(10 Tahun Kota Banjar) Tidur di Mesjid Cuci Muka Dengan Air Mineral

07/02/2013 0 Comments

[Wawancara : Ir. Soedrajat Mantan Sekretaris FPSKB (Forum Peningkatan Status Kotif Banjar) Menuju Daerah Otonomi]

Catatan Redaksi :

Ir. Soedrajat

Ir. Soedrajat

Koran Mingguan Umum Harapan Rakyat, menugaskan Redaktur Pelaksana Eva Latifah, untuk mewawancarai mantan sekretaris FPSKB (Forum Peningkatan Status Kotif Banjar) menuju daerah otonomi Ir. Soedrajat dengan nama tenar “Si Doglo” seorang penggiat Event Organizer di Banjar. Setelah Banjar menjadi kota si Doglo menjadi anggota DPRD (Dewan Perwakilan Rakyat Daerah) Kota Banjar dari fraksi Partai Golkar. Ikuti penuturan sewaktu memperjuangkan Kotif Banjar menuju otonomi daerah, cita-citanya ingin mempermudah pelayanan masyarakat dan memutus pisah dari Kab. Ciamis.

Tapi setelah Banjar menjadi kota, hambatan perizinan kegiatan event organizer, ada oknum-oknum birokrat perizinan masih mempersulit pada pelayanan publik. Kenapa yaaa? Selamat membaca.

***

HR : Anda salah satu tokoh Forum Peningkatan Status Kotif Banjar (FPSKB) dalam memperjuangkan Kotif Banjar menjadi otonomi daerah, pasti tersimpan banyak kenangan masa itu. Bisa anda ceritakan!

Ir. Soedrajat : Awal mula keterlibatan saya di forum ini, awalnya saya didatangi oleh saudara Sulyanati atau Komeng dengan saudara Yogi Indriadi, mengajak kepada saya. Waktu itu saya sebagai Event Organizer yang sering mengadakan kegiatan otomotif, sekitar pertengahan tahun 2001, sehingga saya tertarik juga untuk bergabung karena diawali aktifitas saya sendiri setiap mengadakan event itu saya harus menempuh proses perijinan ke Ciamis, segala sesuatunya Ciamis yang menentukan. Ketika melihat ada sebuah peluang, dan peluang itu tidak keluar dari koridor Undang-Undang, malah seolah-olah Undang-Undang yang mengarahkan kita bahwa Banjar harus berpisah dari Kabupaten Ciamis, akhirnya saya gabung.

Tentunya banyak suka duka manakala bergabung di Forum Peningkatan Status Kotif Banjar, terutama menyangkut kapasitas saya sebagai sekretaris forum, dimana banyak melibatkan kalangan anak-anak muda yang waktu itu hanya sekitar lima atau enam orang yang terlibat. Tetapi kita punya pemikiran bahwa pemuda Banjar itu tidak hanya enam orang ini. Akhirnya kita mencoba membuka sebuah pemikiran, pemahaman bahwa kita harus menambah jumlah pemudanya, sehingga kami waktu itu banyak mencari rekan-rekan yang memang aktif, mau peduli, dan akhirnya ya kurang lebih sekitar tiga puluh limaan pemuda yang tergabung di sekretariat.

Memang awalnya sebelum sekretariat berdiri, segala sesuatu banyak digerakan oleh kalangan tokoh-tokoh tua yang tergabung di forum tersebut. Setelah ada sekretariat pergerakan kita lebih teratur, terencana dalam mensosialisasikan Banjar menjadi Kota.

Adapun hal-hal yang mungkin menjadi kenangan pada waktu itu buat saya adalah ketika mempersatukan elit-elit Banjar, baik itu kalangan muda, kalangan tuanya, tokoh agama, tokoh politik, pegawai negeri, tokoh masyarakat, kemudian pedagangnya, dan segala unsur yang tergabung di forum tersebut. Dengan latar belakang berbeda tetapi mempunyai satu tekad dan tujuan untuk memisahkan Banjar dari Ciamis.

Nah, ketika sekretariat dibangun, dengan semangat muda mereka istilahnya tanpa mengambil resiko ya..mereka bergerak cepat menyusun berbagai rencana, dari mulai pressure seperti apa ke provinsi, ke Jakarta, ke Depdagri, ke DPRD dan sebagainya. Termasuk yang menjadi kenangan buat saya adalah di akhir 2001 kami dengan susah payah waktu itu berhasil menyatukan tekad dan mempersatukan seluruh komponen yang ada di forum, tempatnya waktu itu di rumah makan Rawa Onom. Atas bantuan pemiliknya almarhum Haji Unang, kita ingat betul waktu itu seorang dr. Herman yang lagi pengajian di rumahnya dr. Hamid di Jalan Baru, seolah-olah kita culik beliau dari rumahnya dr. Hamid. Kita paksa supaya ikut ke pertemuan forum tersebut. Kemudian juga Pak Kyai Muhtadin kita jemput, bahkan satu persatu dari beberapa presidium forum itu sendiri kita harus datangi.

Jadi kalau kita kaitkan dengan eranya jaman Bung Karno diculik para pemuda dari Rengasdengklok, ya hampir-hampir seperti itu lah. Karena ya tahu sendiri, orang tua kita di forum, presidiumnya dengan latar belakang berbeda, karakter berbeda, kepentingan berbeda, untuk menyatukan itu susah, apalagi dalam satu pertemuan, terlepas mereka banyak kepentingan, atau kerikuhan lah orang tua kita waktu itu.

Nah..akhirnya bisa kita persatukan, pertemukan, disaksikan seluruh anggota forum. Kita waktu itu hanya satu opsinya, apakah mau tahun 2002 Banjar itu jadi, atau menunggu setelah Pemilu 2004? Karena kalau 2003 itu sudah ditarik ke proses Pemilu 2004. Kenapa sekretariat meminta ada opsi itu?, karena kalau memang mau tahun 2002 Banjar jadi, ya kita mau bergerak semaksimal mungkin. Tapi kalau mau nunggu setelah Pemilu, ngapain kita kerja keras diawal, gitu maksudnya. Makanya disatukan, dipertemukan supaya ada sebuah kebulatan tekad bahwa Banjar harus jadi tahun 2002.

Dari situ begitu awal 2002 kita menyusun berbagai program, dalam satu bulan kita dua kali mengadakan kunjungan ke Jakarta, ke provinsi, juga sosialisasi ke tiap desa, kampung, tentunya terprogram. Hampir di setiap kegiatan baik itu peringatan HUT RI, Muludan, Rajaban dan hal lain yang melibatkan khalayak banyak kita coba melakukan sosialisasi tentang Banjar harus menjadi Kota.

Terlepas ada pro dan kontra, ya itu sebuah dinamika. Tentu kita juga tahu ada kelompok yang menolak Banjar menjadi Kota, kita biarkan dinamika itu. Bahkan saya yang langsung kena secara pribadi yaitu cemoohan dari tokoh politik yang sekarang duduk di Pemerintahan Kota Banjar, itu sampai mencemooh kalau Banjar bisa jadi Kota, iris sendiri telinga saya, omongan semacam itu ada, dan orangnya sekarang justru eksis di Pemerintahan Kota Banjar. Namun itu sebuah motivasi buat kami untuk membuktikan.

Kenangan lainnya saat kita dengan dana pas-pasan bisa berangkat ke sana. Mobil juga kadang-kadang pinjam punya kotif, walaupun terkadang harus tarik ulur dengan Pak Dahlan Walikotatif, Plh ya pada waktu itu. Atau pinjam punya Pak Asep Barkah yang carry itu, kita bertumpuk berenam semua pergi ke Jakarta, terjebak banjir di sana, tidur di Mesjid Istiqlal, kemudian Mesjid Tien, atau di Mesjid DPR RI, itu tempat nginep kita, cuci muka juga pakai air aqua langsung berangkat. Terkadang kita nunggu di depan rumah Pak Chozin Chumaedi anggota DPR RI dari PPP, tidur di mobil, begitu setelah sholat subuh dia keluar baru kita serbu masuk. Pada intinya kami forum mengucapkan terima kasih kepada Pak Agun Gunandjar Sudarsa, Pak Chozin Chumaedi, Pak Eka Santosa, serta para pejabat di Depdagri.

HR : Anda salah satu penggerak utama dalam menjadikan Kotif Banjar menjadi otonomi daerah. Saat itu anda dan kawan-kawan di Sekretariat FPSKB bisa berangkat ke Bandung dan Jakarta, ongkosnya dari mana? Bisa anda ceritakan!

Ir. Soedrajat : Pembiayaan untuk berangkat ke provinsi, ke Jakarta, dananya itu sampai sum-suman. Tidak banyak ko kita berangkat, paling banyak bawa bekal cuma lima ratus ribu rupiah. Uang sebesar itu untuk bekal sekitar delapan atau sembilan orang. Pernah kita cuma bawa dua ratus lima puluh ribu atau tiga ratus ribu. Karena yang nyumbang juga gak banyak, paling lima puluh ribu, ada yang seratus ribu, paling besar dr. Herman seorang direktur rumah sakit waktu itu nyumbang tiga ratus ribu. Tapi karena kita punya tekad jadi tetap berangkat.

HR : Apa mimpi anda setelah Banjar menjadi Kota?

Ir. Soedrajat : Mimpi saya sebetulnya bukan mimpi ya…ketika dibarengi sebuah fakta yang realistis. Hal yang termudah diawali dari membuat sebuah perijinan untuk kegiatan, saya harus bolak-balik ke Ciamis.

Harapan saya juga sederhana saja, manakala masyarakat Banjar ingin berbuat sesuatu untuk kotanya, dia mendapatinya ya di kotanya sendiri, gak usah harus pergi jauh-jauh ke Ciamis. Jadi pelayanan yang saya lebih tekankan. Dengan pelayanan ini proses pembangunan, proses kegiatan, proses hal-hal lain juga bisa lebih cepat. Makanya saya tekankan bahwa inilah sebetulnya motivasi dasar Banjar misah dari Ciamis adalah mempermudah pelayanan kepada masyarakat.

Saya sangat geram kalau misalkan sesudah Banjar lepas dari Ciamis tapi justru  pelayanan malah mempersulit. Dan itu saya alami juga, walaupun sekarang saya duduk di legislatif, untuk proses sebuah perijinan itu ya berbelit-belit, masih ada hal-hal seperti itu. Berarti, dalam kapasitas ini memang belum sepenuhnya keinginan masyarakat Banjar untuk  mendapatkan pelayanan bisa terpuaskan, masih ada oknum-oknum yang mencoba bermain, memanfaatkan kebutuhan masyarakat itu sendiri.

Kalau hal lainnya saya kira Banjar bisa maju, Banjar bisa mengatur dirinya sendiri, Banjar ingin seperti daerah lain, bisa hidup, suasana anak mudanya bisa dinamis, bisa terasuh lewat kegiatan-kegiatan positif tentunya. Banjar bisa menentukan sendiri, melayani kebutuhan sendiri, masyarakat dan anak muda Banjar bisa berkiprah sesuai potensi yang dimilikinya.

HR : Apa kelebihan dan kekurangannya setelah Kota Banjar berjalan 10 tahun?

Ir. Soedrajat : Saya kira mengenai kelebihannya ya itu lah Banjar punya pemerintahan sendiri. Kemudian secara infrastruktur sudah bagus. Saya lihat kalau dibanding dengan jamannya Ciamis dulu, ya mungkin lima kali lipat lah, sangat jauh berbeda. Dari sisi kebutuhan masyarakat juga sudah mulai sedikit-sedikit terpenuhi, dari segi pendidikan, kesehatan. Jadi intinya Banjar nu aing, diatur ku aing.

Sebuah proses pembangunan tidak terlepas kelebihan dan kekurangan. Kekurangannya saya kira ini ada yang sedikit miss dari rencana Banjar terpisah dari Ciamis. Dalam artian miis itu, kalau dulu yang kita dengung-dengungkan Banjar sebagai kota jasa, transit dan perdagangan. Tapi kenapa sekarang malah beralih jadi kota agropolitan. Yang saya tahu namanya sebuah visi misi itu kita harus paham karakteristik sebuah daerahnya seperti apa, letak geografisnya bagaimana, kultur budayanya bagaimana. Kalau Banjar agropolitan secara geografis tidak mendukung. Banjar lebih tepat kota persimpangan. Kemudian melihat budaya masyarakat Banjar sendiri mayoritasnya bukan petani, mereka lebih terfokus ke jasa, pedagangan, walaupun memang tidak kita pungkiri banyak pula yang bertani atau buruh tani.

Tapi apakah memang sudah cocok untuk sebuah visi misi agropolitan? Dari sisi sosial budaya, Banjar lebih cenderung ke jasa. Jadi saya kira ini harus dikaji ulang lah. karena sampai sekarang tidak ada dari pemerintah kota ini sebuah grand desains, sebuah koordinasi yang baik dari semua OPD, atau dinas instansi yang memang punya fokus untuk membuat sistem agrobisnis yang baik di Banjar.

Misalkan untuk industri perdagangan, dibentuklah sentra-sentra industri perdagangan. Dari infrastrukturnya diharapkan fasilitas akses jalan, akses pengairan, dan sebagainya, guna menunjang sebuah agropolitan. Untuk pertanian sendiri, mungkin apa yang cocok di Kota Banjar dengan kondisi cuaca dan letak geografis seperti ini. Itu kan harus berkesinambungan dan harus secara terintegralkan dengan OPD-OPD lain.

Nah itu yang harus dipahami. Apakah cocok dengan kultur budaya, letak geografis, sosio masyarakatnya juga. Saya lihat kekurang pekaan dalam melihat Banjar itu sendiri sehingga adanya pergeseran visi misi. Sok lah Banjar teh nu sarerea, bukan milik salah satu kelompok, pikiran ku sarerea rek dibawa kamana ieu teh? kawas baheula sarerea mikiran kumaha sangkan Banjar jadi kota.

HR : Menurut anda, apa yang paling berkesan dalam memperjuangkan Kotif Banjar sampai berhasil jadi sebuah kota?

Ir. Soedrajat : Yang paling berkesan, saya senang sekali ketika melihat tokoh Banjar, teu kolot, teu budak di FPSKB kompak memperjuangkan Kotif Banjar menjadi Kota. Kapan suasana seperti itu ada lagi? Dengan kultur budaya masyarakat yang beraneka ragam, dengan berbagai kepentingan masing-masing orang, latar belakang pendidikan berbeda, tapi untuk satu tujuan Banjar menjadi Kota kita bisa bersatu. Sekarang tidak gampang mengumpulkan kembali orang-orang tersebut.

HR : Apakah FPSKB perlu bangkit lagi di episode II setelah Banjar 10 tahun. Bila perlu bangkit lagi kenapa, dan bila tidak perlu juga kenapa?

Ir. Soedrajat : Saya kira kalau pun tidak perlu bangkit secara lembaga, saya yakin orang-orang yang dulu di forum mereka punya suatu konsep yang baik bagaimana caranya Banjar bisa maju, bisa berkembang, walaupun tidak melalui lembaga tadi. Meskipun sifatnya person ya, tetap lah mereka akan eksis, sebab hati nurani tidak dapat dibohongi. Karena terus terang saja kalau FPSKB ini bersatu, ini alangkah bagusnya Banjar, gitu kan. Tetapi mungkin kalau dilihat dari kacamata politik ini sebuah ancaman buat mereka, lantaran orang dari berbagai macam karakter, berbagai macam basic bersatu ikut mengawal, ikut berpengaruh, nah ini kepentingan politik yang akan terganggu. Walaupun mungkin masyarakat akan terwakilkan justru lebih terakomodir di situ.

Kemajemukan masyarakat yang ada di Kota Banjar ini terwakilkan di FPSKB daripada di dewan itu sendiri. Sehingga keberadaannya pun kadang-kadang oke, kadang-kadang ada saja yang tidak menghendaki. Padahal disatu sisi mereka ini rindu untuk berkumpul, rindu untuk bersua, saling melontarkan pendapat, saling berkomunikasi, bercanda dan sebagainya.

HR : 10 tahun Kota Banjar berbarengan dengan habisnya dua periode Walikota Dr. H. Herman Sutrisno. Menurut anda, sosok Walikota Banjar yang bagaimana profil pengganti Dr. H. Herman Sutrisno?

Ir. Soedrajat : Bicara sosok walikota pengganti nanti, mungkin saya dari kacamata obyektif saja. Pertama harus memahami sosiologis kenapa waktu itu Banjar ingin misah dari Ciamis, bahwa intinya pelayanan yang harus ditingkatkan, keduanya orang Banjar bisa ngatur diri sendiri, masyarakatnya juga bisa satu persepsi untuk memajukan kota.

Nah, itu berarti harus yang betul-betul walikotanya memahami tujuan awal Banjar menjadi kota. Kemudian, bisa masuk dan mengetahui apa sih yang dibutuhkan orang Banjar itu sebenarnya. Itu saja konsep yang sederhananya. Sehingga ketika dia bekerja, dia membangun, dia mendapat support dari seluruh masyarakat, toh ini semua akan kembali ke mereka juga. Saya yakin itu akan mendapat dukungan yang bagus. Jadi tidak hanya sebuah retorika lah, dan jangan terlalu banyak mimpi yang muluk-muluk, yang sederhana-sederhana saja.

HR : Setujukah anda, menurut beberapa kalangan bahwa saat ini Kota Banjar mengalami krisis kepemimpinan. Dan pendapat anda sendiri bagaimana?

Ir. Soedrajat : Saya tidak setuju dengan pendapat seperti itu. Kalau krisis keberanian iya. Krisis keberanian begini maksudnya, pemimpin kan banyak di Banjar, ada kepala ini..ketua itu.. pimpinan anu.. pimpinan ini… Itu kan pemimpin, jadi enggak krisis kan? Tapi masalahnya berani enggak mereka untuk tampil mimpin Banjar?

Nah ini krisis keberanian yang ada di Banjar sekarang. Apalagi dominasi seorang dr. Herman dengan Partai Golkarnya begitu dominan, sehingga kalau saya lihat mereka itu pada nunggu. Entah nunggu dipanggil, entah nunggu ini jatuh, atau entah nunggu bintang dari langit, istilahnya nunggu dibakian lah ya… Yang jelas mereka gak berani untuk bisa fight, bisa tampil duluan. Namun berani disini bukan berarti kawani, tapi dalam artian semuanya sudah lengkap dari segi wawasan, prestasi, kinerja, dari sisi dukungan juga. Termasuk mungkin sebelum memimpin orang lain introspeksi dulu diri sendiri. Berani gak dia introspeksi diri sendiri.  ***

About author

Related articles

0 Comments

No Comments Yet!

You can be first to comment this post!

Leave a Reply