Warga Berharap, Janji Relokasi Tidak Diundur Lagi

31/01/2013 0 Comments
Subaedi (78), korban tanah retak di RT 08/03, Ling. Cipadung, Kel/Kec. Purwaharja, Kota Banjar, menunjukkan dinding tembok rumahnya yang retak parah. Dia berharap rencana relokasi yang dijanjikan pemerintah saat ini adalah untuk terakhir kalinya. Foto : Eva Latifah/HR.

Subaedi (78), korban tanah retak di RT 08/03, Ling. Cipadung, Kel/Kec. Purwaharja, Kota Banjar, menunjukkan dinding tembok rumahnya yang retak parah. Dia berharap rencana relokasi yang dijanjikan pemerintah saat ini adalah untuk terakhir kalinya. Foto : Eva Latifah/HR.

Purwaharja, (harapanrakyat.com),- Warga yang menjadi korban tanah retak di RT 08/03, Ling­kung Cipadung, Kelu­ra­han/Kecamatan Purwaharja, Kota Banjar, berharap, untuk kali ini pemerintah tidak mengulur waktu lagi mengenai rencana relokasi yang sudah lama dijanjikan. Yakni terhitung sekitar 2 tahun sejak bencana longsor pertama terjadi pada Juni 2011 lalu.

Hal itu diungkapkan Subaedi (78), salah satu dari 15 KK yang menyatakan siap direlokasi ke sekitar komplek perumahan Cipadung dan Haurmukti.

Saat ditemui HR di rumahnya, Selasa (29/1), Subaedi mengatakan bahwa sebetulnya permintaan masyarakat tidak banyak, yang penting mereka ingin secepatnya ditangani oleh pemerintah.

“Bagi kami gimana baiknya saja selama tidak merugikan. Kalau memang mau dipindahkan, tolong secepatnya dilakukan, jangan hanya menggelar pertemuan dan pertemuan terus, nandatangan terus. Kemarin ada dari kecamatan dan kelurahan datang kesini. Mereka menjanjikan relokasi akan dilakukan tanggal 10 Februari nanti. Tapi tidak tahu itu, apakah jadi atau batal lagi. Mau dikontrakan dulu juga kami siap, yang penting cepat-cepat pindah dari sini,” katanya.

Subaedi menuturkan, setiap turun hujan, dia sekeluarga berteduh di bangunan warung miliknya yang ada persis di depan rumah. Terlebih jika hujan turun disertai angin kencang yang datang pada malam hari. Pasalnya, kondisi kerusakan bangunan rumah Subaedi paling parah, sehingga kalau tetap tinggal di dalam rumah takut roboh.

Akibat pergerakan tanah yang terjadi di lingkungannya membuat bagian dinding tembok terlihat mengalami keretakan cukup besar di setiap sudut rumahnya. Bahkan, satu ruangan yang digunakan sebagai kamar tidur sudah tidak bisa dipakai lagi.

“Masa pensiun waktunya menikmati kenyamanan, bukan malah dihantui keresahan dan ketidakpastian. Pemerintah harus tahu bahwa sejak bencana longsor terjadi, keselamatan warga di sini dipertaruhkan siang dan malam. Jadi tolong buktikan segera janji pemerintah itu, saya harap ini yang terakhir kalinya,” pungkas Subaidi, yang mengaku seorang pensiunan polisi. (Eva)

About author

Related articles

0 Comments

No Comments Yet!

You can be first to comment this post!

Leave a Reply