Mendamba Lahirnya Kepemimpinan “Budak Angon” Pada Pilgub Jabar

15/02/2013 0 Comments
Dani Daniel Mukhlis

Dani Danial Mukhlis

Oleh: DANI DANIAL MUHKLIS

”Nu garelut laju rareureuh; laju kakara arengeuh; kabéh gé taya nu meunang bagian. Sabab warisan sakabéh béak, béakna ku nu nyarekel gadéan. Buta-buta laju nyarusup, nu garelut jadi kareueung, sarieuneun ditempuhkeun leungitna nagara. Laju naréangan budak angon, nu saungna di birit leuwi nu pantona batu satangtung, nu dihateupan ku handeuleum ditihangan ku hanjuang.

(Uga Wangsit Siliwangi)

Uga wangsit Prabu Siliwangi di atas sebenarnya mengandung makna optimisme kebangsaan, di mana di tengah-tengah carut-marutnya kondisi bangsa saat ini. Kita masih memiliki harapan ke depan akan lahir pemimpin yang mampu memberikan ketercerahan sosial, kemajuan yang pada giliranya mampu membawa Indonesia secara umum dan Jawa Barat secara khusus sebagai bangsa dan daerah yang digjaya, gemah,ripah, repeh rapih loh jinawi.Amin.

Sebagai konsekuensi dari pada Negara yang menganut system demokrasi, pemilihan umum merupakan keniscayaan politik bagi masyarakat Indonesia. Sehingga pemilu menjadi satu-satunya system yang dapat mengahantarkan masyarakatnya mendapatkan  pemimpin, dari mulai Presiden sebagai pemimpin tertinggi Negara sampai Kepala Desa sebagai pemimpin paling bawah pada masyarakat kita. Karena pemilu menjadi satu-satunya mekanisme yang diatur secara undang-undang untk menghasilkan pemimpin pada setiap 5 tahunannya, maka sudah selayaknya setiap warga negara (peserta pemilih) tanpa terkecuali untuk sadar akan betapa pentingnya keterlibatan masing-masing dalam keseluruhan proses pemilu terelebih keterlibatannya dalam menentukan pilihan, karena pilihan yang mereka tentukan mempertaruhkan keberlangsungan kehidupan mereka selama lima tahun ke depan.

Beberapa waktu yang lalu, Pemilukada  DKI Jakarta penulis anggap sebagai pemilukada yang sukses, dan tidak hanya sukses tapi penulis juga menilai pemilukada DKI Jakarta sebagai pemilu yang bertanggungjawab serta mampu menjaga marwah politik rakyatnya, paling tidak bisa dilihat dari dua indikator; pertama aspek kelancaran dan ketertiban pelaksanaan pemilu yang salah satu kuncinya adalah sikap kenegarawanaan masing-masing Kandidat, sedangkan indicator kedua adalah kemenangan Jokowi yang dianggap mampu merepresentasikan keinginan, kebutuhan dan kegelisan masyarakat Jakarta sehingga kemenangan Jokowi menjadi demikian fenomenal bahkan hampir mendekatai apa yang disebut The autehentic leader (pemimpin yang benar-benar lahir atas kehendak rakyatnya).

Lalu bagaimana dengan Jawa Barat yang dalam waktu dekat ini akan menyelenggarakan pesta demokrasi?.Seperti halnya yang terjadi di pemilukada Jakarta, di Jawa Barat juga selayaknya terwujud pemilukada yang bertanggungjawab dan mampu menjaga marwah politik masyarakatnya, tentu saja sangat tergantung pada seperti apa sikap, tanggungjawab dan mentalitas politik masyarakat Jawa Barat dalam memilih pemimpinnya ke depan.

Ada dua teori kepemimpinan yang setidaknya bisa dijadikan alat ukur terhadap bagaimana sikap masyarakat kita dalam memaknai pilkada Jawa Barat;1. Teori The Great Man, teori ini mengatakan bahwa pemimpin itu “dilahirkan”, dan kata kunci pada teori pertama ini adalah The Leader are Born.  2. Teori The Big Bang teori ini mengatakan bahwa pemimpin itu “dijadikan”, dan kata kunci dari teori kedua ini adalah The Leader are made. Kedua teori tersebut sejatinya bisa menjadi gambaran terhadap sikap/mental politik mereka dalam pemilukada, apakah mereka akan menjadi masyarakat yang mampu “melahirkan” pemimpinnya atau sekedar “menjadikan” pemimpin?.

Terminologi “melahirkan” dan “menjadikan” tentu saja memiliki makna yang sangat berbeda, terminology “menjadikan” pemimpin cenderung hanya bersifat politik praksis dan cenderung mengabaikan aspek-aspek kualitas  dari calon pemimpin yang akan dipilihnya, jenis masyarakat yang memiliki sikap sperti ini adalah gambaran masyarakat yang tidak bertanggungjawab, pemilih irasional, ikut-ikutan atau bahkan masyarakat yang menganut pragmatisme politik/pilitik-tansaksional. Sedangkan terminologi “melahirkan” kepemimpinan, ini memiliki arti keterlibatan masyarkat bukan hanya dalam ranah politik-praktis yang hanya sekedar menjadikan pemimpin.

Akan tetapi keterlibatan mereka lebih pada rumusan formulasi bagaimana kepemimpinan ideal itu lahir, kata “lahir” tentu saja tidak instan, akan tetapi berproses sepertihalnya seorang ibu yang mengandung kemudian melahirkan dan sikap masyarakat yang demikian itu menggambarkan sikap politik masyarakat yang bertanggungjawab, cerdas, idealis dan rasional. Maka seperti itulah sejatinya sikap berpolitik masyarakat Jawa Barat mengahadapi Pilkada nanti, karena dengan sendirinya ketika sikap politik seperti itu yang muncul maka itu berarti masyarakat Jawa Barat adalah masyarakat yang memiliki sikap politik yang bertanggungjawab, cerdas dan mampu menjaga marwah Daerahnya.

Berbicara tentang kualifikasi kepemimpinan (Cagub dan Cawagub) Jawa Barat yang ada, penulis belum bisa menilai mana di antara mereka yang lebih kualified. Kualifikasi yang dimaksud misalnya, bagaiamana Visi-Missi yang dirumuskannya bersifat massurable (terukur), solutif dan konstruktif dalam menjawab persoalan-persoalan ke Jawa Baratan, dan yang lebih penting lagi penulis belum tau tentang sejauhmana komitmen mereka (para calon) untuk benar-benar membangun Jawa Barat, dan komitmennya terhadap janji-janji politik yang dilakukan.

Penulis secara pribadi bahkan berharap Pemilukada Jawa Barat nanti benar-benar mampu melahirkan kepemimpinan “ Budak Angon” sebagaiamana tercantum dalam Uga Wangsit Prabu Siliwangi di atas. Seperti apakah kualifikasi Kepemimpinan “ Budak Angon” sebagaimana dimaksud dalam Uga Wangsit Siliwangi tersebut?. Penulis mencoba menafsirkan kepemimpinan “Budak Angon” tersebut dalam 5 Rumusan Kriterium kepemimpinan sebagai berikut: Pamingpin mah ngarana; Budak Angon Urang Kampung bau lisung, Imahna Batu satangtung, Cicingna di cai saleuwi, di hateupan ku Handeuleum, ditiungan kuhanjuang.

Pertama, Budaka Angon; adalah simbol dari seorang pemimpin yang mampu mengelola, mengarahkan dan menjaga masyarakatnya. Sehingga pemimpin yang baik adalah pemimpin yang mampu belajar banyak dari simbolisasi Budak Angon, bagaimana mereka mampu menjaga gembalaannya dengan baik, mampu mengarahkan untuk tidak memakan tanaman orang lain, menjaganya di saat gembalaanya merasa terancam, memberi makan di saat mereka lapar, memberi minum disaat kehausan dan memberikanya kandang untuk berteduh-istirahat sekaligus menjamin kesalamatan dan keamanan dari segala mala bahaya, atau dalam tafsir lainnya Kang Mandalajati Niskala menyampaiakan; Budak Angon, ngangona lain domba lain banteng lain maung, tapi ngangon kalakay jeung tutunggulan (Menggembalanya bukan menggembala kambing, banteng atau harimau, tapi menggembala dedaun kering dan tunggul). Kalakay dan tutunggulan ini adalah siloka (perumpamaan), bahwa pemimpin yang baik adalah pemimpin yang senantiasa memperhatikan wong cilik (keberpihakan kepada kaum Msutadl’afiin) serta memegang teguh aturan.

Kedua, Imahna Batu Satangtung (Rumahnya Batu yang sepadan dengan tubuhnya) ini adalah simbol, bahwa pemimpin yang baik adalah pemimpin yang kuat; kuat secara mental, moral dan intelektual, tegas, mampu menjadi pelopor dalam berbagai bidang serta memiliki tauladan kepemimpinan yang kuat. Sehingga dengan kekuatan yang dimilikinya, seorang pemimpin mampu mengendalikan, mengarahkan masyarakat dengan seluruh sistem kehidupannya ke arah yang lebih baik.

Ketiga, Cicingna dicai saleuwi ( diamnya di dalam sungai ) ini adalah symbol, bahwa pemimpin yang baik adalah pemimpin yang cinta terhadap lingkungan, mampu menganalisis Sumber Daya Alam (SDA) daerahnya untuk kemudian dikelola sehingga menjadi sendi-sendi kekuatan pembangunan. Pemimpin  dengan kriteria ini diperlukan agar keberadaannya mampu menjaga dan mengelola lingkungan  dengan baik, sehingga kerusakan lingkungan sebagaimana yang dikhawatirkan orang-orang tradisional dulu seperti yang tertuang dalam ungkapan “Leuweung ruksak, cai beak, ra’yat balangsak ” (Hutan rusak, air habis, rakyat sengsara) ini tidak menjadi kenyataan.

Keempat, Dihateupan ku handeuleum (diberi atap oleh “handeuleum”) handeuleum adalah sejenis tumbuhan dalam istilah orang Sunda yang biasa ditemukan di hutan-hutan. Pada kriteria ini, menjelaskan bahwa pemimpin yang baik adalah pemimpin yang taat hukum, atau pemimpin yang dengan tegas menjalankan hukum serta memiliki komitmen untuk menegakan hukum di atas segala-galanya.

Kelima, Ditihangan kuhanjuang (bertiang pohon “hanjuang”) hanjuang adalah sejenis tumbuhan dalam bahasa Sunda yang sering didapatkan di makam/ kuburan sebagai lambing religiusitas.  Point kelima ini menjelaskan bahwa pemimpinan itu harus memiliki kecerdasan spiritual yang disimbolisasikan dengan nomenklatur nyantri. Spiritualitas menjadi harga mati sebagai benteng terakhir agar seorang pemimpin sadar betul bahwa kepemimpinan adalah amanah yang musti dipertanggungjawabkan. Nomenklatur santri mengandaikan seorang pemimpin menjangkarkan setiap langkahnya berada dalam terang religiusitas sehingga dia berpikir seribu kali ketika hendak melakukan tindakan basilat (korupsi). Dan secara umumnya kita mendamba Gubernur dan Wakil gubernur terpilih nanti, mereka adalah yang mampu mengkontekstualisasikan Q.S. Quraisy: 4, dimana mereka mampu memberikan rasa aman dan sejahtera kepada seluruh rakyat Jawa Barat tanpa kecuali (pemerataan) dan itulah sejatinya tugas pemimpin ke depan. Akhir kata penulis mengajak seluruh warga Jawa Barat melalui pesta demokrasi rakyat Jawa Barat nanti, mereka mampu mempersonifikasi dirinya sebagai masyarakat yang cerdas, bertanggungjawab terhadap pilihannya yang dengan sendirinya mereka telah mampu menjaga marwah Daerahnya. Cag..

 

Penulis adalah Ketua Umum BADKO HMI (Himpunan Mahasiswa Indonesia) Jawa Barat  

Jl. Sabang 17 Kota  Bandung 4011 HP. 081 222 999983/ 087722000091/0857 222 122 82

About author

Related articles

0 Comments

No Comments Yet!

You can be first to comment this post!