanto, ME., Ery K Wardana, ST., dan Dede Suryana, S.IP) menemui titik persamaan pemikiran dengan Tim Litbang HR (Asep Mulyana MA, Rachmat, M.Si (Mahasiswa Program Doktor Universitas Pertanian Brawijaya) dan Jajaran Redaksi HR, diskusi dipandu Pimpinan Umum HR.

Dalam panduannya Pimum HR Bachtiar Hamara, menekan penting menggunakan emosi positif dalam memecahkan persoalan supaya bisa menghasilkan solusi yang positif juga. Yang pada era reformasi sekarang ini emosi negatif lebih banyak dipergunakan, dimanfaatkan sebagai kebebasan berdemokrasi. Jadi berdemokrasi kebablasan untuk berbuat apa saja, dengan menggunakan emosi negatif saling menyerang, menghujat, memaksa kehendak, bahkan melanggar norma hukum.

Kehidupan masyarakat Banjar masa lalu, kehidupan terasa harmonis dengan kebhinekaan tunggal ika hidup nyaman di masyarakat kesibukan mencari nafkah tak terusik meskipun ada persaingan usaha normal-normal saja. Makanya Banjar mempunyai ikon “Kota Tak Pernah Tidur”. Pertanyaannya, ikon apa yang dimiliki Kota Banjar?. Semuanya tampak jelas.

***

Diskusi diawali oleh Tim Litbang HR, pentingnya SDM (Sumber Daya Manusia) peningkatannya harus menjadi prioritas di Kota Banjar. Munculnya berbagai masalah sosial di Kota Banjar karena rendahnya SDM di masyarakat bawah, seperti makan daging anjing dan menenggak minuman keras oplosan sehingga menimbulkan korban jiwa. Mengejutkan kalangan masyarakat. Kesalahan orang mabuk, hanya sekedar bersenggolan dengan anggota ormas yang mengusung Islam jadi huru-hara. Sementara masyarakat nampak nyinyir mendengarnya, seperti sengaja dibikin ribut dengan memunculkan emosi negatif. Untung aparat kepolisian Kota Banjar, cepat mengambil langkah simpatik mendamaikan kedua kelompok.

Berbagai indentifikasi, analisis, dan sosialisasi di masyarakat. Harus cepat ditangani Pemkot Banjar, dan DPRD ini menjadi jalan yang tepat untuk ditangani demi kelancaran pembangunan sosial yang berbasis HAM (Hak Azasi Manusia) berkeadilan dan berkelanjutan di Kota Banjar.

Kesamaan pendapat antara “Skuad Secangkir Kopi Panas dan Tim Litbang HR” muncul dalam pemikiran kritis dan cerdas kedua kelompok ini. Skuad Secangkir Kopi Panas melihat dan mengenang kebelakang soal keberadaan waktu berstatus Kawadanan dan Kecamatan Banjar masih berada di Kabupaten Ciamis. Bila melihat ke belakang antara tahun 60-70-80 an Kota Kecamatan Banjar tempo doeloe, terbayangkan bagaimana Jl. Merdeka sekarang Jl Letjen Suwarto, Jl Gudang sekarang Jl. R. Hamara Effendi, Jl. Kantor Pos sekarang Jl. BKR, Pasar Banjar, Terminal Bus yang sekarang menjadi GBI (Gedung Banjar Idaman), dan Stasiun KA dan Viaduct yang membawa kenangan ke belakang kehidupan yang cukup damai. Bersahaja dan yang utama perekonomian pada saat itu pun cukup bergerak dengan kondisi saat itu tentunya.

Kondisi dinamis saat itu, kelihatan masyarakat cukup tertarik datang ke kota Kec. Banjar atau Banjar tempo dulu. Karena Banjar adalah merupakan infrastruktur proses kegiatan perekonomian, semua wilayah di bagian perbatasan Jabar-Jateng dan Ciamis selatan. Banjar menjadi kota dagang, jasa dan transit yang memadai. Sehingga hiruk pikuk perekonomian dari terbit matahari hingga terbit lagi di Banjar tak pernah terlewati oleh kegiatan orang yang mencari kehidupan. Saat itu PAD (Pendapat Asli Daerah) Kabupaten Ciamis 33 persen diperoleh dari kota Kec Banjar.

Infrastruktur angkutan transportasi pada waktu itu lebih dominan menggunakan jasa kereta api, sehingga penduduk di bagian wilayah perbatasan tadi lebih terkonsentrasi dan pasti memburu tempat penginapan di Banjar, untuk menunggu jadwal keberangkatan kereta api sehingga peluang-peluang kebutuhan tadi ditangkap oleh para pengusaha penginapan. Dengan banyak losmen yang berdekatan dengan stasiun KA.

Dan kegiatan jasa perdagangan, masyarakat tahu bahwa Banjar adalah titik distribusi dari kebutuhan pokok sehingga suplai dan bongkar muat yang merupakan aktivitas transaksi jual beli di pasar Banjar cukup padat. Dalam waktu menunggu jadwal keberangkatan KA atau bus yang masih lama, para pandatang di Banjar, meluangkan waktu untuk menikmati hiburan malam seperti sandiwara atau wayang orang maupun bioskop.

Para pedagang menjajakan dagangannya untuk bahan cemilan malam di sepanjang Jl. Merdeka yang tertata rapi di atas nyiru dengan penerangan menggunakan lampu minyak alias cempor seadanya. Hal tersebut menjadi ke khasan saat itu, dengan jajanan tradisional (lokal) saat itu tentu rata-rata hasil kegiatan pertanian seperti kacang rebus, buah-buahan yang dijajakan.

Kenangan tadi menjadi inspiratif untuk membangkitkan kembali bahwa Banjar dapat kembali dengan substansi yang sama menjadi kota transit, kota distribusi hasil pertanian dan perdagangan dan jasa. Itulah Ikon “Kota yang tak pernah tidur”. Pemikiran ke belakang tentu menjadi bagian tempo dulu menjadikan Banjar sekarang ini menjadi kota yang dapat menjalankan roda perekonomian rakyat dengan sebutan kota yang tak pernah tidur.

Ada beberapa faktor yang mengubah kondisi kota Banjar pada saat ini. Pertama  informasi global. Semua menjadi kompetitif dan semua wilayah dan masyarakat mempunyai peluang yang sama, sehingga siapa cepat tentu akan lebih menggapai peluang. Kedua peranan masyarakat kota Banjar, seperti tak siap untuk berkompetiter dalam merebut peluang yang ada untuk dijadikan daya tarik dalam menggerakan ekonomi masyarakat. Peranan saudagar lokal selalu ingin mendominasi usaha-usaha tradisional yang menjadi warisan leluhurnya. Hanya munculnya beberapa retail saja mereka berteriak, dan pertimbangan Pemerintah Kota Banjar membatasi bertumbuhan usaha ritail. Ini juga menjadi menyebab masyarakat manja yang maunya hanya diberi dan keinginannya harus digugu. Contoh, pedagang di pasar Banjar pasti Pemkot pun tahu itu. Lucunya para pedagang ini enggan berkompetiter dengan usaha ritail saja. Tapi mereka untuk mencari kesenangan berbelanja ke kota Besar bahkan sampai ada yang keluar negeri. Dalam hari-hari libur bisa dilihat banyak pedagang atau masyarakat Banjar yang weekend ke Kota Tasikmalaya, berbelanja, kuliner, dan nonton film.

Ketiga peranan Pemerintah Kota Banjar dan stakeholder (pemangku kepentingan) perlu lebih khusus dalam mengevaluasi 10 tahun terakhir ini. Mana yang belum optimal, mana yang belum tersentuh dan mana yang perlu dilakukan perubahan?. Keempat memanfaatkan  sumber yang ada jadi daya tarik dalam melengkapi yang telah ada untuk menarik minat lebih lama orang tinggal di Kota Banjar.

Dari kondisi itu semua tentu mesti tidak lepas dari aspek sosial, budaya serta kenyamanan dan terasa aman beraktivitas di Kota Banjar khususnya para investor. Pengembangan perencanaan Kota Banjar dengan meningkatkan aktivitas tinggi dalam kurun waktu lima tahun ke depan Banjar menjadi kota tak pernah tidur bisa terwujud. Dengan menciptakan keramaian kota dengan mengadakan tempat-tempat hiburan misalnya adanya gedung bioskop “Twenty One (21)” tempat-tempat kuliner dan hotel yang baik bisa hidup sampai pkl 22.00. Kehidupan kota tak pernah tidur, berangsur -angsur akan hidup kembali menjadi ikon Kota Banjar. Selama posisi Banjar hanya jadi perlintasan ke obyek wisata Pangandaran, peluang itu tak dimanfaatkan Pemkot dan stakeholder Banjar. Sayang yaaa!. Pertanyaannya, bisakah Pemerintah Kota dan masyarakat Banjar, menciptakan daya tarik kreatif untuk kota ini?.

Sehingga lebih cepat menciptakan estetika kota yang Idaman (Indah, Damai dan Mandiri), terciptanya ground economy baru, sehingga laju pertumbuhan ekonomi pun tercipta. Sekarang ini Kota Banjar hanya jadi kota aktivitas kegiatan kerja para birokrasi saja yang setelah pkl.16.00 berangsur sepi karena banyak yang tinggal di luar kota Banjar. (Adi/Eva)

KOMENTAR ANDA

Komentar

Related articles