(Wawancara Sulyanati, SH, M.Si, M.Kn [Wakil Sekjen Sekretariat FPSKB (Forum Peningkatan Status Kotif Banjar Menuju Daerah Otonomi) “Menjelang 10 Tahun Kota Banjar Tantangan Semakin Komplek”

17/01/2013 0 Comments

Catatan Redaksi :

Sulyanati, SH, M.Si, M.Kn

Senin (14/1-2013) Koran Mingguan Harapan Rakyat, melayangkan surat untuk wawancara tertulis dengan pelaku sejarah perjuangan Banjar menjadi Daerah Otonom 10 tahun lalu. Kami mencoba melayangkan surat untuk wawancara tertulis dengan Sulyanati dengan panggilan kepada anak muda yang satu ini rekan-rekannya di sekretariat FPSKB menyebut namaya “Komeng”. Pimpinan Umum Koran HR, menugaskan Redaktur pelaksana Eva Latifah untuk menemuinya di kantornya KPU Kota Banjar, karena anak muda ini sekarang menjadi anggota KPU. Tapi Eva tak berhasil menemuinya karena sedang bertugas ke Bandung, karena wawancara ini sudah menjadi program HR, dipecahkan jalan keluarnya untuk mengirim SMS (Short Message Service) untuk berkomunikasi dengan Sulyanti. Dan wawancarapun dilaksanakan dengan jarak jauh lewat e-mail, dan inilah hasilnya.

Mulai edisi 307 koran HR nu Urang Banjar, Ciamis, jeung DOB Pangandaran, dari pertengahan Januari sampai dengan akhir Februari, akan menurunkan hasil wawancara dengan para pelaku yang ikut memperjuangkan terbentuknya Kota Banjar, yang punya peran strategis dalam kegiatan waktu itu. Sulit memang kami memilah-milahnya, karena banyak yang terlibat dari berbagai kalangan masyarakat. Bersatu untuk menjadikan sebuah kota (Banjar).

Dengan segala kerendahan hati Redaksi Koran HR, mohon maaf bila tidak bisa mengakses untuk diwawancarai. Namun begitu Redaksi Koran HR, membuka peluang kepada para pelaku yang tak tersentuh oleh kami. Karena perjalanan 10 tahun lalu, cukup sulit mengingat secara keseluruhan, tapi jalan masih terbuka yang mempunyai pengalaman dalam keterlibatan saat itu bisa mengirimkan pengalamannya lewat e-mail : harapanrakyat_news@yahoo.com, atau online www.harapanrakyat.com. Selamat membaca.

***

HR: Bagaimana pengalaman anda 10 tahun yang lalu waktu terlibat menjadikan Banjar sebuah Kota. Dalam hal ini pelakunya memang banyak, tapi setiap orang pasti punya pengalaman berbeda-beda. Bisa anda ceritakan!

Sulyanati : Perjalanan waktu bukanlah seperti putaran roda (cyrcle) namun laksana garis kontinum yang senantiasa makin menjauh. Oleh karenanya memutar proses dan situasi-kondisi 10 tahun yang lalu dengan potret hari ini terkadang ada rasa kecewa. Karena semuanya sangat berbeda.

Bagi saya ini penting agar kita siapapun yang menjadi pelaku perjalanan pembentukan Kota Banjar saat itu tidak terjebak kedalam romantisme tanpa mampu berbuat banyak setelah Banjar terbentuk yang justru tantangan dan permasalahnnya semakin kompleks.

Sekedar memutar balik perjalanan 10 tahun yang lalu juga penting sebagai prinsip dasar membangun Banjar, bahwa tidak ada hari ini tanpa hari kemarin dan tiada hari esok tanpa hari ini. Ini penting untuk dipahami segenap pelaku pembangunan Kota Banjar terutama jajaran Birokrasi agar tidak kehilangan pijakan historis perjalanan pembentukan Kota Banjar dengan berbagai romantikanya.

Salah satu hal yang saya lihat pada fase awal pembentukan Kota Banjar saat itu yang juga sebagai modal dasar adalah “kebersamaan”…  ada common interest (kepentingan yang sama), commons sense (sudut pandang dan sensitifitas yang sama), ada kehendak bersama bahwa Banjar harus menjadi Pemerintahan Kota. Tidak mudah menyatukan beragam latar belakang orang dari mulai; tokoh masyarakat, politisi, ulama, pengusaha, tokoh pemuda dan elemen masyarakat lain. Selain latar belakang, kepentingannyapun jelas berbeda. Akan tetapi semuanya bisa dilalui…. Bisa disatukan “unity diversity”. (bersatu dalam keragaman). Berbeda dengan saat ini…..semuanya sangat individualis.

HR: Pada tahun 2007 anda menulis buku Abu-abu Kota Banjar. Apa yang dimaksud Abu-abu itu?

Sulyanati : Istilah tersebut sekedar mengapresiasi dan upaya mengantisipasi perbedaan yang mungkin tidak suka, tidak mendukung, tidak sepakat dengan kehadiran buku tersebut. Tapi memang secara pribadi spiritnya mengingatkan semua pihak agar paham mulai dari siapa pelaku yang sebenarnya serta berbagai peristiwa secuil perjalanan pembentukan Kota Banjar yang dapat dicatatkan, meskipun sangat banyak yang tidak/ belum tercatatkan, oleh karenanya buku tersebut bertitel “catatan perjalanan pembentukan Kota Banjar”. Secara pribadi sangat berharap buku tersebut menjadi pemantik teman-teman yang lain untuk mau menuliskan lebih lengakap lagi. Istilahnya menyempurnakan buku tersebut. Namun hingga kini ternyata belum ada…. Heran juga kenapa! terutama pemerintahan yang kelihatannya tidak tertarik sedikitpun membuat buku tersebut. Terutama disaat beberapa tokoh saksi hidup beberapa sudah wafat seperti; H. Ali Darman, H. Uding, Encang R terakhir kemarin H.Yusuf Siddiq. Mudah-mudahan ke depan ada yang meneruskan buku tersebut, merevisi, melengkapi atau membuat baru sama sekali yang lebih lengkap.

HR: Bagaimana anda melihat perkembangan Kota Banjar sekarang?

Sulyanati : Kota Banjar saat ini sebagai Kota “pangais bungsu” di Jawa barat sudah bisa disejajarkan dengan pemerintahan daerah lain. Malahan dari beberapa indikator bisa melampaui standar pemerintahan yang sudah mapan sebelumnya. Dari berbagai prestasi (dari mulai infrastruktur hingga pelayanan publik). Pemerintahan di bawah kepemimpinan Dr. Herman secara obyektif harus diakui cukup prestisius. Ada yang menanggapi karena skala wilayah yang kecil, namun saya kurang sependapat karena banyak daerah yang memiliki potensi besar lain  misal dari sisi anggaran (PAD) tapi tidak mampu berakselerasi cepat. Menurut saya leadership memberi pengaruh signifikan terhadap perkembangan Kota. Akselerasi Walikota saat ini harus diakui mampu melangkah membawa Banjar jauh ke depan.

HR : Di mata anda, apa kelebihannya Kota Banjar sekarang? Berikut kekurangannya apa? Tipe seperti apa pada periode ke-3 ini yang layak mempimpin Kota Banjar?

Sulyanati : Kelebihan Kota Banjar dapat dilihat dari perkembangannya hingga saat ini, namun pada saat yang lain saya lihat beberapa pihak menjadi galau. Termasuk saya pribadi. Kenapa? karena, Banjar saat ini berkembang pesat karena faktor dominasi kepemimpinan. Leadership yang terlalu kuat sehingga semuanya terkesan sentralisasi. Bagaimana ke depan setelah kepemimpinan beliau selesai menjadi salah satu pekerjaan berat, terutama inside effect yang cenderung negatif. Karena faktor kepemimpinan yang terlampau kuat dan dominan dalam kebijakan. Pengambil kebijakan di birokrasi menjadi tidak confidence…(gamang-tidak percaya diri). Dalam banyak hal Walikota masih menjadi pemutus kebijakan yang padahal seharusnya selesai di tataran middle. Ini diantaranya terjadi karena faktor kapasitas dan SDM serta latar belakang birokrat yang tidak menguasai bidangnya. Ini kekurangan Kota Banjar saat ini selain faktor lain yang bersifat klasik seperti pengangguran-lapangan kerja dan sebagainya.

Berbagai akumulasi permasalahan Banjar ke depan tersebut Banjar harus dijawab oleh sosok pemimpin yang paham kondisi internal pemerintahan. Problematika dan solusi Banjar ke depan lebih ringan terpecahkan secara perlahan apabila salah satu dari pengganti Walikota adalah figur yang pernah atau sedang berada di dalam sistem pemerintahan saat ini. Siapapun dan apapun formasinya baik itu Walikota maupun wakilnya. Sosok tersebut ideal didampingi atau mendampingi siapapun berlatar belakang pengusaha/entrepreneur. Meskipun akhirnya biarkan partai partai menentukan akan tetapi akhirnya biarkan juga masyarakat memilih. Tugas kita tentu saja meng-edukasi… memberi pemahaman kepada pemilih terhadap sosok tersebut agar pemilih menjadi rasional. ***

About author

Related articles

0 Comments

No Comments Yet!

You can be first to comment this post!

Leave a Reply