(Diskusi Secangkir Kopi Panas) Persepsi dan Dinamika Pembangunan 10 Tahun Kota Banjar

20/02/2013 0 Comments
Suasana diskusi " Secangkir Kopi Panas", Jum'at (15/2), di Kantor Redaski Koran HR, Jalan Kapten Jamhur no 2 Kota Banjar.

Suasana diskusi ” Secangkir Kopi Panas”, Jum’at (15/2), di Kantor Redaksi Koran HR, Jalan Kapten Jamhur no 2 Kota Banjar.

Catatan Redaksi :

Dalam rangka menyambut hari ulang tahun yang ke-10 Kota Banjar, Skuad Secangkir Kopi Panas kembali mengadakan diskusi untuk mencari berbagai solusi dari kompleksitas pembangunan Kota Banjar yang sedang berakselerasi. Ada yang berbeda pada diskusi kali ini, kalau biasanya diskusi berjalan antara Tim Skuad Secangkir Kopi Panas dengan Tim Litbang HR, kali ini kedatangan birokrat senior, yaitu Sekretaris Daerah, drh. H. Yayat Supriyatna dan Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kota Banjar, Ir. H. Tomy Subagja, MM. Yang sebelumnya direncanakan juga kehadiran Asisten Daerah II dan Kepala Dinas Cipta Karya tetapi keduanya berhalangan hadir karena ada acara yang lain.

Disini menerapkan motto ; Persatuan dalam Perbedaan dan Berbeda untuk Bersatu. Diskusi yang seru antara birokrasi senior vs birokrasi muda Pemkot Banjar. Selamat membaca.

***

Pimpinan Umum HR Bachtiar Hamara mengawali diskusi dengan mengangkat sebuah tema “Persepsi dan Dinamika Pembangunan 10 Tahun Kota Banjar”.

Sebagai pembicara pertama yang dipersilahkan untuk menyatakan pendapatnya tentang persepsi dan dinamika pembangunan, drh. H. Yayat Supriyatna yang juga sekaligus ketua panitia HUT Kota Banjar menjelaskan tentang apa yang menjadi hubungan antara tema HUT Kota Banjar ke-10 dengan topik diskusi juga yaitu Banjar Satu Dasawarsa Membangun Karsa dan Karya Menuju Masyarakat Sejahtera.

Bahwa tujuan akhir dari peningkatan status Kota Banjar ini adalah untuk kesejahteraan masyarakat. Meskipun banyak yang menilai bahwa selama 10 tahun ini Kota Banjar berhasil dalam membangun kotanya tetapi ada juga yang berpendapat tidak demikian. Dalam hal ini Sekda Kota Banjar mengajak semua elemen untuk menyikapi dinamika tersebut dengan energi positif, menerima setiap saran dan masukan dan berbuat yang terbaik untuk kemajuan Kota Banjar.

Dari sisi anggaran dan infrastruktur, Kota Banjar sekarang sudah jauh berbeda dengan 10 tahun kebelakang. Pada tahun 2003, Pendapatan Asli Daerah (PAD) masih sekitar 3 milyar dengan total APBD sekitar 70 milyar dan sekarang tahun 2013, PAD sudah mencapai 55 milyar dan APBD mencapai 570 milyar, artinya kemampuan fiskal Kota Banjar terus berkembang.

Dari sisi infrastruktur, Kota Banjar memang dituntut untuk “ngebut” sehingga dalam 10 tahun ini semua infrastruktur kelengkapan kota sudah ada karena untuk mensejajarkan dengan daerah lain. Jadi, secara fisik dalam 10 tahun ini memang banyak perubahan, yang agak sulit adalah pembangunan manusianya (kesejahteraan masyarakat) termasuk didalamnya peningkatan daya beli karena memang dipengaruhi banyak faktor termasuk perubahan mindset (pola pikir) masyarakatnya itu sendiri.

Senada dengan apa yang disampaikan Sekretaris Daerah tadi, Kepala Bappeda Kota Banjar juga mengatakan kenapa pembangunan infrastruktur menjadi prioritas waktu itu. Karena berawal dari bagaimana mempertahankan atau meningkatkan sumber daya manusia yang ada, kalau misalnya SDM yang ada hijrah ke kota besar (urbanisasi) karena kotanya tidak menjanjikan ini akan semakin sulit, dan Kota Banjar sebagai daerah otonom akan terancam dan akan kembali digabung ke Kabupaten Ciamis, kemudian berkembang pemikiran bagaimana Banjar jadi sebuah kota harus menarik bagi warganya, menarik juga bagi siapa pun melewati dengan melengkapi 5 elemen kota; wisma (perumahan yang layak dan mudah), karya (banyaknya lahan pekerjaan), marga (infrastruktur yang bagus), suka (sarana hiburan yang banyak) dan penyempurna (terkait dengan sarana dan prasarana ibadah).

Sehingga muncullah konsep agropolitan yang sudah tertuang dalam Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah (RPJPD) Kota Banjar. Konsep agropolitan yang mendekatkan bentuk-bentuk pelayanan kepada masyarakat. Bagaimana Kota Banjar menyediakan infrastruktur untuk mendukung agropolitan, semua akses jalan dibuka karena Kota Banjar memerankan diri sebagai pusatnya karena ada keinginan untuk mempertahankan sumber daya yang ada untuk tidak keluar Banjar. Jadi ada keinginan untuk satu sisi betul-betul memfungsikan Banjar sebagai agropolitan, bagaimana Kota Banjar menyediakan jasa-jasa atau pusat pelayanan bagi daerah-daerah penghasil yang ada di sekeliling Kota Banjar dan yang kedua untuk mencegah arus urbanisasi, kalau pelayanan di Kota Banjar memang menjanjikan dan memudahkan, maka Banjar akan berkembang dengan sendirinya.

Sebagai embrio awal, Dinas Pertanian melalui program strategisnya sudah menentukan komoditas pilihan. Di bidang tanaman pangan dann holtikultura sudah ditentukan pengembangan beras organik di lahan seluas 90 hektar dan rambutan si batulawang. Begitu juga di bidang peternakan dan perikanannya, kambing pe, sapi, ikan gurame, lele dan udang adalah komoditas pilihan dengan 3 fungsi, fungsi pengembangan teknologi, fungsi pasar dan fungsi agrowisata. Semuanya itu awal untuk pengembangan lebih lanjut untuk membuka akses bagi Kota Banjar sebagai pusat pemasarannya.

Terkait visi “Banjar Agropolitan” tersebut bahwa pemerintah dan semua elemen masyarakat harus paham betul tentang visi jangka panjang tersebut. Pemerintah harus lebih gencar mensosialisasikan visi tersebut untuk menyamakan persepi, karena jangankan di masyarakat, di lingkungan kecil diskusi secangkir kopi panas pun masih ada perbedaan pendapat. Untuk itu, kedepan adalah bagaimana mensinergikan semua program OPD. Perubahan mindset birokrat dengan selalu mengevaluasi program kegiatan strategis dan bagi masyarakat, jangan sampai program bantuan dari OPD tidak berkelanjutan, misalnya kalau diberi bantuan sapi, jangan sampai baru satu tahun sapinya hilang dijual, diberi bantuan modal jangan sampai kredit macet, dsb.

Skuad Secangkir Kopi Panas, umumnya peserta diskusi sepemahaman dengan kedua pembicara Sekda Kota Banjar dan Kepala Bappeda, dalam masalah mindset tidak hanya masyarakat saja yang merubah pola pikir tapi harus dibarengi oleh pola pikir birokrasi juga itu pendapat Skuad Secangkir Kopi Panas. Masalah visi agropolitan, misi berjalan lambat dan tak ada sinergitas diantara OPD di Kota Banjar, nampak sekali dalam menjalankan misi agropolitan berjalan semuanya berjalan masing-masing OPD bergerak tanpa koordinasi. Tidak ada integrasi kegiatan satu sama lain, yang mengarah pada tujuan agropolitan.

Sampai hari ini belum pernah ditemukan blue print atau master plan soal agropolitan di kota Banjar menurut jajaran redaksi HR. Ir Tommy Subagja MM berpandangan, kita harus sepakat visi agropolitan perlu dipertahankan, hanya tinggal mengubah misi-misinya agar tujuan Banjar agropolitan bisa segera berjalan baik RPJPD merupakan Visi 25 tahunan, RPJMD melaksanakan program agropolitan dalam waktu 5 tahunan. Dalam usia kota Banjar 10 tahun ini baru melaksanakan misi 2 kali, masih ada waktu 15 tahun lagi untuk mewujudkan visi agropolitan bila merujuk pada RPJPD (Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah) dan misi agropolitan tertuang dalam RPJMD. Memang masih ada kekurangannya, ucap Tommy. Sedangkan H. Yayat Supriyatna sependapat dengan Tomy. Perlu dicari solusinya, harus melaksanakan evaluasi dari Pemkot Banjar dan gencar melakukan sosialisasi ke masyarakat apa itu agropolitan.

Tidak semua dari Skuad Secangkir Kopi Panas yang setuju visa agropolitan dilanjutkan. Mereka berpendapat Visi Kota Banjar dari agropolitan sebaiknya kembali pada visi kota Perdagangan, Jasa, dan Transit. Perbedaan ini cukup panas beradu argumentasi di antara peserta diskusi disinilah azas demokrasi dipakai. Tomy berpendapat sekarang tidak perlu blue print lagi langsung saja di print out. Semua peserta diskusi tertawa, suasana tegang jadi mencair lagi.

Dari Skuad Secangkir Kopi Panas yang terdiri dari birokrasi muda, (H. Agus Nugraha M.Si., Asno Sutarno, MP., H. Basir, MP., Dede Tito Ismanto, ST, ME., Eri K Wardhana, ST., Asep Barkah, M.Si., Billy Berta, S.Kom., Dede Suryana, SIP., Agus Sarifudin, MM, MT., Dasuki M.Si., David Abdillah Amin ST, MM., dan Wawan Setiawan, M.Si berhalangan hadir karena sakit. Sedangkan yang ditugasi mengedit hasil diskusi ini anggota skuad secangkir kopi panas Dede Tito Ismanto, ST, ME. dan Adi Karyanto, S.IP dari redaksi HR. ***

About author

Related articles

0 Comments

No Comments Yet!

You can be first to comment this post!

Leave a Reply