Lagi, Peredaran Uang Palsu Resahkan Warga

14/02/2013 0 Comments

Banjar, (harapanrakyat.com).- Uang palsu (upal) pecahan Rp.10.000, Rp.50.000, dan Rp.100.000, kembali menyebar di Kota Banjar. Namun, penyebaran kali ini paling sering ditemukan uang upal pecahan Rp.10.000.

Meski nilai nominalnya terbilang kecil, tapi hal itu perlu diwaspadai oleh masyarakat karena dapat merugikan, khususnya bagi para pedagang. Seperti dialami Nono (45), pedagang telur ayam di pasar Banjar.

Dia mengaku kaget setelah tahu ada enam lembar upal pecahan Rp.10.000 di tempat penyimpanan uang dagangannya. Walaupun dampak kerugian yang dialaminya tidak begitu besar, namun Nono kini menjadi lebih teliti menerima uang dari para konsumennya.

“Sebelumnya tidak curiga terhadap enam lembar uang pecahan sepuluh ribu rupiah itu. Tapi setelah diteliti dan membandingkan dengan lembaran sepuluh ribu lainnya terlihat beda. Warnanya kusam dan tidak ada pita pengamannya. Untuk menyakinkan saya cek ke bank, ternyata benar itu uang palsu,” tutur Nono, kepada HR, Minggu (10/2).

Peredaran upal di Kota Banjar saat ini semakin meresahkan masyarakat. Pengedar upal biasanya akan memanfaatkan situasi ketika transaksi jual beli di pasar sedang ramai, atau pada waktu subuh.

Bahkan, peredaran upal sekarang ini sudah masuk ke beberapa retail ternama yang ada di Kota Banjar. Hal itu diungkapkan Iwan (24), bagian kasir di salah satu toko serba ada (toserba).

Dia mengaku, upal yang masuk ke dalam mesin kasir tidak disadari sebab keadaan konsumen sedang ramai. Dia mengetahuinya saat sedang menghitung uang masuk, yakni setelah toko tutup.

“Saya sangat terkejut salah satu lembaran uang pecahan 100.000 palsu terselip diantara lembaran uang dengan pecahan sama. Kami bisa membedakan mana asli dan palsu, sebab secara kasat mata sudah terlihat. Tapi karena sibuk melayani transaksi, jadi kami tidak memperhatikan uang yang diterima dari konsumen,” ujar Iwan.

Dadan (19), masih karyawan toko yang sama, menambahkan, memang peredaran upal sering ditemukan di toko tempatnya bekerja. Kejadian lainnya yaitu ketika dia menyetorkan hasil penjualan ke bank.

Namun saat itu, upal yang ditemukan pihak bank adalah pecahan Rp.50.000. Bila dilihat memang upal tersebut hampir sama dengan aslinya. Tapi, ketika masuk ke dalam alat penghitung uang dengan sinar ultraviolet baru bisa diketahui bahwa uang itu palsu.

Dari serentetan kejadian tersebut, mereka semua mengharapkan agar pihak berwajib bisa menelusuri, sekaligus menangkap pelaku pengedar upal di Kota Banjar. (HND)

About author

Related articles

0 Comments

No Comments Yet!

You can be first to comment this post!

Leave a Reply