[Diskusi Secangkir Kopi Panas (10 Tahun Kota Banjar)] Apa yang Menjadi Ciri Khas “Ikon” Kota Banjar?

07/02/2013 0 Comments

Catatan redaksi :

Diskusi Secangkir Kopi Panas, yang menggeluti berbagai persoalan pembangunan di Kota Banjar terus berlangsung mengeluarkan ide pemikiran kritis dan cerdas. Hingga HUT Kota Banjar ke-10, 21 Februari yang akan datang. Mereka semua mengungkapkan fakta, data, analisis dengan lugas tanpa hambatan. Pimpinan Umum HR sebagai pengatur alur diskusi, mengkondisikan sehinga diskusi berlangsung seru kritis namun tetap etis.

Diskusi semacam ini, tak mungkin berlangsung di meja birokrasi kita, karena adanya hambatan cultural dan struktular dalam birokrasi kita. Dua kelompok berhadapan menyampaikan pemikiran yang kerap kali bersebrangan. Kelompok birokrasi muda di Skuad Secangkir Kopi Panas (H. Agus Nugraha M.Si., Asno Sutarno, MP., H. Basir, MP., Dede Tito Ismanto, ME., Eri K Wardhana, ST., dan Dede Suryana, S.IP) sedang Tim Litbang HR Asep Mulyana, MA., dan Racmat, M.Si (mhs program doktor Universitas Brawijaya), dan jajaran redaksi HR dipimpin langsung Pemred Subakti Hamara, SIP. Dalam diskusi “Apa Yang Menjadi Ciri Khas ”Ikon” Kota Banjar ?” terbit pada edisi HR 310. Semakin seru, selamat membaca.

***

Diskusi diawali, Skuad Secangkir Kopi Panas ;

Suatu daerah pasti memiliki ciri khas atau ada yang menjadi ikon daerah itu sendiri. Ikon tersebut bisa berwujud bangunan gedung atau bentuk infrastruktur lainnya, bisa juga berupa makanan khas, buah-buahan, fashion, bisa juga berupa kondisi alam, komunitas dan budaya lokal suatu daerah atau bisa juga berupa sebuah kebijakan yang pro terhadap publik/masyarakat.

Sebagai contoh ikon suatu daerah yang berwujud sebuah bangunan atau infrastruktur lainnya, ketika disebutkan kata Gedung Sate, Gedung Merdeka, Stadion si Jalak Harupat, Jalan Layang Pasupati, Jalan Braga. Bangunan dan jalan tersebut sudah identik dengan Kota Bandung Provinsi Jawa Barat. Ketika yang disebutkan adalah Monas, Masjid Istiqlal, Gelola Bung Karno, orang-orang pasti sudah tersirat dalam benaknya “Ooh.. itu Jakarta”.

Begitu juga dalam hal makanan, buah-buahan dan fashion. Dodol dan Jaket Kulit sudah identik dengan Garut, Tahu identik dengan Sumedang, Apel Malang, Duku Palembang, Brebes dengan Telor Asinnya, Semarang dengan Bandeng Prestonya dan masih banyak contoh lainnya.

Lalu bagaimana dengan ikon Kota Banjar? Setelah hampir sepuluh tahun membangun kotanya sendiri, apakah ada yang menjadi ikon atau ada yang menjadi ciri khas Kota Banjar itu sendiri? Secara geografis memang Kota Banjar minim akan sumber daya alam, tidak ada sumber mata air panas, tidak ada pantai, yang ada hanya bentangan Sungai Citanduy yang membelah Kota Banjar. Oleh karena itu penataan sungai tersebut sudah menjadi keharusan dan itu sudah dimulai sejak periode pertama kepemimpinan DR. dr. H. Herman Sutrisno, MM., sebagai Walikota Banjar bekerja sama dengan BBWS Citanduy dengan menata bantaran sungai menjadi lebih rapih, dilengkapi dengan jogging track yang menghubungkan dari Kawasan Parunglesang sampai Kawasan Wisata Kuliner Doboku, meskipun sekarang kondisinya masih belum seperti yang diharapkan tapi kedepan hal itu harus terwujud agar menjadi salah satu ikon dan daya tarik wisata Kota Banjar.

Secara historis juga, Kota Banjar tidak mempunyai banyak peninggalan gedung-gedung bersejarah, salah satu diantaranya seperti Gedung Delapan, bangunan tua berarsitektur eropa milik PT.KAI itu kondisinya tidak dilestarikan, memang sangat disayangkan.

Dalam hal makanan khas atau produk olahan juga, Kota Banjar belum memiliki yang benar-benar khas. Untuk itu dinas terkait diharapkan dapat menggali dan memaksimalkan potensi yang dimiliki UMKM Kota Banjar, UMKM mana yang produknya dapat dikembangkan agar menjadi keunikan Kota Banjar dan dapat dipasarkan dalam skala nasional atau bahkan ekspor.

Salah satu komoditas pertanian yang patut mendapat perhatian lebih adalah Rambutan Manis “Si Batulawang” yang mulai dibudidayakan sejak tahun 1970 dan mulai tahun 2007 telah dipatenkan oleh Balai Sertifikasi Benih Unggulan di Bogor. Artinya rambutan ini benar-benar khas Kota Banjar dan kedepan bagaimana caranya membranding atau mengembangkan produk olahan berbahan baku Rambutan Si Batulawang ini agar lebih dikenal oleh masyarakat luas.

Selain itu, Kota Banjar memiliki kekhasan lain dalam hal kebijakan yang pro publik sebagaimana empat kebijakan umum pembangunanannya. Pertama, dalam hal Peningkatan IPM, Keberpihakan dan Kemudahan Pelayanan Kepada Masyarakat. Dimana implikasi kebijakan ini membuat pelayanan dasar kesehatan masyarakat menjadi gratis. Semua warga ber-KTP Kota Banjar gratis mendapatkan pelayanan dasar kesehatan di Puskesmas dan RSUD Kelas III.

Implikasi kebijakan kedua dalam hal pembangunan infrastruktur pemerintahan dan ketiga dalam hal penataan kota. Kota Banjar memiliki jalan-jalan dengan kondisi yang bagus, jalan hotmix sampai ke desa yang jarang ditemukan di daerah lain. Kedepan bagaimana caranya memperlebar ruas-ruas jalan yang dirasa masih sempit. Sementara pembangunan fenomenal lainnya seperti Waterpark, Revitalisasi Pasar Banjar, Penataan Lapang Bhakti dirasa belum menunjukan keunikannya.

Dan terakhir, implikasi dari kebijakan penguatan dan pemberdayaan desa/kelurahan membuat anggaran untuk pembangunan desa/kelurahan menjadi besar, rata-rata satu milyar per desa/kelurahan dengan tujuan tiada lain agar akselerasi pembangunan desa/kelurahan melaju cepat karena desa/kelurahan yang kuat adalah basis bagi kota yang kuat.

Agro industri: Wujud komitmen terhadap Visi Agropolitan

Tim Litbang HR & Jajaran Redaksi ;

Sektor pertanian di Kota Banjar merupakan penyumbang PDRB terbesar kedua, setelah perdagangan. Besaran sumbangan PDRB pertanian setiap tahun mengalami terus peningkatan. Produksi di sektor pertanian juga terus meningkat. Fenomena ini terus berlangsung baik sebelum dan sesudah dicanangkan Visi Agropolitan. Itu semua karena adanya kiprah Dinas Pertanian.

Ketika pertanian hanya berfokus pada aspek produksi semata, maka pendapatan petani tidak akan mengalami perubahan yang signifikan. Oleh karena itu, perlu dilakukan berbagai upaya untuk meningkatkan nilai tambah hasil pertanian. Salah satunya mengembangkan agroindustri pedesaan.  Inilah titik kritis yang belum digarap secara serius oleh Kota Banjar.

Agropolitan itu memiliki tiga komponen yang harus dijalankan, yakni agrobisnis, agroindustri dan agrowisata. Jika banjar konsisten dengan visi Agropolitan, maka ketiga komponen itu harus menjadi kenyataan. Basis produksi pertanian sudah ada, bahkan Dinas Pertanian sudah melakukan pewilayahan komoditas. Lokasi-lokasi pemasaran sudah dibuat, seperti pasar agro, pasar Banjar dan sebagainya. Sebagian produk pertanian dari luar Kota Banjar juga diperdagangkan di pasar-pasar Kota. Namun, jika hanya mengandalkan bisnis hasil panen semata tanpa ada pengolahan lebih lanjut, tidak ada nilai tambah. Jadi agroindustri pedesaan harus menjadi perhatian.

Harus diingat, salah satu pertimbangan ditetapkannya Visi Agropolitan bagi Kota Banjar adalah bahwa Kota Banjar dikelilingi oleh daerah yang memiliki potensi pertanian yang besar jika dibandingkan dengan potensi Banjar sendiri. Jadi, jika di Banjar tumbuh agroindustri, pasokan bahan baku, jika dari wilayah sendiri masih kurang, bisa menyerap hasil panen dari daerah sekitar. Dengan agroindustri juga, tenaga kerja di pedesaan bisa diserap.

Banjar, tidak boleh puas sekedar menjadi tempat pengepul komoditas pertanian. Tidak boleh puas hanya sekedar bisa surplus produksi. Selama agroindustri itu belum tumbuh, maka sumbangan sektor pertanian tidak mengubah nasib para petani di Kota Banjar.

Potensi pertanian yang sudah ada harus dikembangkan tidak berhenti di aspek budidaya saja tetapi harus sampai pada peningkatan nilai tambah. Begitupun jika akan menggali potensi yang baru. Banjar punya padi organik, punya pepaya california, punya rambutan sibatulawang dan sebagainya, harus dikelola lebih lanjut untuk mendapatkan nilai tambah. Juga bisa dicoba komoditas lain, seperti buah naga untuk dikembangkan di Kota Banjar.

Sebagai perbandingan, di Kecamatan Bululawang Kabupaten Malang Jawa Timur. ada produksi buah naga. Pengelolaan buah naga dilakukan mulai dari pembibitan, budidaya dan pemasaran. Petani tidak hanya menjual buah naga segar, tetapi juga menjual bibit bahkan membuat minuman  olahan berbahan dasar buah naga, seperi sirup buah naga. Begitu juga di Kota Batu, di sana selain dijual buah apel segar, juga apel tersebut diolah menjadi sirup apel, kripik apel dan sebagainya. Inilah yang disebut dengan nilai tambah. Bagaimana dengan Kota Banjar, sebagai satu-satunya Kota yang menjadikan Agropolitan sebagai Visi pembangunannya?

Industri baik skala kecil maupun besar yang akan ditumbuhkan di Kota Banjar harus dikaitkan dengan pertanian. Jika akan ada investasi, investasi di sektor agro yang harus jadi fokus perhatian. Memang benar, pertumbuhan ekonomi tidak bergantung dari sektor pertanian semata. Dengan atau tanpa ada aktivitas pertanian, perekonomian Kota bisa tumbuh. Akan tetapi kita tidak boleh lupa, Banjar punya Visi Agropolitan. Sebagai bentuk komitmen terhadap visi tersebut, maka pertanian harus menjadi episentrum pembangunan. Kecuali jika visi agropolitan hanya sekedar pelengkap administrasi saat pencalonan sebagai Kepala Daerah, termasuk pencatuman visi dalam RPJMD. Atau jangan-jangan RPJMD sendiri hanya sekedar formalitas. “Banjar-Banjar nu aing, soal pelaksanaan kumaha aing”.

Tidak menutup kemungkinan Agropolitan menjadi ikon kota Banjar selama ada kemauan politik Pemimpinnya, itu kuncinya. Sarana infrastruktur untuk melaksanakan misi agropolitan sudah nampak, jalan sudah bagus, listrik sudah masuk ke pelosok desa, irigasi semakin baik dan bertambah, pasar ada representatif lagi. Tinggal bersinergi SKPD Pemkot Banjar dalam mensosialisasikan yang intensif kepada masyarakat. Juga ciptakan Kota Banjar yang hijau, untuk menjaga lingkungan hidup yang asri. Dan wisatawan yang akan ke pantai Pangandaran bisa singgah, untuk melihat-lihat macam apa itu Agropolitan. Untuk membelanjakan uangnya, membeli oleh-oleh khas Banjar dari hasil pertanian. Harus dikenal oleh masyarakat luas, bahkan sampai terkenal ke luar negeri.

Tentu saja sarana hotel/penginapan tersedia, dengan tempat yang nyaman tersedia hiburan, juga ada wisata kuliner. Ciptakan susana Malioboro mini seperti di Yogyakarta. Bahkan wisatawan kembali dari pantai Pangandaran bisa singgah lagi di Kota Banjar Kota Yang Tak Pernah Tidur. Pengumuman dilelang pemimpin, untuk di Kota Banjar yang mampu menumbuhkan ikon Kota Banjar dan menjadikan rakyat sejahtera. (Adi/ Eva)

About author

Related articles

0 Comments

No Comments Yet!

You can be first to comment this post!

Leave a Reply