(Menjelang 10 tahun Kota Banjar) “Ulah Neupi Ka Jati Kasilih Ku Junti”

25/01/2013 0 Comments

{Obituari ; Drs. H. Yusuf Sidik, S.H. [Mantan Presidium FPSKB (Forum Peningkatan Status Kotif Banjar) Menuju Daerah Otonomi}

Memperjuangkan Banjar menjadi kota, tidak ujug-ujug datang dari langit begitu saja. Ada perjuangan untuk mencapai itu. Meskipun kecil rintangan itu ada, ada isu dari sebagian pengusaha, bila Banjar jadi kota pasti pajak naik. Ada juga yang bilang lebih baik mensejahterakan dulu masyarakatnya, pendapat-pendapat itu ternyata sarat kepentingan sekelompok orang yang dimainkan oleh sementara pejabat di Ciamis yang tak rela Banjar menjadi daerah otonomi baru.

Kota Administrasi Banjar (Kotif Banjar) kemajuannya berjalan lambat waktu itu. Perhatian Kabupaten Ciamis bila Banjar kembali ke kecamatan lagi itu lebih baik, Banjar dibikin Hirup Bosen Paeh Hoream (HIBOSPAHO). Tentu saja sebagian besar masyarakat Banjar menolak bila kembali ke tingkat Kecamatan, sebelumnya waktu menjadi Kotif dipecah menjadi 4 kacamatan, Kec. Banjar, Pataruman, Purwaharja, dan Langensari dengan wilayah desanya setiap kecamatan itu hanya 6 desa. Jadi Kecamatan eks Kotif Banjar, wilayah kecil dibanding kecamatan-kecamatan lain di Kabupaten Ciamis antara 12 desa sampai dengan 18 desa. Contohnya; Kec. Banjarsari, dan Kec. Cisaga.

Spontan sebagian besar warga Banjar memilih menjadi kota, dengan memanfaatkan Undang-Undang No. 22 tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah. Dinamika ini ditangkap oleh berbagai elemen masyarakat Banjar, maka dibentuklah FPSKB (Forum Peningkatan Status Kotif Banjar) Menuju Daerah Otonomi yang menggagas nama FPSKB datang dari Drs. H. Yusuf Sidik dan rekan-rekan, dan Yusuf Sidik menjadi salah satu anggota Presidium FPSKB.

Kamis dua pekan lalu antara pukul 20.00, Drs. H. Yusuf Sidik telah berpulang keharibaan-Nya, Inalilahiwainalilahiroziun, dikebumikan pada Jum’at pagi di Dusun Karangtengah, Desa Balokang Kec. Banjar di tanah kelahirannya. Meninggalkan seorang istri, dua putri yang sudah dewasa dan satu cucu, wafat dalam usia 60 tahun karena sakit.

Pada awal Januari 2013 Kota Banjar telah kehilangan salah seorang tokoh utama dan penggagas Banjar menjadi sebuah kota. FPSKB adalah motor penggerak menjadikan Banjar menjadi Daerah Otonomi, banyak kenangan-kenangan indah dalam memperjuangkan Banjar menjadi sebuah kota bersama Yusuf Sidik. Orangnya kritis dan cerdas gaya hidup bersahaja tangguh dalam prinsip.

Ada satu pengalaman yang tak akan saya lupakan bersama Yusuf Sidik dan rekan Presidum beserta beberapa orang anggota FPSKB di Hotel Wisata belakang Hotel Indonesia, Hotel Wisata kini tinggal kenangan sudah rata dengan tanah lokasi itu sekarang menjadi Grand Indonesia atau alun-alunnya Indonesia. Acara tersebut ada pertemuan dengan konsultan otonomi daerah dari Depdagri (Departemen Dalam Negeri) untuk mengklalifikasi laporan kondisi Banjar saat itu yang disampaikan oleh Pemkab Ciamis yang melaporkan tidak layaknya Banjar menjadi Daerah Otonomi. Salah satu kebobongan Pemkab Ciamis dalam sehari Banjar hanya menghasilkan satu kubik pasir dari Citanduy. Haaa…..haaa…haaa.

Tentu saja salah satu laporannya tak masuk akal menyebutkan juga Banjar daerah yang tidak produktif, jadi tak layak untuk dijadikan Daerah Otonom. Tentu saja menjadi pertanyaan tim konsultan dari Depdagri. Makanya tim konsultan Depdagri yang dipimpin DR. Avriani dari Universitas Indonesia mengundang Presidium dan anggota FPSKB dan Pemkab Ciamis untuk datang ke Jakarta untuk mengklalifikasi persoalan tersebut.

Pertemuan dilaksanakan di Hotel Wisata 27-29 Juni 2001, dan kami menginap di sana, begitu juga dari Pemkab Ciamis yang langsung dipimpin Bupati Ciamis Oma Sasmita. Ada cerita awal Banjar akan menjadi Daerah Otonom menjadi kota. Saat itu kira pukul 21.00 Bupati Oma datang ke lobi hotel Wisata kebetulan di lobi hotel ada H. Nana Rusmana anggota Presidum dan beberapa anggota FPSKB. Oma diajak H. Nana dan kawan-kawan FPSKB, duduk satu meja tak lama berselang Oma memanggil stafnya. H Nana memberi tahu kepada Yusuf Sidik dan saya sebagai anggota Presidium yang datang ke Jakarta.

Saya dan Yusuf Sidik berada di Café Hotel, sedang mendiskusikan strategi besok pagi dalam  acara klarifikasi dengan Tim Konsultan dari Depdagri. Untuk mematahkan laporan Pemkab Ciamis tentang kondisi Banjar saat itu. Yusuf Sidik memberitahu saya, H. Nana bersama Oma di lobi hotel kita harus ke sana, saya pun setuju dan saya bilang sama Yusuf Sidik. Pertemuan di lobi hotel kita harus bikin shock terapi sama Oma. Yusuf Sidik bertanya bagaimana membikin shock terapi -nya Kang begitu panggilan Yusuf Sidik sama saya.

Kita langsung saja protes sama Oma bahwa laporan Pemkab Ciamis ke Depdagri, bohong besar dan mengada-ada. Kita akan protes dan besok siang akan mengadakan jumpa pers dengan wartawan Jakarta, saya punya jalur untuk bisa mengumpulkan wartawan koran nasional bila Oma ngotot dan menggunakan kekuasaannya sebagai Bupati Ciamis. Saya pun meyakinkan Yusuf, ini bisa terjadi pertarungan sengit karena upaya-upaya Pemkab Ciamis akan menggagalkan Banjar menjadi Daerah Otonom.

Saya dan Yusuf bergabung satu meja dengan Oma, Oma menyebutkan jadi tidaknya Banjar jadi Daerah Otonom keputusan besok pagi. Saya mulai angkat bicara bila Pemkab Ciamis besok tidak mencabut laporan ke Depdagri, kita akan protes dan akan kita laporkan juga hambatan-hambatan Pemkab Ciamis di lapangan. Shock terapi itu didukung oleh kawan Presidium dan anggota FPSKB yang hadir. Begitu juga Yusuf Sidik membuat tekanan-tekanan kepada Oma, bahkan lebih gila lagi dia (Yusuf Sidik).

Padahal duduk saya dengan Yusuf Sidik bersebelah, strategi diatur lewat pesan singkat (SMS) agar tidak diketahui orang lain. Satu SMS yang berkesan di hati saya begini, “Kang, abdi nu ngumpan, akang nu nyemes jeung sabalikna Akang nu ngumpan abdi nu nyemes” . Saya pun membalas setuju, membalas SMS-nya Yusuf Sidik. “Cuf jieun situasi lobi iyeu jiga maen gapleh, seuseurian tapi silih paehan”. “Muhun siap kang,” balas Yusuf.

Lobi  Bupati Ciamis Oma Sasmita dengan Presidium dan anggota FPSKB berlangsung sampai pkl 1 pagi. Oma pun mengalah dan akan menyetujui Banjar jadi Daerah Otonom, tapi dengan syarat penentuan pembentukan SOPD (Satuan Organisasi Perangkat Daerah) Bupati yang menentukan dan kami dari Presidium FPSKB menyetujuinya. Berarti Bupati Ciamis mengakui De facto dan De Jure terbentuknya Kota Banjar.

Besoknya dalam acara pertemuan antara tim konsultan Depdagri, FPSKB, dan Pemda Ciamis. Ternyata dalam paparannya Pemkab Ciamis dalam pertemuan itu, Pemkab Ciamis  menggunakan laporan yang tak layak Banjar menjadi Daerah Otonom. Paparan belum selesai, H. Uding dari FPSKB saya suruh bicara untuk memprotes paparan itu, disusul protes keras oleh Yusuf Sidik dari hasil pertemuan tadi malam. Akhirnya rapat diskorsing 15 menit oleh ketua tim Konsultan Depdagri DR. Avriani. Saya temui Oma, “Bisa rame ieu mah,” kata saya bilang sama Oma.

Rapat dimulai dan Oma mengangkat tangan untuk bicara. Setelah skorsing, DR Avriani mempersilahkan Bupati Oma untuk berbicara. Oma pun berdiri dengan ucapan yang mengagetkan. “Ibu Avriani dan teman-teman dari Banjar, saya mensetujui Banjar menjadi Daerah Otonomi bahkan saya sebagai Bupati Ciamis akan memimpin langsung untuk mengantarkan Banjar jadi sebuah kota,” ujar Oma bicara dengan berapi-api dan hadirin bertepuk meriah. Semua peserta termasuk ibu Avriani menyalami Oma. Pertemuan berjalan singkat kurang dari satu jam.

Bergembira ria semuanya foto bareng dengan Oma menjadi bukti sejarah, dukungan dan persetujuan Pemkab Ciamis. Banjar akan segera berpisah dari Kabupaten Ciamis, menjadi Kota Banjar dan 21 Februari 2003 Banjar resmi jadi sebuah kota dengan Pelantikan Pejabat sementara Wali Kota oleh Menteri Dalam Negeri Hari Sabarno.

Meskipun Banjar sudah jadi kota, bahkan sudah Wali Kota definitif Herman Sutrisno,Yusuf Sidik masih galau juga. Seperti Yusuf Sidik bilang, “Kajeun teuing Banjar geus jadi kota ulah neupikeun jati kasilih ku junta (artinya; kahirupan pribumi eleh kusemah),”  Itu yang menjadi kegalauan Yusuf Sidik yang saya ingat betul juga teman di Presidium FPSKB lainnya.

Dalam kondisi sakit yang cukup lama, Yusuf Sidik menitipkan pesan kepada teman-teman yang menjenguknya dia menyampaikan “Titip Banjar”. Kini Yusuf Sidik telah berpulang kepangkuan-Nya  Yang Maha Esa dan meninggalkan kita semua. Tantang Kota Banjar ke depan semakin kompleks dan perlunya sinergitas duduk bersama antara Pemkot Banjar dan stakeholder. Agar kota ini lebih baik dan maju lagi ke depan.

Bila kebersamaan disia-siakan, kita semua berdosa. Kita mencintai kota ini, sahabat, saudara, adikku Yusuf Sidik. Kami semua mendoakan dikau Adikku, beristirahatlah dengan tenang di haribaan-Nya Allah Swt. (Bachtiar Hamara)

About author

Related articles

0 Comments

No Comments Yet!

You can be first to comment this post!