“Republik Mimpi di Negeri Pelangi”

10/01/2013 0 Comments

Menjelang awal tahun 2013 di Republik Mimpi, salah satu Kepala sekolah SD di Negeri Pelangi mempunyai ide baru yang akan menjadi salah satu program kegiatan sekolahnya. Pak Bakri sebagai kepala sekolah, pada hari pertama masuk sekolah setelah liburan “Harpitnas” (Hari Kejepit Nasional). Dalam acara penaikan bendera hari Senin, Pak Bakri berpidato. “Selamat pagi… Bapak-Ibu Guru, anak-anakku tercinta. Hari ini, SD kita semua saya canangkan ‘zona bebas sampah’. Dengar anak-anakku, jalan, gang, selokan, saluran air, dalam jarak 1 kilometer ke arah barat, timur, utara dan selatan akan kita jadikan kawasan kerja bakti sekolah”.

“Ingat ya, setiap Jum’at akan jadi zona bebas sampah. Zona bebas sampah adalah ruang ‘belajar untuk hidup’. Bayangkan kalau setiap sekolah dan lembaga mencanangkan zona bebas sampah. Insya Allah akan lahir zona bebas rokok, saya pun akan berhenti merokok,” tegas Pak Bakri, “Tidak mustahil pula akan bebas nyamuk, dan tikus. Kita harus sama-sama membuat sekolah sehat, lingkungan hijau. Sekian. Terimakasih,”  Pak Bakri menutup pidatonya.

Minggu pertama program zona sampah berjalan, Pak Bakri langsung meminta bantuan orang tua murid untuk ikut langsung memberi motivasi pada anak-anaknya. Pak Bakri menjadi pelopor menyingsikan lengan baju dan bermandi keringat. Para guru bersemangat mendukungnya. Kepala sekolah SD ini, diam-diam waktu muda fans berat KOES PLUS. Dia menyanyikan lagu “Bukan Lautan Tapi Kolam Susu” setiap Jum’at, setelah kerja bakti, murid-murid menyanyikannya di iringan gitar dan gendang dari ember plastik.

Jum’at demi Jum’at berlalu. Tahun berganti. Fajar harapan terbit. Perlahan warga di sekitar sekolah mendukung. Tulisan bebas sampah menghiasi kaus, gerbang, pintu sekolah, dan gerobak  pedagang kaki lima. Guru Bakri memperhatikan kebiasaan yang kelihatan kecil, Ibu Kesih pedagang jajanan di sekolah itu, misalnya ada orang yang membuang sampah sembarang di sekitar sekolah ibu Kesih memungutnya dan memasukan pada tong sampah. Senin, saat upacara bendera, ibu Kesih diundang sebagai tamu kehormatan, diumumkan sebagai penerima “Bakri Award” dan uang Rp.100.000.-

Bu Kesih tak terlintas dalam pikirannya, kebiasaan dia memungut sampah dan memasukannya ke tempat sampah di sekitar sekolah. Ternyata ia malah jadi pahlawan lingkungan, dan mendapat pujian dan tepuk sorak murid dan Bapak, ibu guru.

Andai sosok Bakri dan Kesih bukan di negeri Republik Mimpi, mereka berdua seperti pelita kecil yang menyalakan rasa peduli bagi ribuan orang di sekitar kawasan sekolah SD di Negeri Pelangi. Di tengah retorika iklan tentang tanggungjawab sosial koorporat atau slogan “go green”, suaranya hanya pekik kecil bagi lahirnya generasi hijau.

Orang seperti Bakri menjadi pahlawan dengan menciptakan pahlawan. Nilai hadiah uang tidak pada jumlahnya tapi pada pujiannya. Pujian adalah hadiah yang terekonomis dan menjadi penghargaan tertinggi kepada masyarakat seperti Ibu Kesih, yang suaranya tak terdengar di tengah gemuruh mesin polusi dan pandangan dunia konsumtif. Selamat Tahun baru 2013  Republik Mimpi di Negeri Pelangi. ***

About author

Related articles

0 Comments

No Comments Yet!

You can be first to comment this post!